Kamis, 31 Maret 2011

VIDEO: Menangkap Tigerfish, Ikan Buas Afrika

VIDEO: Menangkap Tigerfish, Ikan Buas Afrika
Ikan ini sangat jarang dan sulit ditangkap karena tinggal di kawasan yang sulit dijangkau.
RABU, 30 MARET 2011, 13:49 WIB
Muhammad Firman

VIVAnews - Angler Jeremy Wade, seorang pemancing profesional asal Inggris merupakan satu dari sedikit orang yang berhasil menangkaptigerfish. Ia berhasil mengalahkan ikan sepanjang 5 kaki atau sekitar 1,5 meter berbobot 45 kg setelah berupaya menangkapnya selama 8 hari.

“Ikan ini sangat jarang dan sulit ditangkap karena ia tinggal di kawasan yang sangat terpencil dan sulit dijangkau,” kata Wade, seperti dikutip dari River Monsters. “Tidak ada pemandu atau pun penginapan di kawasan sekitar tempat tinggal ikan ini di sungai Congo,” ucapnya.

Wade menyebutkan, ikan ini juga sangat berbahaya untuk ditangkap. “Jika Anda tidak berhati-hati, ia dapat dengan mudah mencopot jari Anda atau lebih buruk lagi,” ucapnya. Berikut video: Tigerfish, Ikan Buas Asal Afrika.

Seperti VIVAnews kabarkan sebelumnya,tigerfish merupakan piranha milik Afrika. Meski datang dari spesies yang sangat berbeda dengan piranha yang hidup di kawasan Amerika Selatan, kedua ikan tersebut terkenal sangat buas saat sedang memburu mangsanya. (umi)

• VIVAnews


Pelajaran dari Pembangkit Nuklir Fukushima

Pelajaran dari Pembangkit Nuklir Fukushima
Pembangunan pembangkit harus mengutamakan sistem keselamatan pasif.
KAMIS, 31 MARET 2011, 05:11 WIB
Hadi Suprapto

VIVAnews - Pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) Fukushima Daiichi, Jepang, bocor paska gempa dan tsunami yang menghantam negeri itu, Jumat 11 Maret 2011.

Deputi Bidang Pengembangan Teknologi Energi Nuklir Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) Adiwardojo mengatakan, saat terkena gempa, pembangkit nuklir Fukushima sebenarnya sudah berhasil non-aktif secara otomatis. Namun, terjangan tsunami menyebabkan kegagalan generator sistem pendingin.

"Banyak pelajaran bisa diambil dari kecelakaan pembangkit ini," kata Adiwardojo seperti dikutip dalam laman resmi Batan, Rabu 30 Maret 2011.

Menurut dia, pelajaran yang bisa diambil bila Indonesia membangun pembangkit nuklir adalah lokasi. Penentuan lokasi yang tepat dan jauh dari gempa, menurut dia, akan mengurangi risiko ledakan pembangkit.

Selain itu, pembangunan pembangkit harus mengutamakan sistem keselamatan pasif. Keselamatan pasif merupakan sistem keselamatan yang tidak memerlukan kontrol manusia. Bila di mobil, fitur keselamatan pasif adalah kantong udara atau air bag, yang akan berfungsi saat kecelakaan terjadi.

Paska kecelakaan di pembangkit nuklir di Chernobyl, Ukraina, dan Three Mile Island, Amerika Serikat, para ahli nuklir selalu mengembangkan tingkat keselamatan PLTN. "Aspek kegempaan dan aspek lainnya, seperti analisis mengenai dampak lingkungan, harus benar-benar diperhatikan," katanya.

Sementara itu, bencana nuklir di Fukushima menjadi pertimbangan pemerintah terhadap pembangunan PLTN. Pemerintah mengalihkan perhatian tambahan sumber pasokan baru dari energi baru terbarukan.

Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 5 tahun 2006, pemerintah menetapkan penggunaan sumber energi tanpa nuklir hingga 2025, yaitu minyak bumi 20 persen, gas bumi 30 persen, batu bara 33 persen, sedangkan panas bumi dan bahan bakar nabati masing-masing 5 persen.

Lalu, penggunaan energi baru terbarukan lainnya seperti mikrohidro, biomassa, nuklir, angin, dan surya sebesar 5 persen, serta batu bara yang dicairkan 2 persen. (art)

• VIVAnews

Tiga Syarat Ketat Indonesia Bangun PLTN

Tiga Syarat Ketat Indonesia Bangun PLTN
Apa saja syaratnya?
RABU, 30 MARET 2011, 18:04 WIB
Syahid Latif, Iwan Kurniawan

VIVAnews - Dewan Energi Nasional (DEN) mensyaratkan tiga hal penting yang harus dipenuhi pemerintah jika tetap menjalankan rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). Tiga syarat itu yaitu aspek keselamatan dan lingkungan, pasrtisipasi publik, dan aspek subsidi oleh publik yang harus dipenuhi agar PLTN bisa lebih pro masyarakat.

”Perkembangan PLTN di dunia, termasuk kejadian di Jepang, menjadi pelajaran penting untuk Indonesia," kata Anggota DEN dari Unsur Pemangku Kepentingan/Pakar Lingkungan Hidup, Mukhtasor di Jakarta, Rabu, 30 Maret 2011.

Menurut Muhtasor, pemerintah harus menempatkan kepentingan publik sebagai prioritas tertinggi dalam rencana pembangunan PLTN. Terlebih lagi, masyarakat sebenarnya ikut membiayai program PLTN melalui dana yang ditanggung publik.

”Sesungguhnya publik telah memberi subsidi yang besar terhadap program PLTN. Sangat penting bahwa program PLTN perlu melibatkan partisipasi publik yang lebih besar, terutama dalam aspek keselamatan dan penilaian kelayakan teknologi dan lokasi PLTN”, kata Mukhtasor menegaskan.

Mukhtasor menjelaskan penyiapan infrastruktur PLTN, mulai dari penyiapan SDM, penelitian dan pengembangan, penyiapan kelembagaan sampai dengan studi kelayakan dibiayai oleh pemerintah dengan dana publik dari APBN. Padahal pembangunan dan pengoperasian PLTN secara komersial menurut UU Ketenaganukliran dilaksanakan oleh Badan Usaha Milik Negara, koperasi dan atau badan swasta.

Dengan langkah tersebut, DEN berharap kejadian ledakan PLTN di Fukushima Jepang dapat dihindari dan keakuratan serta keterbukaan informasi nuklir yang masih menjadi persoalan antara pemerintah dan operator PLTN dapat dihindari.

"Layak ataupun tidak pembangunan PLTN di Indonesia nantinya, kita semua harus berbesar hati. Tidak boleh ada yang ditutup-tutupi. Jangan ada kepentingan lain yang tidak relevan, termasuk kepentingan yang lebih berfihak pada keuntungan bisnis daripada publik,” kata Mukhtasor.

Di sisi lain, DEN juga mengingatkan standar kelayakan PLTN perlu ditingkatkan dengan memperhatikan keandalan teknologi PLTN dan kerawanan bencana di Indonesia.

Sesuai ketentuan perizinan reaktor yang diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 43/2006 disebutkan reaktor nuklir komersial yang telah beroperasi 3 (tiga) tahun secara selamat dengan faktor kapasitas rerata minimal 75 persen digolongkan sebagai teknologi yang teruji. Karena itu ia dapat diberikan izin dibangun di Indonesia.

”Kecelakaan PLTN Jepang terjadi justru pada akhir umur desainnya. Bandingkan dengan kasus energi terbarukan. Dunia internasional saat ini telah berpengalaman mengoperasikan dengan sukses pembangkit listrik arus laut lebih dari 3 (tiga) tahun, dengan potensi bahaya minimal dan harga yang lebih murah daripada pembangkit berbahan bakar minyak. Itu saja masih tidak mudah masuk dan diterima di Indonesia. Ukuran teknologi teruji dalam pembangunan PLTN harus memberi jaminan keselamatan jauh lebih tinggi”, katanya memberikan penekanan.

Dalam hal biaya PLTN, Mukhtasor mengingatkan adanya beban biaya tersembunyi yang sebenarnya harus ditanggung oleh publik. Disamping dana APBN untuk penyiapan infrastruktur dan studi kelayakan PLTN, ada konsekuensi biaya yang tidak tampak namun ditanggung oleh publik.

Menurut Undang-undang Ketenaganukliran, pengusaha instalasi nuklir tidak bertanggungjawab terhadap kerugian nuklir yang disebabkan oleh kecelakaan nuklir yang terjadi karena bencana alam dengan tingkat luar biasa yang melampaui rancangan persayaratan keselamatan yang telah ditetapkan oleh BAPETEN.

”Jadi seumpama kasus Jepang ini terjadi di Indonesia, menurut hemat saya, kerugian kecelakaan nuklir ini akan ditanggung oleh dana publik. Ini tentu kurang mencerminkan istilah harga energi berdasarkan prinsip keenomian berkeadilan yang diatur dalam Undang-undang Energi.” ujar Mukhtasor menegaskan.

Pada bagian lain, sambung Mukhtasor, DEN kini tengah melakukan pemutakhiran Peraturan Presiden 05/2006 tentang Kebijakan Energi Nasional (KEN). Pemanfaatan tenaga nuklir sebagai sumber pembangkit listrik (PLTN) merupakan salah satu program yang menjadi pembahasan dalam pemutakhiran KEN tersebut.

• VIVAnews

Tanpa Nuklir, Ini Alternatif Energi dari ESDM

Tanpa Nuklir, Ini Alternatif Energi dari ESDM
Pasca ledakan PLTN Jepang, Pemerintah sulit membangun PLTN. Darimana sumber baru digali?
RABU, 30 MARET 2011, 17:10 WIB
Syahid Latif, Iwan Kurniawan

VIVAnews - Pemerintah kian sulit mewujudkan rencana membangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) menyusul tragedi bocornya PLTN Fukushima Jepang, setelah bencana gempa dan tsunami. Kini Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mulai mengalihkan perhatian tambahan sumber pasokan baru dari energi baru terbarukan (EBT).

"Bencana di Fukushima akan menjadi pertimbangan pemerintah terhadap pembangunan PLTN," ujar Direktur Bioenergi Kementrian ESDM Maritje Hutapea di Jakarta, Rabu 30 Maret 2011.

Maritje mengungkapkan pemerintah telah membuat skema jika Indonesia nantinya memutuskan tak akan menggunakan PLTN sebagai pasokan energi listrik di Tanah Air. Salah satu skema dipilih pemerintah adalah mempertahankan pangsa EBT tanpa nuklir sebesar 25 persen pada 2025.

Untuk menjalankan skema ini, Kementerian ESDM akan memaksimalkan peran energi panas bumi sebesar 17 Million Ton Oil Equivalent (MTOE) atau kapasitas sebesar 22 Gigawatt (GW).

Selain itu pemerintah juga akan meningkatkan pemanfaatan Coal Bed Metane untuk pembangkit dengan produksi sebesar 14 MTOE atau pemanfaatan tenaga air maupun biomassa untuk wilayah Jawa dan Sumatra.

"jika EBT tidak dapat dicapai secara maksimal maka sebagai pengganti peran PLTN adalah meningkatkan peran energi batubara menjadi sebesar 33,4 persen yang tentunya akan berdampak pada lingkungan karena batubara bukan energi yang bersih," jelas Maritje.

Dalam paparan Kementrian ESDM disebutkan, porsi EBT tanpa nuklir pada 2025 terdiri dari bahan bakar nabati (BBN) 6,7 persen, biomassa sampah 2,4 persen, energi panas bumi 3,9 persen, energi air 5,3 persen, energi laut 0,3 persen, energi matahari 2 persen, energi angin 0,8 persen, dan gas metana batu bara (CBM) 3,7 persen.

Pemerintah juga sudah memproyeksikan porsi EBT tanpa nuklir pada 2050 sebesar 26,8 persen yang terdiri dari BBN 9,7 persen, energi sampah 2,6 persen, energi panas bumi 2 persen, energi air 4,1 persen, energi laut 0,6 persen, energi matahari 1,8 persen, energi angin 0,9 persen, dan gas metana batu bara (CBM) 5,1 persen.

Untuk proyeksi bauran energi fosil tanpa nuklir pada 2050 adalah minyak 16,5 persen, gas 14,3 persen, dan batu bara 42,4 persen. Sedangkan skenario dengan nuklir, porsi minyaknya adalah 16,53 persen, gas 14,29 persen, dan batu bara 39,96 persen.

• VIVAnews

Anak Autis Temukan Teori Relativitas Baru

Selasa, 29 Maret 2011 20:27 WIB

Anak Autis Temukan Teori Relativitas Baru





Anak Autis Temukan Teori Relativitas BaruWartanews-Utah - Anak ajaib, Jacob Barnett, seorang autisme, namun memiliki IQ 170, telah mengejutkan para ilmuwan dan matematikawan dengan kemampuannya menghitung beberapa persamaan paling sulit dibayangkan, saat usia 12 Tahun.

Dengan IQ lebih tinggi dari Albert Einstein, Barnett telah mulai mengikuti kontes perhitungan Einstein dengan teori relativitas sendiri.

Barnett menderita Sindrom Asperger, sebuah bentuk autisme. Bahkan ia tidak bisa berbicara sampai umur dua tahun. Pada usia tiga tahun, Barnett mampu menyelesaikan 5000 potong teka-teki, mengisi notebook dengan perhitungan, mempelajari peta jalan dan membaca setiap jalan raya dan awalan plat dari memori. Pada usia delapan tahun, Barnett mulai mengambil kelas di Universitas Purdue, pada pelajaran astrofisika maju.

Barnett belajar sendiri kalkulus, aljabar, geometri dan trigonometri hanya dalam seminggu. Sekarang, ia mengajari sesama teman sekelas perguruan tinggi, tahun lebih tua dari dirinya. Dia telah mampu memahami konsep paling canggih dalam matematika, sehingga membuatnya menjadi salah satu siswa termuda mendapat gelar penelitian PHD.

Jacob Barnett, tidak puas untuk menghitung ulang yang telah dicapai dan telah menetapkan tujuan baru untuk dirinya sendiri. Barnett menangani sendiri "versi lebih luas dari teori relativitas Einstein." Sebuah email telah dikirim ke profesor Astrofisika Scott Tremaine, untuk mengkonfirmasi keabsahan dari tuduhan matematika Barnett.

Semula, sang Ibu, Kristine Barnett dan beberapa anggota keluarga, tidak yakin akan kemampuan Barnett. Mereka lalu minta bantuan untuk melakukan bedah matematika dan fisika sebagai alasan utama menghubungi Tremaine. Kristine Barnett, berpikir bahwa anaknya mungkin telah mengeluarkan jargon masuk akal, ketika menyampaikan teori kompleks itu.

Tremaine menanggapi email (dikirim oleh ibu Barnett) dan menyatakan, "Saya terkesan dengan minatnya dalam fisika dan jumlah yang telah ia pelajari sejauh ini. Teori bahwa dia bekerja pada beberapa hal melibatkan masalah paling sulit dalam astrofisika dan fisika teori. "

"Siapapun yang memecahkan ini (persamaan matematika) akan sesuai untuk Hadiah Nobel,"ujar Tremaine. (*/abi)

http://www.wartanews.com/read/Techno/deb94f3c-5a15-cf43-5bff-87bdc2d66013/Anak-Autis-Temukan-Teori-Relativitas-Baru

Rabu, 30 Maret 2011

FOTO: Siapa Rekan Bumi di Tata Surya?

FOTO: Siapa Rekan Bumi di Tata Surya?
Matahari adalah objek terbesar, sementara Asteroid Davida merupakan objek terkecil.
RABU, 30 MARET 2011, 11:51 WIB
Muhammad Chandrataruna

VIVAnews - Tata surya mempunyai segudang misteri. Sejak manusia mengirimkan satelit pertamanya (Sputnik 1) ke luar angkasa pada Oktober 1957, kini para ilmuwan mengenali sekitar 88 objek besar di sekitar Bumi. Siapa saja mereka?

Dilansir Kokogiak.com, Rabu 30 Maret 2011, tata surya memiliki satu matahari, empat raksasa planet gas, empat planet terestrial atau menyerupai Bumi, tiga planet mungil, 21 bulan, empat asteroid, dan 51 TNO (Trans-Neptunian objects).

Matahari adalah objek terbesar sekaligus pusat tata surya kita dengan diameter kurang lebih 1.390 miliar kilometer. Sementara objek terkecil adalah asteroid Davida berdiameter 326 kilometer.

Seperti apakah jika tata surya divisualisasikan? Setelah 54 tahun, para ilmuwan coba menggambarkan deretan isi tata surya mulai dari objek terbesar hingga terkecil dihitung berdasarkan diameter.

Setelah Matahari, masih ada Jupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus yang memiliki diameter lebih besar ketimbang Bumi berdiameter 12.742 kilometer. Keempat planet itu tidak bersifat terestrial, melainkan kumpulan gas besar berbentuk lingkaran.

Lebih kecil dari Bumi, terdapat Venus dan Mars, keduanya adalah planet terestrial. Disusul Ganymede (bulan Jupiter), Titan (bulan Saturnus), dan Merkurius, planet terestrial terkecil.



Untuk melihatnya dalam resolusi lebih besar, Anda bisa mengunjungi link berikut ini.

Saat membuat gambar di atas, pertanyaan pertama muncul adalah: ada ratusan bahkan ribuan asteroid berterbangan di ruang angkasa, apakah mereka tak bisa divisualisasikan? Jawabannya, objek-objek yang dipilih tidak sembarangan. Dengan Bumi sebagai sumbu visual, mereka dipilih karena berguna untuk penelitian dan minimal memiliki diameter 200 mil (setara 326 kilometer).

Ini adalah fotografi terbesar yang pernah ada, dibuat di atas sekitar 170 layer. Visualisasi ini kemungkinan akan terus diperbarui seiring munculnya temuan-temuan baru oleh para ilmuwan.

• VIVAnews