Sabtu, 03 Juli 2010

Rinjani Terancam Terpental dari Calon "Geopark" Dunia

Rinjani Terancam Terpental dari Calon "Geopark" Dunia


Mataram (ANTARA) - Taman Nasional Gunung Rinjani di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat, terancam terpental dari calon taman bumi atau "geopark" dunia karena dokumen teknis sebagai berkas pendukungnya belum lengkap.

Ahli Geologi Heryadi Rahmat yang juga mantan Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) membenarkan hal itu ketika dikonfirmasi di Mataram, Sabtu.

"Dokumen teknisnya belum lengkap, kalau pemerintah daerah dan pihak-pihak terkait lainnya tidak melengkapinya, sangat mungkin Rinjani akan terpental dari calon `geopark` dunia," ujarnya.

Ia mengatakan Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) diusulkan menjadi calon "geopark" dunia ke Organisasi PBB untuk bidang Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan (United Nations Educational Scientific and Cultural Organization/UNESCO) karena memiliki sedikitnya lima hal pokok untuk menjadi "geopark global.

Kelima hal pokok itu itu, pertama Gunung Rinjani memiliki nilai warisan geologi penting dari aspek kegunungapian, situs warisan alam berupa kaldera, kerucut-kerucut gunung api muda, lapangan solfatara, mata air panas dan bentangan lainnya yang memiliki nilai estetika tinggi seperti air terjun.

Kedua, situs-situs geologi gunung api mempunyai makna bagi pengembangan ilmu pengetahuan kebumian dan pendidikan. Ketiga, Gunung Rinjani sudah memiliki badan pengelola yakni Rinjani Trekking Management Board (RTMB) yang melibatkan warga lokal secara aktif.

Keempat, penyelenggara pariwisata berbasis geologi yang telah banyak memberi manfaat berupa pertumbuhan ekonomi lokal melalui jasa pemandu, penginapan, rumah makan, transportasi dan penjualan cinderamata.

Sedangkan kelima, sebagai bentuk keberhasilan pengembangan pariwisata karena Gunung Rinjani telah memperoleh tiga penghargaan internasional yakni "World Legacy Award" untuk kategori "Destination Stewardship" dari "Conservation International and National Geographic Traveler" 2004, serta finalis "Tourism for Tomorrow Award" masing-masing tahun 2005 dan 2008.

Usulan tersebut diajukan ke Sekretariat Global Geoparks Network (GGN) UNESCO oleh Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) melalui Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Kembudpar).

"Namun usulan dalam bentuk dokumen teknis Geopark Rinjani itu belum lengkap, misalnya penjelasan atas pertanyaan apakah pengelola Rinjani sudah pernah mengikuti pelatihan khusus, kegiatan ekowisata dan penjelasan lainnya," ujar Heryadi.

Berkas usulan TNGR sebagai "geopark" dunia yang belum lengkap itu berisi data pendukung yang sudah terformat sedemikian rupa sehingga akan menggambarkan potensi calon "geopark" dunia tersebut.

Format berkas pendukung yang disediakan UNESCO itu memiliki bobot 100 hingga 1.000 sesuai daya dukung alam dan potensi calon "geopark".

Ia mengatakan proses pengisiannya pun tidak mudah karena harus memahami berbagai hal yang berkaitan dengan potensi pendukung "geopark".

"Biasanya diisi oleh para ahli dan itu yang dipraktikkan pengelola gua kapur di Pacitan, Jawa Timur dan Gunung Batur di Kintamani, Bali, sehingga relatif lengkap," ujarnya.

Menurut Heryadi ketidaklengkapan dokumen teknis itu mengindikasikan lemahnya pengawalan pemerintah daerah di NTB dan lembaga terkait lainnya dalam memperjuangkan TNGR menjadi "geopark" dunia.

Kendati demikian, Heryadi mengingatkan semua pihak terkait bahwa TNGR masih berpeluang ditetapkan sebagai "geopark" dan akan menambah jumlah "geopark" dunia yang saat ini sebanyak 53 buah dan tersebar di 17 negara di bawah jaringan UNESCO.

"Masih ada peluang, memang berkas pengusulan TNGR sebagai `geopark` dunia belum lengkap sehingga perlu dilengkapi sesegera mungkin," ujarnya.

Potensi TNGR

Pada awal 2009 lalu, TNGR diusulkan untuk dijadikan "geopark" dunia, namun UNESCO meminta dalam pengajuan usulan itu disertakan dua lokasi lainnya yang juga memungkinkan jadi "geopark" sebagai pendamping TNGR.

Namun belakangan TNGR kalah persyaratan jika dibandingkan dengan gua kapur di Pacitan, Jawa Timur dan Gunung Batur di Kintamani, Bali, sehingga dikabarkan TNGR terancam terpental dari calon "geopark" dunia.

Kawasan TNGR di Kabupaten Lombok Barat seluas 12.360 hektare meliputi dua kecamatan dengan 15 desa, Lombok Tengah seluas 6.824 hektare yang mencakup dua kecamatan tersebar pada lima desa, serta Kabupaten Lombok Timur pada tujuh kecamatan yang tersebar di 17 desa dengan luas kawasan 22.146 hektare.

Salah satu pesona unggulan TNGR adalah Danau Segara Anak yang berada pada ketinggian 2.010 meter dari permukaan laut. Danau Segara Anak itu berada di sebagian Gunung Rinjani yang tingginya mencapai 3.726 meter dari permukaan laut.

Untuk mengunjungi Danau Segara Anak dapat melalui dua jalur resmi yakni jalur pendakian Senaru dengan waktu tempuh 7-10 jam berjalan kaki karena jaraknya kurang lebih delapan kilometer, dan jalur Sembalun dengan waktu tempuh relatif sama yakni 8-10 jam.

Pengunjung yang sudah berada di Danau Segara Anak masih membutuhkan waktu 4-5 jam untuk mencapai puncak Gunung Rinjani melalui jalur pendakian yang ditetapkan, namun melewati kawasan hutan.

http://id.news.yahoo.com/antr/20100703/tpl-rinjani-terancam-terpental-dari-calo-cc08abe.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar