Jumat, 09 Juli 2010

Cintai Lingkungan dengan Kantong Ajaib
KAMIS, 3 JUNI 2010 | 15:41 WIB

MAU mulai mengkompos? Kalimat itulah yang ditawarkan anak-anak muda dari Yayasan Pengembangan Biosains dan Bioteknolog (YPBB) dalam kampanye zerowaste dalam sebuah akun facebook mereka, belum lama ini. Beberapa jam setelah status FB itu terpampang tanggapan dari berbagai akun pun bermunculan. Banyak orang ternyata masih peduli dengan lingkungan.

DI akun facebook YPBB, tamu akun yang menerima undangan sebanyak 3.011 akun, sebanyak 2.198 belum menanggapi, 517 menolak, 225 menyatakan mungkin datang, dan 71 akun menyatakan akan hadir dalam acara Bikin (starter) TAKAKURA bareng.


Namun panitia sendiri sudah mempunyai target minimal 15 orang dengan masing-masing peserta dikenakan biaya sebesar Rp 35 ribu. Dan biaya peserta itu sesuai penjelasan panitia untuk penyediaan bahan penyusun Takakura seperti bahan-bahan starter, fasilitas pembuatan starter, file soft copy yang berisi manual penggunaan Takakura dan label penggunaan, skop kecil, stok sekam untuk bantalan sekam, serta snack dan makan siang.

"Kami beryukur peserta yang mendaftar lebih dari target minimal. Yang daftar 20 orang, tapi satu orang tidak hadir. Jumlah ini sangat ideal dengan kondisi tempat yang tidak terlalu besar dan panitia juga orangnya tidak banyak," Anil, Humas YPBB saat ditemui disela kegiatannya Bikin (starter) Takakura bareng di Kantor Detik Bandung Jalan Lombok 33, Sabtu (22/5) siang.

Meski jumlah peserta hanya 19 orang, lanjut Anil cukup mewakili untuk menjadikan para peserta itu sebagai pionir di daerahnya masing. Karena pesertanya cukup beragam, ada ibu rumah tangga, guru, mahasiswa, dan palajar.

Peran yang paling utama dalam pengelolaan sampah memang dibutuhkan kebijakan yang tepat dari pemerintah. Sebelum kebijakan itu dirasakan tepat, setiap keluarga dalam rumah tangga pun bisa berbuat sesuatu untuk mengurangi produksi sampah dari dalam rumah sendiri, serta menjadikannya bermanfaat. Salah satunya dengan cara menyimpan sampah organiknya pada kantong ajaib.

"Upaya pengurangan sampah dengan takakura itu, sesuai penelitinya mampu mengurangi sampah rumah tangga kita sebanyak 70 persen. Caranya cukup sederhana, hanya dua langkah yakni memisahkan dan memanfaatkan sampah," kata Dedi Supriyatna Staf Khusus Divisi Zero Waste YPBB saat ditemui Tribun seusai memberikan arahan Bikin (starter) Takakura bareng kepada peserta di Kantor Detik Bandung, Sabtu (22/5) siang.

Ditambahkan Dedi, komposting Takakura ini prinsipnya tidak jauh beda dengan biopori yang dibuat di halaman rumah. Keduanya berfungsi untuk membuat kompos dan bisa mengurangi volume sampah suatu komunitas. Bedanya hanya cara membuatnya, untuk Takakura dibutuhkan keranjang plastik berpori atau karung plastik atau keranjang bambu seperti tolombong. Lalu dibutuhkan kardus untuk menutup pinggiran dinding keranang, sekam dibungkus kain untuk alas bawah dan penutup atas keranjang sebelum ditutup lembaran kardus, serta bahan starternnya yang terdiri dari tanah gembur, bekatul, sekam dan air gula.

"Kalau biopori kan tinggal menggali lubang saja, dan tidak membutuhkan perhatian seperti Takakura," katanya.

Acara di kantor pemberitaan online Bandung itu cukup mengasyikan. Mereka bekerja sama serius tapi santai. Kelompok anak muda ini pun sudah merencanakan untuk acara selanjutnya yang difokuskan kepada pertemuan lanjutan untuk para pengguna takakura (baik lama maupun baru) berupa sharing dan konsultasi.

Titi, ibu rumah tangga yang menjadi peserta mengaku sangat tertarik karena ini merasa gelisah dengan kondisi lingkungan sekarang ini. Seperti soal sampah, masih banyak orang yang membuang sampah bukan pada tempatnya.
"Maka saat saya bertemu dengan kelompok anak-anak muda ini saat ada pameran di ITB, dan setelah diskusi banyak, saya jadi tertarik. Dan ini merupakan kegiatan ketiga kali yang saya ikuti," tutur warga Ciumbuleuit ini.

Peserta lainnya, Sidik warga Riung Bandung yang masih mahasiswa, juga merasa tertarik. "Meski baru ikut sekali, banyak hal baru saya dapat untuk lebih peduli lingkungan," ungkapnya. (dedy herdiana)


Sudah Ada Sejak Pertengahan 2007
TAKAKURA banyak dikenal orang sebagai keranjang sakti atau mungkin akan lebih enak lagi disebut si kantong ajaib. Karena Takakura adalah suatu alat pengomposan sampah organik untuk skala rumah tangga.

Bentuknya yang praktis, bersih dan tidak berbau, sehingga sangat aman digunakan di rumah. Keranjang ini disebut masyarakat sebagai keranjang sakti karena kemampuannya mengolah sampah organik sangat baik.

Keranjang Takakura dirancang untuk mengolah sampah organik di rumah tangga ini pertama kali dikenalkan berkat keberhasilan peniliti, Mr Koji Takakura yang penilitiannya pada tahun 2008. Ia merupakan utusan Jepang atas kerjasama antara KitakyushuSurabaya tentang mengelola sampah yang dimulai tahun 2001 sampai

2006. Selama itu Takakura dan timnya secara berkala datang ke Surabaya untuk melakukan penelitian dan melaksanakan hasil penelitian itu.Dalam penelitiannya , ia membiakkan bakteri tertentu yang "memakan" sampah organik tanpa menimbulkan bau dan tidak menimbulkan cairan. Ia pun menjadikan sampah rumah tangga. Kemudian sampah dipilah dan dibuat beberapa percobaan untuk menemukan bakteri yang sesuai untuk pengomposan tak berbau dan kering.

Jenis bakteri yang dikembangbiakkan oleh Takakura ini, kemudian dijadikan starter kit bagi keranjang Takakura. Hasil percobaan itu, Mr. Takakura menemukan keranjang yang disebut "Takakura Home Method" yang dilingkungan masyarakat lebih dikenal dengan nama keranjang sakti Takakura.Keberhasilan Mr. Takakura menemukan sistim kompos yang praktis tidak saja memberikan sumbangsih bagi teknologi penguraian sampah organik, tetapi juga menjadi inspirasi bagi pengelolaan sampah berbasis komunitas. (dedy herdiana/berbagai sumber)

Penulis : dedy herdiana Editor : Sujarwo

Tidak ada komentar:

Posting Komentar