Minggu, 06 September 2009

Gempa dengan Varietas Baru

Sabtu, 05/09/2009 09:41 WIB
Gempa dengan Varietas Baru di Selatan Jawa
Dr Irwan Meilano - suaraPembaca



Jakarta - Pada tanggal 2 September 2009 terjadi gempa dengan magnitude 7.3 (SR) atau 7.0 (Mw) selatan Jawa Barat. Lokasi sumber berjarak 200 km Barat Laut dari lokasi gempa tsunami pada Juli 2006. Getaran gempa dapat dirasakan sampai area yang cukip jauh (Bandung, Jakarta, dan beberapa kota di Jawa Tengah) dari sumbernya.

Mekanisme gempa Jawa Selatan yaitu sesar menaik (thrust) dengan sudut kemiringan 50 derajat. Dengan arah bidang sumber gempa sebesar 55 derajat dari utara. Luas dari bidang gempa yaitu 45 x 20 km dengan pergeseran pada bidang gempa sebesar 1.2 m. Gempa ini tidak menghasilkan tsunami walaupun mekanismenya adalah sesar menaik karena kedalaman sumber gempa yang cukup dalam 50 km.

Karakterisasi gempa pada tanggal 2 September 2009 ini memiliki karakter yang berbeda dengan gempa tsunami Juli 2006 (gempa Pangandaran). Sebagai akibat dari tunjaman lempeng Indo-Australia terhadap lempeng Asia maka terkumpul energi pada bidang kontak tersebut.

Gempa Pangandaran dan juga gempa besar lainnya yang pernah terjadi di selatan Jawa (misal gempa-tsunami Pacitan 1994) juga terjadi pada bidang kontak antar lempeng (interplate earthquake). Tetapi, gempa pada tahun 2009 ini memiliki karakter yang berbeda dan mungkin merupakan varietas baru dari kegempaan di Jawa. Yaitu, gempa di dalam lempeng (intraplate) dan bukan pada bidang kontak lempeng. Gempa ini sangat penting untuk dipelajari karena memiliki implikasi tektonik serta mitigasi bencana gempa di Jawa Barat.

Mengapa gempa ini dikategorikan sebagai gempa di dalam bidang subduksi (intraplate)
dikarenakan:

Pertama, sudut arah dari tunjaman lempeng. Sudut arah ketika lempeng Indo-Australia menghujam lempeng Asia pada umumnya di selatan Jawa yaitu sebesar 110 derajat. Dan, kegempaan besar dengan mekanisme sesar menaik di wilayah selatan Jawa juga memiliki sudut arah kira-kira 110 derajat.

Sedangkan gempa ini memiliki sudut arah yang tidak sejajar dengan arah dari tunjaman lempeng, dan juga juga dengan gempa pada umumnya pada wilayah ini. Sudut arah dari gempa ini yaitu sebesar 50 derajat.

Kedua, kemiringan bidang gempa. Kemirangan bidang gempa dengan mekanisme sesar naik (thrust) di selatan Jawa pada umumnya mengikuti suatu jalur yang diberi nama sebagai benioff zone. Dan, rata-rata sudut kemiringannya yaitu 20 derajat atau lebih kecil. Tergantung pada lokasinya. Tetapi, gempa pada 2 September 2009 ini memiliki kemiringan sebesar 55 derajat sehingga memotong bidang lempeng.

Dapat disimpulkan bahwa gempa pada 2 September 2009 memiliki pola yang berbeda dengan gempa besar yang pernah tercatat di selatan Jawa. Walaupun gempa ini masih terdapat pada zona subduksi tetapi tidak berlokasi pada bidang kontak antar lempeng (interplate). Gempa ini terjadi di dalam lempeng sendiri (intraplate earthquake).

Studi mengenai gempa ini sangatlah penting karena sangat mungkin bahwa kejadian gempa ini membawa pesan bahwa Pulau Jawa berpotensi untuk mengalami gempa di dalam lempeng (intraplate) di masa mendatang.

Dr Irwan Meilano
Dosen Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian Institut Teknologi Bandung.

(msh/msh)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar