Tampilkan postingan dengan label satelit. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label satelit. Tampilkan semua postingan

Jumat, 02 Juli 2010

Tahun Ini, Roket LAPAN Luncurkan Satelit

Tahun Ini, Roket LAPAN Luncurkan Satelit
Minggu, 27 Juni 2010 | 21:49 WIB
LAPAN
Roket dan peluncurnya buatan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN).
TERKAIT:

BANTUL, KOMPAS.com - Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional menargetkan pada 2010 sudah mampu mengorbitkan satelit sendiri. Demikian kata Kepala Pusat Teknologi Terapan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Dr Rika Andiarti di sela penyelenggaraan Kompetisi Roket Indonesia (Korindo) 2010 di Pantai Pandansimo, Bantul, Yogyakarta.

"Saat ini kami sedang mempersiapkan dengan matang rencana peluncuran roket pengorbit satelit. Saat ini mungkin baru akan meluncurkan satelit "Nano" dengan berat di bawah 10 kilogram," katanya, Sabtu (26/6/2010).

Menurut Rika Andiarti, satelit "nano" ini dapat difungsikan untuk pemantauan suhu udara maupun kelembabab udara dan data kecil atau sederhana yang disesuaikan dengan kemampuan satelit. "Ke depan kami targetkan mampu mengorbitkan satelit berukuran besar seperti yang digunakan untuk keperluan telekomunikasi dan lainnya," katanya.

Ia mengatakan, pihaknya saat ini sedang melakukan berbagai persiapan uji coba peluncuran roket pengorbit satelit. "Lima tahun ke depan kami harus sudah mampu memproduksi roket peluncur satelit berukuran besar, sehingga Indonesia tidak lagi meminta bantuan negara lain untuk mengorbitkan satelit," kata Rika .

Jamin keamanan

Sementara itu, Wakil Dekan Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta Prof Dr Djamasri menambahkan, dengan mengorbitkan sendiri satelit maka keamanan negara akan lebih terjamin. "Saat ini Indonesia masih meminta bantuan negara lain untuk mengorbitkan satelit, dan ini sangat rawan karena muatan roket dan satelit bisa disusupi kepentingan negara pengorbit satelit," katanya.

Profesor Djamasri mengatakan, teknologi kedirgantaraan khusunya tentang roket sangat bermanfaat dan bisa untuk berbagai kepentingan seperti mitgasi bencana. Teknologi kedirgantaraan juga sangat mendukung untuk kepentingan pertahanan Indonesia .

"Jika dari Pantai Pandansimo, Kabupaten Bantul kita mampu membuat roket dengan daya luncur antara 3.000 hingga 5.000 kilometer maka pertahanan akan semakin kokoh dan negara lain tidak akan seenaknya," katanya.

Penulis: WAH | Editor: wah | Sumber : ANT

http://sains.kompas.com/read/2010/06/27/21491083/Tahun.Ini..Roket.LAPAN.Luncurkan.Satelit

Jumat, 05 Maret 2010

Badai Matahari 2012 Ancam Satelit

Selasa, 09/02/2010 13:30 WIB

Badai Matahari 2012 Ancam Satelit
Ardhi Suryadhi - detikinet

ilustrasi (ist)

Jakarta - Kekhawatiran sejumlah masyarakat akan adanya aktivitas berlebih matahari pada tahun 2012 diprediksi benar adanya. Ini merupakan siklus matahari yang biasa terjadi 11 tahun sekali. Berbahaya kah?

Menurut Clara Yono Yatini, Kepala Bidang Matahari Antariksa LAPAN, siklus rutin ini menunjukkan adanya masa awal, puncak dan akhir siklus. Nah, aktivitas matahari saat awal dan akhir siklus cenderung tenang. Sebaliknya, puncak aktivitas matahari terjadi saat siklus matahari mencapai puncaknya.

Biasanya saat masa puncak tersebut, terjadi aktivitas berlebih di matahari. Mulai dari bintik matahari (sunspot), lidah api (flare) dan badai matahari.

"Ini tentu mempengaruhi kondisi cuaca antariksa, termasuk menyebabkan gangguan di bumi," ujar Clara.

Namun, lanjutnya, efeknya bagi manusia tidak secara langsung dan tidak menjadi akhir dari peradaban manusia.

"Paling hanya gangguan satelit. Teknologi yang lebih akan mengalami kerugian, bukan ke manusia," jelasnya, ketika berbicara dalam sebuah seminar yang berlangsung di Universitas Negeri Jakarta, Selasa (9/1/2010).

Ia menambahkan, saat ini matahari sedang mengalami siklus ke-24. Diperkirakan puncak siklus terjadi pada tahun 2012-2013.

"Namun puncak siklus tak selalu harus terjadi badai matahari. Untuk saat ini pun masih terlalu dini untuk memprediksinya," tukasnya.

Kalaupun memang nanti terjadi, masyarakat pun jangan lantas panik. Sebab, bumi sudah memiliki tameng pelindung bernama magnetosfer. Lapisan inilah yang menjadi penghalau ketika partikel-partikel matahari dimuntahkan dan mengarah ke bumi.

Selain itu, jarak antara bumi dan matahari terbilang jauh. Yakni mencapai 150 juta kilometer. "Usia matahari pun belum terlalu tua, baru berumur 4,5 miliar tahun. Ini masih terbilang muda," kata Clara.
( ash / faw )

Minggu, 16 Agustus 2009

Roket Peluncur Satelit

Tahun 2014, Indonesia Punya Roket Peluncur Satelit
RX 320, Roket Lapan bergaris-tengah 320 mm mulai meluncur dalam uji peluncuran di Pameungpeuk, Garut, Jawa Barat, Rabu (2/7).

KAMIS, 30 JULI 2009 | 08:28 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Lima tahun lagi, Indonesia akan memiliki teknologi roket peluncur satelit sendiri. Ini sesuai target Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) yang menargetkan dapat meluncurkan roket pendorong satelit bertingkat empat yang disebut dengan Roket Pendorong Satelit (RPS)-420 untuk pertama kalinya pada 2014.

"Namun, Lapan akan berupaya agar proses peluncuran itu dapat dimajukan pada 2012 sebagaimana yang diminta DPR," kata Deputi Teknologi Dirgantara Lapan Dr Ing Soewarto Harhienata dalam seminar "Diseminasi Perkembangan Roket dan Satelit di Indonesia" di Kantor Lapan, Jakarta, Rabu (29/7).

Soewarto menjelaskan, pihaknya sedang merancang roket bertingkat empat dengan dua RPS guna meluncurkan satelit pemantau Indonesia pada 2014. Sebagai pendahuluan, Lapan telah berhasil meluncurkan roket RX-320 pada 30 Mei 2008 dan RX-420, 2 Juli 2009, yang dilaksanakan di Stasiun Uji Terbang Pamengpeuk, Jawa Barat.

Hingga saat ini, sebagian proses pembuatan RPS-420 itu telah dilaksanakan dan telah diujiterbangkan meski masih membutuhkan beberapa perbaikan lagi. "Kalau secara persentase (RPS-420 itu) sudah selesai kira-kira 40 persen," katanya.

Tergantung pembiayaan

Karena proses pembuatan RPS-420 itu dianggap lancar, DPR meminta Lapan untuk mempercepat rencana peluncurannya. Kata Soewarto, DPR meminta Lapan untuk mengajukan proposal pembiayaan agar proses peluncuran itu dipercepat dan sudah dapat terealisasi pada 2012.

"DPR sudah mengetahui tidak ada masalah di bidang teknologi (persiapan RPS-420 itu), tetapi hanya di bidang pembiayaan," kata Soewarto.

RPS-420 itu diproyeksikan terlebih dulu pada kemampuan untuk mengorbitkan satelit di antariksa, tapi belum memuat peralatan untuk pemantuan di angkasa tersebut. Jika proyek RPS-420 itu berhasil, baru Lapan menyiapkan satelit untuk diluncurkan.

Di samping roket, Lapan juga terus mengembangkan teknologi satelit. Lapan TUB-SAT (Lapan A-1) yang diluncurkan pada 2007 merupakan satelit pertama yang sebagian besar desain dan produksinya dilakukan para insinyur Indonesia bekerja sama dengan Universitas Teknologi Berlin, Jerman.

Selama ini, peluncuran satelit tersebut dilakukan di Shiharikota, India, dengan roket buatan India. Lapan masih akan menggunakan roket India untuk meluncurkan satelit Lapan A-2 yang akan digunakan untuk telekomunikasi. Proses pembuatan satelit untuk komunikasi itu dilakukan bekerja sama dengan Orari.


WAH
Sumber : Antara

http://sains.kompas.com/read/xml/2009/07/30/08285840/tahun.2014.indonesia.punya.roket.peluncur.satelit

Satelit Palapa D

Akhir Agustus, ISAT Luncurkan
Satelit Palapa D
Harry Sasongko, Direktur Utama Indosat saat meresmikan Gedung Satelit Palapa, di Purwakarta, Jawa Barat, Jumat (14/8)

JUMAT, 14 AGUSTUS 2009 | 11:20 WIB

PURWAKARTA, KOMPAS.com - PT Indosat Tbk (ISAT) akhir Agustus mendatang akan meluncurkan Satelit Palapa D, dari China. Satelit Palapa D merupakan pengganti satelit Palapa C yang masa operasionalnya akan berakhir pada tahun 2011 mendatang

"Rencananya akhir Agustus Satelit Palapa D akan diluncurkan di China. Tapi kepastian peluncuran tersebut masih tergantung kondisi cuaca," ujar Harry Sasongko, Direktur Indosat, saat peresmian Gedung Satelit Palapa D, di Jati Luhur, Jawa Barat, Jumat (14/8).

Harry menuturkan, peluncuran Satelit Palapa D merupakan wujud komitmen Indosat bagi pelanggan pengguna layanan satelit yang sebagian besar adalah broadcaster televisi, penyedia jasa VSAT, serta pelanggan korporat lainnya

Dijelaskannya lebih lanjut, satelit Palapa D nanti akan beroperasi di orbit 113 derajat Bujur Timur, yang mana sekarang ini masih ditempati Satelit Palapa C2. Sementara itu, Satelit Palapa C2 yang masih mempunyai masa aktif hingga dua tahun ke depan akan direlokasi ke orbit 150,5 derajat Bujur Timur yang mana sebelumnya ditempati Satelit Palapa C1.

Indosat telah menunjuk Thales Alenia Space France (TASF) sebagai mitra pengadaan dan peluncuran Satelit Palapa D. Satelit Palapa D akan memiliki kapasitas lebih luas dibanding satelit Palapa C2, yaitu 40 transporter yang terdiri dari 24 standar C-Band 11 ekstended C band serta 5 ku-Band.

Dari 40 transporder itu, sekitar 40 persen akan digunakan untuk kepentingan Indosat di dalam negeri, sedangkan sisanya akan disewakan ke pihak di luar Indosat baik dari dalam maupun luar negeri. Selain Indonesia, cakupan satelit yang akan diluncurkan akhir bulan ini, bisa mencakup Asia, India, Jepang sampai Australia.

PT Indosat Tbk harus menyediakan dana 220 juta dollar AS untuk peluncuran satelit Palapa D tersebut. Satelit tersebut dipesan dari Thales Alenia Space France dari Prancis.

Lebih lanjut Harry menerangkan, untuk mengawali peluncuran satelit Palapa D, ISAT meresmikan gedung satelit Palapa D. Gedung tersebut akan digunakan untuk mengendalikan dan mengawasi trafik satelit Palapa D.

"Gedung satelit Palapa ini seluas 25.00 meter persegi ini terdiri dari berbagai ruang pengendalian dan pengawas seperti ruang communication, ruang control satelit, dan ruang band Intermediate," jelas Harry.


RDI

http://bisniskeuangan.kompas.com/read/xml/2009/08/14/11203318/akhir.agustus.isat.luncurkan.satelit.palapa.d.