Minggu, 14 Maret 2010

Hormon Oxytocin Bermuka Dua

Selasa, 17/11/2009 09:15 WIB

Hormon Oxytocin Bermuka Dua

Nurul Ulfah - detikHealth


img
(Foto: peyroniessociety.org)
Jakarta, Selama ini oxytocin dikenal sebagai hormon pembawa rasa senang yang juga muncul saat orang sedang jatuh cinta. Tapi kini peneliti menduga hormon oxytocin jugalah yang memicu perasaan cemburu dan tamak.

Reputasi hormon oxytocin sering dikaitkan dengan perasaan dan sifat-sifat baik seperti rasa percaya, bahagia, empati dan dermawan. Tapi sekarang hormon itu punya reputasi buruk karena ada kaitannya dengan perasaan cemburu dan tamak.

"Kami menduga hormon itu memicu rasa sentimentil terhadap lingkungan sekitar. Ketika seseorang sedang dalam keadaan positif, hormon itu akan meningkatkan sikap sosial yang tinggi. Tapi jika sedang negatif, hormon itu akan membawa efek sentimen pada lingkungan sosial," ujar Simone Shamay-Tsoory, dari University of Haifa, seperti dikutip dari Healthday, Selasa (17/11/2009).

Hormon oxytocin memegang peranan dalam menghasilkan perasaan gembira. "Biasanya diproduksi saat akan melahirkan atau sedang melakukan seks. Hormon itu juga akan membebaskan seseorang dari perasaan stres," jelas Shamay-Tsoory.

Pada studi sebelumnya, Shamay-tsoory menemukan bahwa tikus yang menghirup oxytocin menjadi lebih agresif. Ia pun menjadi penasaran dan mulai mencoba hal yang sama pada manusia untuk mengetahui apakah hormon itu juga menimbulkan efek yang sama.

Studi akhirnya dilakukan terhadap 56 orang yang menghirup oxytocin dan yang tidak (plasebo). Partisipan kemudian diminta melakukan permainan yang melibatkan dan memperlihatkan perasaan iri, tamak dan cemburu.

Hasilnya, mereka yang menghirup oxytocin ternyata memiliki perasaan iri, tamak dan cemburu yang lebih tinggi dibanding partisipan yang tidak menghirup oxytocin ketika bermain.

"Dengan adanya studi ini, kami berharap bisa menggunakan hormon ini untuk mengobati penyakit, salah satunya mungkin untuk masalah autisme," tutur Shamay-Tsoory. Studi ini dipublikasikan dalam Biological Psychiatry.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar