Rabu, 05 Mei 2010

Lack of sleep linked to early death: study

Lack of sleep linked to early death: study


Study finds troubling link to lack of sleep (Getty Images)
Lack of sleep linked to early death: studyAFP/File – The foot of a sleeping patient at the Sainte-Anne psychiatric hospital in Paris. People who get less …

LONDON (AFP) – People who get less than six hours sleep per night have an increased risk of dying prematurely, researchers said on Wednesday.

Those who slumbered for less than that amount of time were 12 percent more likely to die early, though researchers also found a link between sleeping more than nine hours and premature death.

"If you sleep little, you can develop diabetes, obesity, hypertension andhigh cholesterol," Francesco Cappuccio, who led research on the subject at Britain's University of Warwick, told AFP.

The study, conducted with the Federico II University in Naples, Italy, aggregated decade-long studies from around the world involving more than 1.3 million people and found "unequivocal evidence of the direct link" between lack of sleep and premature death.

"We think that the relation between little sleep and illness is due to a series of hormonal and metabolical mechanisms," Cappuccio said.

The findings of the study were published in the Sleep journal.

Cappuccio believes the duration of sleep is a public health issue and should be considered as a behaviouralrisk factor by doctors.

"Society pushes us to sleep less and less," Cappuccio said, adding that about 20 percent of the population in the United States and Britain sleeps less than five hours.

Sleeping less than six hours is "more common amongst full-time workers, suggesting that it may be due to societal pressures for longer working hours and more shift work"

The study also found a link between sleeping more than nine hours per night and premature death, but Cappuccio said oversleeping is more likely to be an effect of illness, rather than a cause.

"Doctors never ask how much one sleeps, but that could be an indicator that something is wrong," said Cappuccio, who heads the Sleep, Health and Society Programme at the University of Warwick.

Research showed no adverse effects for those sleeping between six and eight hours per day.

  1. Sleep Journal

Jepang Akan Kirim Robot Maido-kun ke Bulan

Jepang Akan Kirim Robot Maido-kun ke Bulan


VIVAnews - Amerika Serikat jadi negara pertama yang mengirimkan astronot ke Bulan. Kini giliran Jepang ingin mengukir sejarah, negara matahari terbit itu akan mengirim robot humanoid pertama ke Bulan pada 2015.

Saat ini sekelompok insinyur Jepang dari Astro-Technology SOHLA yang berbasis di Osaka, sedang membuat robot dua kaki yang didesain bisa berjalan di permukaan Bulan laiknya manusia.

Tak hanya itu, robot yang diberi nama Maido-kun nantinya akan mengemban tugas istimewa, dia akan menggambar bendera Jepang di permukaan Bulan.

"Kami memutuskan mengirim robot yang berbentuk manusia, karena ini lebih mengagumkan dan menggairahkan bagi kami," kata kepala proyek, Hido Sugimoto kepada Daily Yoimuri, seperti dimuat laman Space.com, Selasa 4 Mei 2010.

"Kami akan membuat robot yang menarik, yang bisa membawa impian kita ke alam semesta."

Tahun lalu, Astro Technology SOHLA berhasil membangun satelit yang dinamai Maido Ichigo. Nama robot, Maido-kun dipilih sebagai penghormatan atas satelit tersebut.

Robot Maido-kun diperkirakan akan memakan dana sekitar 1 triliun yen atau sekitar US$ 10,6 juta.

Pemerintah Jepang dan Badan Antariksa Jepang, JAXA saat ini sedang mempersiapkan pengiriman robot peneliti ke Bulan pada 2015, Astro-Technology SOHLA berharap robotnya bisa ikut ke Bulan.

Sebelumnya JAXA menentang pengiriman robot dua kaki ke Bulan, namun belakangan rencana itu berubah. Para ahli berpendapat robot beroda lebih sesuai dengan permukaan bulan yang berpasir. Robot dengan dua kaki diperkirakan tidak akan stabil berdiri.

Menurut Roger La-Brooy dari Royal Melbourne Institute of Technology Australia, merancang sebuah robot yang berjalan seimbang di atas dua kaki akan menjadi tantangan besar.

"Manusia saja relatif tak stabil, ketika merancang robot untuk menapak di dataran yang tak terduga, saya rasa tiga kaki lebih baik daripada dua," kata dia, seperti dimuat laman News Scientist.

Jika sampai jatuh, robot dua kaki akan sulit bangun.

****

Tak hanya Jepang yang akan menugaskan robot astronotnya. Badan Antariksa Amerika Serikat, NASA, juga akan mendapatkan awak baru di luar angkasa. Berupa robot yang menyerupai manusia.

Robot ini akan dikirim ke luar angkasa tahun ini. Astronot robot bernama Robonaut 2 atau R2 akan menjadi penghuni tetap stasiun luar angkasa internasional.

Astronot robot ini merupakan proyek kerjasama antara NASA dengan General Motors (GM)-- perusahaan mobil asal Amerika Serikat.

Spesifikasi R2 tak sembarangan. Dia harus bisa menjadi asisten dan bekerja bersama manusia, baik astronot di luar angkasa maupung pekerja GM di Bumi.


http://id.news.yahoo.com/viva/20100505/twl-jepang-akan-kirim-robot-maido-kun-ke-cfafc46.html

Dua Kerangka Manusia Prasejarah di Karawang Bertumpuk

Dua Kerangka Manusia Prasejarah di Karawang Bertumpuk


Dua Kerangka Manusia Prasejarah di Karawang Bertumpuk

Karawang (ANTARA) - Dua dari enam kerangka manusia prasejarah yang ditemukan di halaman Candi Blandongan bagian Tenggara, Desa Segaran, Kecamatan Batujaya, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, terlihat bertumpuk dalam satu lubang yang sama.

Koordinator Kabupaten Juru Pelihara Candi Blandongan, Sunarto mengatakan di Karawang, Selasa, enam kerangka manusia prasejarah tersebut ditemukan tim penggalian dari Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Serang, yang bekerja untuk pemugaran Candi Blandongan.

Kerangka manusia itu ditemukan sekitar 25 meter dari bibir tangga candi bagian tenggara.

Keenam kerangka manusia sepanjang 170 centimeter itu berposisi membujur arah timur laut-barat daya. Terkubur di kedalaman sekitar 1 meter dengan posisi berjejer, katanya.

Dari ujung kaki sampai kepala, kerangka manusia itu cukup utuh. Bahkan, senjata jenis logam yang berada di sekitar kerangka itu juga masih utuh. Di dekat kerangka, ditemukan pula sejumlah gerabah yang diduga menjadi bekal kubur manusia prasejarah tersebut.

Kondisi gerabah itu sudah pecah saat tim penggalian dari Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Serang menemukan kerangka manusia prasejarah tersebut.

"Dari kerangka manusia yang berjejer itu, jarak antara kerangka yang satu dengan lainnya sekitar 90 centimeter," kata Sunarto.

Dikatakannya, penemuan kerangka manusia prasejarah itu tidak disengaja saat tim penggali melakukan strukturisasi Candi Blandongan sejak pertengahan April 2010. Tetapi, karena ditemukan kerangka tersebut, maka tim penggali menyelesaikan penggalian kerangka itu terlebih dahulu.

Pada awalnya, sekitar dua pekan lalu, para petugas melakukan penggalian halaman candi terkait dengan kegiatan pemugaran atau strukturisasi candi. Tetapi ketika melakukan penggalian tanah di halaman candi bagian tenggara, titik koordinasi G-9, ditemukan kerangka manusia.

"Pada awalnya, ditemukan kerangka lutut, tetapi setelah penggalian dilanjutkan, kerangka manusia itu terlihat utuh dari kepala sampai kaki. Di antara kerangka itu terdapat senjata jenis logam yang berada di bagian dada kerangka," kata Sunarto.

Pada akhirnya, di halaman candi bagian tenggara itu terdapat enam kerangka manusia yang diduga berasal dari masa prasejarah. Satu dari enam kerangka tersebut menumpuk dalam satu kubur, sehingga terlihat lebih panjang. Sedangkan kerangka lainnya rata-rata sepanjang 170 centi meter.

http://id.news.yahoo.com/antr/20100504/tpl-dua-kerangka-manusia-prasejarah-di-k-cc08abe.html

Telepon Genggam Vs Kesehatan

Telepon Genggam Vs Kesehatan


Telepon Genggam Vs Kesehatan

Oleh : Ester Lince Napitupulu

Penggunaan telepon genggam di dunia terus meluas. Menurut International Telecommunication Union, pemakai telepon genggam tahun ini diperkirakan mencapai lima miliar. Manusia semakin sulit lepas dari genggaman telepon genggam di kesehariannya.

Kenyataan ini memicu kekhawatiran akan dampak jangka panjang radiasi akibat penggunaan telepon genggam terhadap kesehatan. Dugaan dampak radiasi telepon genggam terhadap kesehatan ini dimunculkan banyak peneliti dari sejumlah negara. Penelitian yang luas dilakukan menyebutkan, penyakit yang diduga berkaitan dengan penggunaan telepon genggam antara lain kanker, terutama kanker otak, serta penyakit yang berhubungan dengan saraf, tumor mata, hingga alzheimer.

Namun, penelitian seputar dampak penggunaan telepon genggam terhadap kesehatan, terutama peningkatan angka kejadian kanker, masih pro-kontra. Kesimpulan akan dampak radiasi gelombang mikro dari telepon genggam itu dinilai sumir karena teknologi telepon genggam ke depan masih terus berkembang.

Studi lainnya adalah kaitan antara penggunaan telepon genggam dan peningkatan kasus kecelakaan bermotor. Penggunaan telepon genggam saat menyetir dapat mengganggu konsentrasi yang mengakibatkan mudahnya terjadi kecelakaan yang merenggut jiwa.

Penelitian itu kemudian didukung dengan pelarangan penggunaan telepon genggam di jalan raya. Di Indonesia, pelarangan juga sudah diberlakukan meskipun pada kenyataannya tanpa pengawasan yang ketat.

Tetapi dalam kaitan kesehatan, seperti tumor otak, kanker kulit, atau penyakit-penyakit yang berkaitan dengan saraf masih belum ada titik temu meskipun dampak kesehatan itu dilihat dari penggunaan telepon genggam yang memperhitungkan lamanya seseorang menggunakan telepon genggam.

Di tengah upaya untuk memecahkan misteri dampak penggunaan telepon genggam dengan kesehatan jangka panjang, peneliti Inggris meluncurkan program penelitian terbesar di dunia pada akhir April lalu. Penelitian yang memakan waktu 20-30 tahun ke depan itu diyakini bisa jadi studi yang semakin obyektif untuk menganalisis dampak penggunaan telepon genggam pada kesehatan penggunanya akibat radiasi.

Studi terbesar di dunia tentang keamanan penggunaan telepon genggam itu bakal merekrut 250.000 pengguna telepon genggam di lima negara di Eropa. Pengguna yang diteliti dari Inggris, Finlandia, Denmark, Swedia, dan Belanda.

Prof Lawrie Challis, anggota peneliti, mengatakan, studi ini penting. ”Kami belum bisa mengatakan dengan pasti bahwa telepon genggam memicu kanker. Bukti-bukti yang ada belum kuat,” kata Challis.

Dalam silang pendapat di antara ilmuwan tersebut, dari sekarang perlu diambil langkah untuk memonitor pengaruh telepon genggam pada kesehatan. Hasilnya akan dinilai obyektif karena pengguna yang dipantau jumlahnya besar dan diamati dalam jangka waktu lama.

Mireille Toledano dari Imperial College London menjelaskan, studi ini bukan cuma diarahkan untuk kanker otak. Sebab, penggunaan telepon genggam amat beragam termasuk berselancar di situs internet, yang berarti telepon tidak selalu di kepala.

Yang akan dilihat juga adalah kaitannya pada masalah kesehatan yang lebih luas, termasuk bentuk lain dari kanker, seperti kanker kulit, dan penyakit otak lainnya, seperti penyakit neurodegenerative.

Dalam kaitan penelitian ini, yang dimasalahkan adalah biasanya tergantung pada berapa banyak penggunaan telepon genggam. Penggunaan telepon genggam akan dicatat detail.

Peneliti juga akan memonitor WIFI, telepon tanpa kabel dan penggunaan monitor bayi oleh peserta sebaik dengan penggunaan teknologi yang bergerak, untuk mendapatkan gambaran yang lengkap tentang terpaan pada semua radiasi tipe elektromagnetik.

Beberapa penelitian

Sejumlah penelitian yang berlangsung antara lain tentang pengaruh penggunaan telepon genggam pada tumor otak, yang dilakukan selama empat tahun oleh Universitas Leeds, Nottingham, dan Universitas Manchester and Institute of Cancer Research, London. Tahun 2006, peneliti Inggris mengatakan, tidak ada kaitan antara penggunaan telepon genggam dan meningkatnya angka kejadian tumor otak glioma yang biasa terjadi di otak atau tulang belakang.

Andreas Stang dari Martin Luther University of Halle Wittenberg di Jerman dan koleganya melakukan percobaan menguji hubungan antara penggunaan telepon genggam dan risiko uveal melanoma pada 459 pasien dan 1.194 pengontrol.

Mereka dikelompokkan menurut jumlah penggunaan waktu menelepon, tidak pernah menggunakan, pengguna sporadis, dan pengguna reguler. Tidak ada data signifikan antara penggunaan telepon sampai 10 tahun. ”Kami mengamati tidak ada peningkatan angka kejadian uveal melanoma di antara pengguna telepon genggam atau peralatan radio di Jerman, di mana teknologi telepon digital dikenalkan awal 1990-an,” katanya.

Peneliti lain menemukan ada banyak anak muda yang mengeluhkan sakit di ibu jari, leher, dan tangan saat mengetik pesan layanan pesan singkat (SMS). Studi itu dilakukan Sahlgrenska Academy, University of Gothenburg, Swedia. Untuk mengatasi, perlu dilihat penyebabnya seberapa sering pengguna memakai keypad telepon yang kecil. Juga perlu diperhatikan postur tubuh dan jangan mengetik dengan satu ibu jari.

Bagi mereka yang gemar ber-SMS dalam waktu lama, disarankan jangan duduk dengan posisi sama dalam waktu lama. Perlu juga meregangkan jemari dan menggunakan dua ibu jari.

Memang belum ditemukan bukti kuat pengaruh kesehatan pada pengguna telepon genggam anak-anak dan orang dewasa. Para ahli menyarankan penggunaan telepon genggam untuk anak-anak mesti dibatasi. Anak-anak dalam pandangan sejumlah peneliti mudah diserang radiasi microwave karena saraf-saraf mereka masih berkembang, sementara tengkorak mereka masih tipis dibandingkan dengan orang dewasa.

Radiasi yang ditransmisikan telepon genggam bukan radiasi sinar-X, tetapi radiasi microwave. Sebagian ilmuwan khawatir akibat radiasi itu bisa menghancurkan sel-sel otak karena telepon dipakai dekat ke kepala.

Dari studi oleh Pusat Studi Pendidikan Universitas Sheffield Hallam, Inggris, ditemukan 90 persen anak di bawah usia 16 tahun memiliki telepon genggam pribadi dan satu dari 10 menghabiskan waktu lebih dari 45 menit memakainya. Penggunaan SMS di kalangan anak-anak juga tinggi.

Dalam situasi tak pasti disarankan setiap orang berupaya meminimalkan terpaan radiasi dari telepon genggam.

Penggunaan telepon genggam sebisa mungkin jangan sampai membuat ketergantungan yang berlebihan karena bisa memicu stres yang suatu saat juga bisa juga memicu kanker. Disarankan penggunaan hands free saat bercakap-cakap guna meminimalkan radiasi ke otak.


http://id.news.yahoo.com/kmps/20100505/tls-telepon-genggam-vs-kesehatan-8d16233.html

Mendeteksi Makanan Mengadung Babi

Mendeteksi Makanan Mengadung Babi


Mendeteksi Makanan Mengadung Babi

ALMATY, KOMPAS.com - Pengusaha restoran di Kazakhstan sering kali mencampurkan daging babi pada masakannya agar menjadi lebih murah. Padahal, penduduk Kazakhstan sebagian besar Muslim.

Praktik para pengusaha restoran ini akan berkurang beberapa saat lagi. Pasalnya, para ilmuwan di Almaty, ibu kota Kazakhstan, telah menemukan sebuah alat untuk mendeteksi apakah sepiring makanan mengandung babi atau tidak.

Alat itu berupa batang plastik pendek yang dapat mendeteksi apakah makanan itu mengandung molekul yang hanya terdapat di dalam tubuh babi atau tidak. Caranya mudah. Masukkan saja sedikit daging ke dalam air, aduk, dan tunggu satu hingga dua menit, lalu masukkan batang plastik itu. Tidak lama, warna dalam batang plastik itu akan berubah, mengindikasikan apakah masakan itu mengandung babi atau tidak.

Harian Megapolis menyatakan, belum jelas kapan alat yang bentuknya seperti alat tes kehamilan itu akan beredar di pasaran. Boleh juga nih.

Selasa, 04 Mei 2010

BlackBerry Sudah Diramal Sejak Seabad Lalu

Rabu, 05/05/2010 09:06 WIB

BlackBerry Sudah Diramal Sejak Seabad Lalu
Febrina Ayu Scottiati - detikinet

Nikola Tesla (Ist.)

Jakarta - Fenomena BlackBerry rupanya sudah diramalkan oleh seorang ahli fisika kelahiran Serbia bernama Nikola Tesla lebih dari 100 tahun lalu. Ia membuat prediksi soal layanan olah pesan portabel di majalah Popular Mechanics pada tahun 1909.

Tesla yang namanya kini digunakan perusahaan Tesla Motors -- sebuah perusahaan yang memproduksi mobil listrik -- melihat bahwa energi nirkabel sebagai salah satu cara untuk mengembangkan kekuatan listrik.

Ia menulis bahwa suatu hari nanti orang bisa mengirimkan email tanpa kabel di seluruh dunia. Ia membayangkan akan ada perangkat genggam yang mudah digunakan dan semua orang bisa berkomunikasi dengan alat itu.

"Ini adalah era baru teknologi," tulis Tesla.

Majalah yang sudah menerbitkan sembilan edisi internasional itu memang sejak awal terus mencoba membayangkan bagaimana kecanggihan teknologi di masa depan. Seperti dikutipdetikINET dari Telegraph, Rabu (5/5/2010), majalah ini pertama kali terbit pada bulan Januari tahun 1902.

"Nikola Tesla mampu memprediksi teknologi baru yang akan lahir seratus tahun kemudian," kata Seth Porges, editor teknologi majalah ini.

"Dia banyak berbicara tentang kekuatan nirkabel. Butuh waktu lama untuk mewujudkan semuanya. Tapi yang cukup menarik kini sudah banyak pusat penelitian seperti MIT (Massachusetts Institute Technology), Intel dan pusat penelitian lainnya", tambahnya.

Sebenarnya ada beberapa prediksi lain yang dibawa dari masa lalu oleh para analis lainnya. Hanya saja sebagian besar di antaranya masih jauh dari kenyataan untuk saat ini. Seperti mobil terbang, bandara yang diletakkan di atas gedung luas, bahkan oven yang bisa jadi hairdryer.

Pada pertengahan abad 20, seorang penulis di majalah lain juga memprediksi bahwa suatu saat nanti kereta api yang diangkat menggunakan balon udara bisa digunakan untuk menjelajah seluruh dunia dan helm pemadam kebakaran yang bisa menyemprotkan air. ( ash / ash )

Senin, 03 Mei 2010

Matahari Bergeser, Mei Jadi Bulan Terpanas

Matahari Bergeser, Mei Jadi Bulan Terpanas

Senin, 03 Mei 2010, 20:18 WIB

JAKARTA--Kondisi cuaca sangat panas mulai Maret dan memuncak pada Mei yang dirasakan masyarakat di khatulistiwa disebabkan saat ini matahari sedang bergeser dari selatan ke utara, kata Pakar Astronomi Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional Thomas Djamaluddin.

"Pola pemanasan berubah. Wilayah paling panas ada di sekitar khatulistiwa, di Indonesia. Angin cenderung berputar di sekitar wilayah Indonesia. Tidak ada efek pendinginan dari wilayah lain," kata Djamalluddin yang dikonfirmasi dari Jakarta, Senin.

Hal tersebut, katanya, berdampak Maret-April menjadi bulan terpanas. Menurut dia, saat pancaroba dari kemarau ke penghujan yakni pada September - Oktober pun akan menjadi bulan yang panas melebih saat kemarau seperti juga saat pancaroba dari musim penghujan ke kemarau pada Maret-Mei.

Selain itu, kondisi regional juga harus diperhatikan yang kadang memberi efek penguatan, ujarnya. Saat awal April 2010 ada efek gabungan El Nino di Pasifik, Dipole Mode di Lautan Hindia, dan siklus periodik MJO (Madden-Julian Oscillation) aktif yang bersifat menekan pembentukan awan di wilayah Indonesia, ujarnya.
"Efek gabungan itu cenderung mengurangi liputan awan di wilayah Indonesia. Akibatnya pada siang hari kita merasakan panas yang sangat terik," katanya.

Selain itu, ujarnya, ada juga dampak perubahan iklim lokal seperti perubahan tataguna lahan dan aktivitas manusia yang berdampak pada pemanasan kota misalnya pepohonan banyak ditebang berubah menjadi bangunan dan pelataran berlapis semen, maka permukaan bumi menyerap panas lebih efektif. "Panas tersebut dipancar lagi ke atas sebagai gelombang panas inframerah. Sebagai fenomena sesaat, kita bisa merasakan perbedaan panas di wilayah yang masih banyak pohonnya dan wilayah yang tanpa atau sedikit pohonnya," katanya.


Ia menambahkan, pemanasan itu bukan hanya sesaat karena ada proses lanjutannya di mana panas itu tersimpan. Sebenarnya pancaran gelombang panas itu bermanfaat menghangatkan bumi saat matahari sudah terbenam, tetapi karena bertambahnya gas karbondioksida (CO2) di udara perkotaan akibat kendaraan bermotor dan industri serta aktivitas manusia lainnya, maka lebih banyak panas yang ditahan.

"Karbon dioksida memang bersifat menyerap inframerah yang berarti menahan panas. Akibatnya kota semakin panas," katanya. Ia membantah berita yang dikirim secara berantai melalui pesan singkat mengenai matahari yang sedang pada titik terdekat dengan bumi sehingga meningkatkan suhu bumi sebesar empat derajat.

Red: taufik rachman
Sumber: antara