Sabtu, 23 April 2011

Studi: Jelaga Percepat Es di Arktika Meleleh

Studi: Jelaga Percepat Es di Arktika Meleleh
Jelaga itu diduga menyerap panas lebih banyak sehingga membuat es di Arktika meleleh.
SABTU, 23 APRIL 2011, 12:36 WIB
Muhammad Chandrataruna

VIVAnews - Sebuah tim peneliti internasional berlabuh ke pulau es dan daratan salju di Kutub Utara atau dikenal dengan Arktika. Mereka mencari jelaga. Meski Arktika tampak sebagai gurun putih yang sangat luas, ilmuwan yakin akan adanya lapisan tipis jelaga walaupun sebagian besar tidak terlihat. Jelaga itu diduga menyerap panas lebih banyak sehingga membuat es di Arktika meleleh.

Jelaga atau sulang merupakan butiran arang yang halus dan lunak yang muncul akibat adanya asap hitam. Disinyalir jelaga ini berasal dari polutan seperti asap pabrik, emisi pesawat terbang, hutan yang terbakar, penggunaan kompor kayu atau batu bara, dan mesin kendaraan bermotor yang digunakan manusia.

Memang lapisan tipis jelaga bukan satu-satunya indikator penyebab es artika meleleh. Naiknya temperatur di permukaan Bumi akibat bocornya lapisan ozon, gletser pegunungan es, dan tingginya tingkat polusi dunia juga mempercepat lajunya lapisan es di Arktika, Antartika, dan Greenland mencair. Namun, menurut peneliti, dampak pemanasan global ini akan dirasakan penghuni Bumi dalam jangka panjang.

"Arktika merupakan pendingin udara di planet ini," kata Patricia Quinn, salah satu peserta penelitian dari National Oceanic and Atmospheric Administration, seperti dikutip VIVAnewsdari AP, Sabtu 23 April 2011.

Dalam beberapa tahun terakhir, Arktika mencatat kehangatan lebih cepat ketimbang daerah lain. "Implikasi pemanasan di Arktika tidak hanya beruang kutub, tetapi untuk seluruh isi planet," ujar Quinn sambil menunjuk ke luar.

Meminimalisir penggunaan karbon dioksida dan gas rumah kaca adalah tulang punggung dari seluruh upaya untuk memerangi pemanasan, termasuk secara global maupun daerah Kutub. Namun, penelitian menunjukkan bahwa pengurangan konsentrasi polutan berumur pendek, seperti jelaga, akan mengurangi laju pemanasan terutama di Kutub Utara dalam jangka panjang lantaran mengendap di atmosfer. "Ini semua tinggal menunggu waktu," pungkas Quinn.

Gumpalan awan hitam dari gletser Eyjafjallajokull di IslandiaMeleburnya gletser dan gunung es di kepulauan Artik, bagian utara Kanada, memiliki pengaruh terbesar pada kenaikan permukaan laut di Bumi. Demikian studi terbaru para peneliti di University of Michigan, Kamis 21 April 2011.

Dalam kurun waktu 2004 hingga 2009, kurang lebih 30.000 salju dan es yang menutupi pulau-pulau di Kanada utara meleleh menjadi 363 kilometer kubik air, setara tiga perempat isi Danau Erie, danau terbesar ke-13 di dunia.

"Daerah ini (Artika atau Kutub Utara) adalah daerah yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya akan berkontribusi bagi kenaikan permukaan laut," kata Alex Gardner, kepala penelitian dari University of Michigan.

"Sekarang kita menyadari bahwa di luar Antartika atau Kutub Selatan dan Greenland ada wilayah yang juga memberikan kontribusi besar sepanjang tahun 2007 sampai 2009. Daerah ini sangat sensitif. Jika suhu terus meningkat, kita akan melihat bagian es yang besar akan meleleh," katanya. (sj)

• VIVAnews

Tidak ada komentar:

Posting Komentar