Kamis, 11 November 2010

"Burger" Khusus untuk Sapi Korban Merapi

"Burger" Khusus untuk Sapi Korban Merapi
65 Ribu ekor sapi di sekitar Merapi terancam kekurangan pangan. Solusinya muncul: burger.
KAMIS, 11 NOVEMBER 2010, 08:33 WIB
Arfi Bambani Amri

VIVAnews - Bukan hanya manusia yang terancam nyawanya oleh Gunung Merapi di Jawa Tengah-Daerah Istimewa Yogyakarta. Setidaknya, 65 ribu ekor sapi di empat kabupaten, Magelang, Sleman, Klaten, dan Boyolali kini terancam kekurangan pakan dan harus turut serta diungsikan akibat bencana letusan Merapi.

Mengatasi ancaman kekurangan pakan ternak ini, tim peneliti dari Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada berhasil mengembangkan ‘burger’ siap saji untuk sapi-sapi korban Merapi. Para peneliti UGM ini membuat semacam ‘burger’ pakan sapi siap saji dengan bahan baku utama jerami padi (70 %), dedak gandum atau polard (20 %), molase dan larutan mikrobia (10%) untuk membantu proses fermantasi.

"Burger pakan sapi ini merupakan campuran dari berbagai bahan yang diramu sehingga kandungan nutrisinya mencukupi kebutuhan ternak dan tidak perlu tambahan bahan pakan lain termasuk hijauan kecuali air minum," kata Prof. Dr. Ali Agus, D.E,A, salah seorang anggota tim peneliti, dilansir laman UGM.

Dosen Jurusan Nutrisi dan Makanan Ternak, Fakultas Peternakan UGM ini menjelaskan, pemilihan bahan pakan utama berasal dari jerami ini dikarenakan harganya relatif murah dan masih mudah didapat. Bahkan untuk proses fermentasinya saja hanya berlangsung 24 jam (1 hari), sehingga relatif cepat bila dibandingkan teknologi pembuatan pakan silase hijauan yang memerlukan waktu 3 minggu.

Proses fermentasi complete feed alias burger pakan sapi akan berhasil, ditandai dengan aroma yang harum dan tekstur tidak berubah atau masih seperti semula serta tidak timbul jamur. Teknik pembuatannya pun cukup mudah.

Setelah bahan jerami padi dan polard dicampur secara merata kemudian moleases (tetes gula tebu) yang telah dicampur dengan larutan mikroba disiramkan di atasnya secara merata. Kemudian bahan campuran tersebut, dimasukkan dalam plastik ukuran 25-30 kg dan ditali rapat. "Pakan ini dapat disimpan hingga 6 bulan."

Burger pakan sapi ini kini sudah didistribusikan sekitar 2 ton ke lokasi penampungan sapai perah di lapangan Tlogo Adi, Mlati Sleman. Berdasarkan pengamanatan, kata Ali Agus, ternak sapi yang diberi pakan ini cukup disukai ternak. "Kami optimistis apabila teknologi ini diadopsi akan dapat mengurangi masalah kerawanan pakan selaman masa krisis Merapi berlangsung. Tiap hari kini diproduksi sekitar 2 ton pakan burger ini," katanya.

Produksi pakan siap saji ini bisa ditingkatkan secara signifikan. Langkah yang perlu dilakukan dengan melakukan alih teknologi ini kepada peternak dan proses pembuatannya pun bisa dilakukan di lokasi dekat penampungan ternak. "Sambil memberikan aktifitas peternak yang juga pengungsi agar tidak jenuh," ujarnya.

Temuan dari tim peneliti Fakultas Peternakan UGM ini merupakan sebuah solusi untuk mengatasi ancaman kekurangan pakan ternak korban bencana Mencari. Apalagi untuk memenuhi kebutuhan pakan memang tidak mudah. Untuk memenuhi kebutuhan 65 ribuan ekor sapi saja, minimal diperlukan hijauan 1.300 ton/hari apabila setiap ekor membutuhkan rata-rata 20 kg/ekor/hari. Demikian juga untuk kebutuhan pakan konsentrat, apabila setiap ekor rata-rata 5 kg/ekor/ hari, maka diperlukan pakan konsentrat sebanyak 325 ton/hari.

• VIVAnews

Tidak ada komentar:

Posting Komentar