Sabtu, 30 April 2011

Why Aren't There Tornado Safety Building Codes?

Why Aren't There Tornado Safety Building Codes?

Ads by Google

Tornadoes kill an average of 80 people annually in the Midwest and South, and in some years, many more. The twister death toll this year has already topped 300. By contrast, no one has died in an earthquake in the United States since 2003. While earthquake-proof building codes are becoming ever more stringent for structures built in the country's earthquake zones, why are there no tornado building codes in Tornado Alley?

According to Tim Reinhold, senior vice president for research and chief engineer at the Institute for Business and Home Safety (IBHS) in Tampa, Fla., it comes down to something called the "return period" -- the interval between two disaster events in a given location. Although major tornadoes happen every year, the likelihood they'll happen twice in the same place is very low. "In some areas of California, earthquakes happen tens or hundreds of years apart, and they affect a tremendous area with a lot of properties," Reinhold told Life's Little Mysteries."But for a tornado hitting a particular location in Tornado Alley, you're dealing with return periods of thousands of years."

Earthquake building codes, Reinhold explained, vary between regions, but at their most stringent, they only apply to areas with disaster return periods of 500 to 1,000 years. "Building codes are required for a building that, in any given year, has a 1 in 500 to 1 in 1,000 chance of getting destroyed by an earthquake," he said.

"With tornadoes, because they're relatively small and don't cover very much ground, the chances that a particular building in Tornado Alley would be hit is 1 in 5,000 per year. And within that, the chance that the tornado will be F4 or F5 [the highest levels on the Fujita scale] is even lower. So to make everyone build houses to stand up to that level would be a huge cost increase and we'd all be living in concrete bunkers," Reinhold said.

Whether we're driving, flying in an airplane, or simply living in Tornado Alley, there is always some risk involved in human activities, he pointed out.

Though neither the state nor the federal governments require it, there are precautions people can take to protect themselves in the event of a tornado. "The best thing people can do for personal safety is to put in a storm shelter," Reinhold said. "There is money available from FEMA to help people if they want to build a storm shelter which is designed to withstand 200 mph winds and to resist a two-by-four [piece of wood] hitting the wall at 100 mph. It depends on whether the state is participating as to whether those funds are available."

If people don't want to build storm shelters, "there are guidelines available for what you can do to create a safe area in a home or business as opposed to strengthening a whole house," he said. One example is to strengthen the wood studs in the wall of an inner room.

"FEMA says when a tornado is threatening your area, the key is having a safe place to go and enough time to get there," he said. The National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) broadcasts weather information all across Tornado Alley, so people should keep their radios tuned in, he said.

Follow Natalie Wolchover on Twitter @nattyover.

Minggu, 24 April 2011

Tsunami Jepang 11 Maret Capai 37 Meter

Tsunami Jepang 11 Maret Capai 37 Meter
Meski cukup tinggi, ini bukan tsunami tertinggi dalam sejarah Jepang.
KAMIS, 14 APRIL 2011, 12:38 WIB
Muhammad Firman
Meski gelombang tsunami lalu cukup tinggi, ia bukanlah gelombang tsunami tertinggi yang tercatat pernah menghempas Jepang. Tahun 1896, tsunami 38,2 meter pernah menghantam. (earthquake.it)

VIVAnews - Tsunami Jepang yang dipicu gempa bumi dahsyat pada 11 Maret lalu ternyata mencapai ketinggian hingga 37,9 meter, setidaknya di satu titik tertentu. Diperkirakan, hempasan air setinggi ini cukup untuk merontokkan gedung 10 lantai.

“Kami memperkirakan akan ada bukti-bukti terjadinya gelombang yang lebih besar di kawasan lain,” kata Satoko Oki, seismolog dari Eearthquake Research Institute, Univeristy of Tokyo, seperti dikutip dari Sciencemag, 14 April 2011.

Dari pemantauan yang dilakukan oleh tim dari institut tersebut, ditemukan bahwa terdapat jejak ketinggian air dan bukti lain adanya gelombang raksasa di dermaga Koborinai di Miyako City, prefektur Iwate.

Oki menyebutkan, dari topografi lokal, diketahui bahwa dermaga itu berada di dataran rendah yang diapit oleh dua gunung. Kondisi ini diperkirakan berkontribusi terhadap terbentuknya gelombang tinggi.

Namun demikian, meski gelombang tsunami lalu cukup tinggi, ini bukanlah gelombang tsunami tertinggi yang tercatat pernah menghempas Jepang. Pada tahun 1896 lalu, tsunami setinggi 38,2 meter pernah menghantam pantai selatan dan sepanjang pesisir timur laut negeri itu.

“Kami memperkirakan akan menemui tanda-tanda adanya gelombang lebih tinggi lain saat memperluas survei ke arah selatan,” kata Oki. “Kawasan itu merupakan kawasan yang terhantam berat dan dekat dengan epicentrum gempa,” ucapnya.

Oki dan timnya berharap akan dapat melaporkan hasil temuannya dalam satu pekan ke depan. (umi)

• VIVAnews

Sabtu, 23 April 2011

Asal Muasal Bahasa Manusia Terkuak

Asal Muasal Bahasa Manusia Terkuak
Teguh Prayoga Sudarmanto | Tri Wahono | Senin, 18 April 2011 | 12:18 WIB
SHUTTERSTOCK

KOMPAS.com — Sebuah studi yang baru-baru ini dirilis menguak misteri asal muasal bahasa yang digunakan manusia. Science Magazine edisi 15 April 2011 mengungkapkan, bahasa yang digunakan oleh manusia pertama kali muncul di selatan Afrika. Dari sanalah kemudian bahasa ini menyebar ke seluruh dunia.

Peneliti dari Universitas Auckland, Selandia Baru, Quentin Atkinson, melakukan studi dengan menelusuri rekam jejak bahasa dengan cara memecah 504 bahasa ke dalam komponen terkecilnya yang disebut sebagai fonem. Fonem berasal dari bahasa Latin, phonema, yang berarti suara yang diucapkan. Penelitian menunjukkan, semakin beragamnya fonem yang dimiliki oleh suatu bahasa menunjukan bahasa itu menjadi sumber dari bahasa-bahasa lain yang lebih sedikit memiliki fonem.

Penelitiannya sampai pada kesimpulan bahwa semakin jauh sekelompok manusia berkelana dari Afrika dalam rekam jejak sejarahnya, semakin sedikit fonem yang digunakan dalam bahasa mereka. Ini mengartikan bahwa sebagaimana diprediksikan dalam studi tersebut, bahasa-bahasa di Amerika Selatan dan Kepulauan Pasifik memiliki fonem paling sedikit, sedangkan bahasa-bahasa di Afrika memiliki fonem terbanyak.

Ternyata, pola ini juga memiliki kesamaan dengan studi terhadap genetik manusia. Sebagaimana dipaparkan sebagai peraturan umum, semakin jauh seseorang keluar dari Afrika, yang dianggap secara luas sebagai asal muasal nenek moyang manusia, semakin kecil perbedaan antara individu dalam populasi kelompok individu tersebut bila dibandingkan dengan keragaman di daerah asalnya, Afrika.

Studi Atkinson ini menggunakan metode statistik mutakhir yang sama untuk mengonstruksikan pohon genetik berdasarkan urutan DNA. Mengenai penggunaan metode statistik ini dalam mencari sumber bahasa manusia, seorang ahli bahasa, Brian D Joseph dari Universitas Ohio, mengatakan, sebagai sumber wawasan baru dalam studi di bidangnya.

"Saya rasa kita sudah seharusnya memerhatikan hal ini dengan seirus meskipun masih ada orang yang akan menolaknya," ujar Joseph.

Sebagai informasi tambahan, studi yang dilakukan Atkinson ini unik karena berusaha menemukan akar bahasa dari waktu yang sangat lampau. Tentang umur bahasa pun masih menjadi soal perdebatan karena di lain sisi ditemukan fakta sementara bahwa umur bahasa telah mencapai 50.000 tahun.Namun, di lain sisi beberapa ahli bahasa lain juga masih skeptis dengan fakta sementara itu. Mereka menemukan faktor lain yaitu "perkembangan dari kata-kata yang sangat cepat" sehingga kemungkinan umur bahasa sendiri tidak lebih dari 10.000 tahun lamanya.

Sumber



































Danau Es Ditemukan di Mars

Danau Es Ditemukan di Mars
NASA: Volume CO2 ditemukan 30 kali lipat lebih besar daripada perkiraan sebelumnya.
SABTU, 23 APRIL 2011, 15:12 WIB
Muhammad Chandrataruna

VIVAnews - Badan Antariksa AS, NASA, baru-baru ini menemukan sebuah danau es yang mengering di bawah tanah planet Mars. Danau es tersebut mengandung karbon dioksida lebih besar daripada yang diperkirakan ilmuwan sebelumnya.

Material karbon dioksida yang tersisa itu diduga oleh ilmuwan berasal dari bekas lapisan atmosfer Mars di masa lampau saat planet Merah itu memiliki kondisi yang kondusif untuk kehidupan.

"Ini benar-benar harta karun," kata Jeffrey Plaut, seorang ilmuwan yang bekerja di NASA Jet Propulsion Laboratory, dalam laporannya yang muncul di jurnal Science, seperti dikutip Pravda.ru, Sabtu 23 April 2011.

"Kami menemukan sesuatu di bawah tanah yang tidak pernah disadari oleh siapapun sebelumnya," tandas Plaut.

Temuan ini ditangkap pertama kali oleh radar observasi milik NASA, Mars Reconnaissance Orbiter, yang melayang di atas permukaan Mars. Radar antariksa ini merupakan radar yang diciptakan khusus untuk mencari tahu petunjuk tanda-tanda kehidupan di Mars.

Danau es itu berukuran 3.000 kilometer kubik, atau setara volume Danau Superior. Ia menampung karbon dioksida sangat besar, hingga dua kali massa atmosfer Mars. Jika dibandingkan dengan Bumi, atmosfer Mars memiliki tekanan permukaan kurang dari 1 persen. Dan, sekitar 95 persen udara di Mars adalah karbon dioksida, dibandingkan Bumi hanya memiliki 0,04 persen CO2.

"Kami sudah tahu bahwa ada karbon dioksida di atas sisa es kecil di permukaan Mars. Tapi, yang satu ini volumenya 30 kali lipat lebih banyak ketimbang perkiraan sebelumnya," ujar Roger Philips, ilmuwan lain yang berasal dari Southwest Research Institute di Colorado dan juga menjabat sebagai wakil ketua tim untuk radar Mars Reconnaissance Orbiter.

• VIVAnews

Es Mencair di Kutub, Tinggi Air Laut Naik

Es Mencair di Kutub, Tinggi Air Laut Naik
Jumlah es yang meleleh setiap tahunnya mencapai 92 kilometer kubik.
SABTU, 23 APRIL 2011, 10:50 WIB
Muhammad Chandrataruna

VIVAnews - Meleburnya gletser dan gunung es di kepulauan Artik, bagian utara Kanada, memiliki pengaruh terbesar pada kenaikan permukaan laut di Bumi. Demikian studi terbaru para peneliti di University of Michigan, Kamis 21 April 2011.

Dalam kurun waktu 2004 hingga 2009, kurang lebih 30.000 salju dan es yang menutupi pulau-pulau di Kanada utara meleleh menjadi 363 kilometer kubik air, setara tiga perempat isi Danau Erie, danau terbesar ke-13 di dunia.

Dalam studi yang dilakukan selama enam tahun itu, diketahui bahwa pada tiga tahun pertama, salju atau es yang meleleh sekitar 29 kilometer kubik per tahun secara rata-rata. Sedangkan tiga tahun berikutnya, jumlahnya meningkat hingga 92 kilometer kubik per tahun secara rata-rata.

Sepanjang enam tahun penuh, berdasarkan perhitungan peneliti, melelehnya salju dan es di Kutub Utara menambah tinggi air laut di permukaan Bumi sebesar 1 milimeter.

"Daerah ini (Artika atau Kutub Utara) adalah daerah yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya akan berkontribusi bagi kenaikan permukaan laut," kata Alex Gardner, kepala penelitian dari University of Michigan.

"Sekarang kita menyadari bahwa di luar Antartika atau Kutub Selatan dan Greenland ada wilayah yang juga memberikan kontribusi besar sepanjang tahun 2007 sampai 2009. Daerah ini sangat sensitif. Jika suhu terus meningkat, kita akan melihat bagian es yang besar akan meleleh," jelas dia.

Memang 99 persen wilayah es di Bumi ini berasal dari Antartika dan Greenland. Ukurannya yang besar membuat kedua wilayah tersebut cukup awet. Saat ini, masih tersisa setengah dari seluruh daratan yang dilapisi es sangat tebal. (eh)

• VIVAnews

Studi: Jelaga Percepat Es di Arktika Meleleh

Studi: Jelaga Percepat Es di Arktika Meleleh
Jelaga itu diduga menyerap panas lebih banyak sehingga membuat es di Arktika meleleh.
SABTU, 23 APRIL 2011, 12:36 WIB
Muhammad Chandrataruna

VIVAnews - Sebuah tim peneliti internasional berlabuh ke pulau es dan daratan salju di Kutub Utara atau dikenal dengan Arktika. Mereka mencari jelaga. Meski Arktika tampak sebagai gurun putih yang sangat luas, ilmuwan yakin akan adanya lapisan tipis jelaga walaupun sebagian besar tidak terlihat. Jelaga itu diduga menyerap panas lebih banyak sehingga membuat es di Arktika meleleh.

Jelaga atau sulang merupakan butiran arang yang halus dan lunak yang muncul akibat adanya asap hitam. Disinyalir jelaga ini berasal dari polutan seperti asap pabrik, emisi pesawat terbang, hutan yang terbakar, penggunaan kompor kayu atau batu bara, dan mesin kendaraan bermotor yang digunakan manusia.

Memang lapisan tipis jelaga bukan satu-satunya indikator penyebab es artika meleleh. Naiknya temperatur di permukaan Bumi akibat bocornya lapisan ozon, gletser pegunungan es, dan tingginya tingkat polusi dunia juga mempercepat lajunya lapisan es di Arktika, Antartika, dan Greenland mencair. Namun, menurut peneliti, dampak pemanasan global ini akan dirasakan penghuni Bumi dalam jangka panjang.

"Arktika merupakan pendingin udara di planet ini," kata Patricia Quinn, salah satu peserta penelitian dari National Oceanic and Atmospheric Administration, seperti dikutip VIVAnewsdari AP, Sabtu 23 April 2011.

Dalam beberapa tahun terakhir, Arktika mencatat kehangatan lebih cepat ketimbang daerah lain. "Implikasi pemanasan di Arktika tidak hanya beruang kutub, tetapi untuk seluruh isi planet," ujar Quinn sambil menunjuk ke luar.

Meminimalisir penggunaan karbon dioksida dan gas rumah kaca adalah tulang punggung dari seluruh upaya untuk memerangi pemanasan, termasuk secara global maupun daerah Kutub. Namun, penelitian menunjukkan bahwa pengurangan konsentrasi polutan berumur pendek, seperti jelaga, akan mengurangi laju pemanasan terutama di Kutub Utara dalam jangka panjang lantaran mengendap di atmosfer. "Ini semua tinggal menunggu waktu," pungkas Quinn.

Gumpalan awan hitam dari gletser Eyjafjallajokull di IslandiaMeleburnya gletser dan gunung es di kepulauan Artik, bagian utara Kanada, memiliki pengaruh terbesar pada kenaikan permukaan laut di Bumi. Demikian studi terbaru para peneliti di University of Michigan, Kamis 21 April 2011.

Dalam kurun waktu 2004 hingga 2009, kurang lebih 30.000 salju dan es yang menutupi pulau-pulau di Kanada utara meleleh menjadi 363 kilometer kubik air, setara tiga perempat isi Danau Erie, danau terbesar ke-13 di dunia.

"Daerah ini (Artika atau Kutub Utara) adalah daerah yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya akan berkontribusi bagi kenaikan permukaan laut," kata Alex Gardner, kepala penelitian dari University of Michigan.

"Sekarang kita menyadari bahwa di luar Antartika atau Kutub Selatan dan Greenland ada wilayah yang juga memberikan kontribusi besar sepanjang tahun 2007 sampai 2009. Daerah ini sangat sensitif. Jika suhu terus meningkat, kita akan melihat bagian es yang besar akan meleleh," katanya. (sj)

• VIVAnews