Tampilkan postingan dengan label hujan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hujan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 02 Juli 2010

Inilah Penyebab Hujan pada Musim Kemarau

Inilah Penyebab Hujan pada Musim Kemarau
Jumat, 18 Juni 2010 | 15:57 WIB
DHONI SETIAWAN
Awan mendung tebal menyelimuti kawasan Jakarta, Rabu (26/5/2010).

JAKARTA, KOMPAS.com — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG memberi penjelasan mengenai kondisi anomali iklim yang terjadi selama musim kemarau 2010. Meski berada pada musim kemarau, yakni Maret-Agustus 2010, hujan dengan intensitas rendah hingga tinggi masih terjadi di beberapa daerah di Indonesia.

Menurut Kepala BMKG Sri Woro, anomali iklim tersebut tidak terlepas dari sejumlah kondisi faktor pengendali curah hujan di wilayah Indonesia. "Yaitu dengan menghangatnya suhu permukaan laut perairan Indonesia," kata Sri Woro dalam konferensi pers di Gedung BMKG, Jalan Angkasa, Kemayoran, Jakarta Pusat, Jumat (18/6/2010).

Peningkatan suhu permukaan laut inilah yang kemudian menyebabkan terjadinya potensi hujan di sebagian besar wilayah Indonesia.

Berdasarkan pengawasan BMKG terhadap suhu perairan Indonesia selama Juni 2010, di sini terjadi kecenderungan suhu yang hangat. Kondisi inilah yang menambah penguapan dan membentuk awan berpotensi hujan.

Selain faktor suhu permukaan laut, terjadinya hujan pada musim kemarau ini juga dipengaruhi pergerakan El Nino yang cenderung menambah massa uap air dan faktor dipole mode negatif yang menambah massa uap air ke Indonesia bagian barat. "Juga ada pengaruh dari global warming. Pemanasan suhu Bumi ini tidak hilang, tetapi berubah bentuk menjadi energi kinetis dan hujan," tuturnya.

Dengan kondisi demikian, Sri mengatakan, potensi hujan di sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi akan terjadi dengan intensitas sedang sampai lebat dan akan tetap terjadi hingga pertengahan Juli 2010.

"Musim kemarau 2010 ini cenderung lebih basah dibanding normalnya. Atau dengan kata lain, kecenderungan musim kemarau 2010 lebih pendek dibanding musim normalnya," papar Sri.

Walau demikian, Sri mengatakan, intensitas hujan tersebut masih tergolong normal. "Khusus untuk Jakarta, pada Juni, Juli, dan Agustus 2010 masih akan terjadi hujan. Tapi intensitasnya rendah dan tidak ekstrem," tandasnya.

Penulis: C11-09 | Editor: wah

http://sains.kompas.com/read/2010/06/18/15574467/Inilah.Penyebab.Hujan.pada.Musim.Kemarau

Kamis, 05 November 2009

Badai Tropis ,Tambah Panjang, Hujan Petir Menghadang

Ekor Badai Tropis Tambah Panjang, Hujan Petir Menghadang
    SENIN, 2 NOVEMBER 2009 | 07:54 WIB

    JAKARTA, KOMPAS.com - Ekor badai tropis yang terjadi di sekitar wilayah Indonesia cenderung makin panjang. Dampak makin panjangnya ekor badai ini antara lain timbulnya hujan lebat disertai angin kencang dan petir serta tingginya gelombang laut.

    ”Semakin panjangnya ekor badai ini diusulkan masuk kajian Panel Internasional Antarpemerintah untuk Perubahan Iklim atau IPCC,” kata Kepala Pusat Perubahan Iklim dan Kualitas Udara pada Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Edvin Aldrian, Minggu (1/11) di Jakarta.

    Edvin menjadi Ketua Delegasi Indonesia dalam sidang ke-31 IPCC di Nusa Dua Bali, 26-29 Oktober 2009. Pertemuan itu untuk mempersiapkan garis besar buku kajian IPCC (Assesment Report) V yang akan diterbitkan IPCC pada tahun 2013 untuk kelompok bidang basis ilmiah. Adapun tahun 2014 untuk kelompok bidang dampak, adaptasi, dan kerentanan, serta kelompok bidang mitigasi perubahan iklim.

    ”Badai tropis di wilayah utara perairan Indonesia dikatakan sebagai daerah netral, frekuensinya relatif tetap. Namun, kita mempersoalkan kecenderungan dampak ekor badainya yang makin bertambah panjang dan memengaruhi cuaca di wilayah Indonesia,” kata Edvin.

    Koordinator Pusat Peringatan Badai Tropis (Tropical Cyclone Warning Center/TCWC) BMKG Fachri Rajab menyebutkan, intensitas badai tropis April-November di utara wilayah perairan Indonesia memiliki rata-rata 25,7 kali berdasarkan data tahun 1968-1990. Tercatat sejak Mei hingga akhir Oktober 2009 di utara wilayah perairan Indonesia telah terbentuk 23 badai tropis (Kompas, 29/10).

    Badai Mirinae

    TCWC BMKG mengumumkan, badai tropis di wilayah utara perairan Indonesia hingga saat ini masih berlangsung. Badai yang dinamai Mirinae itu pada Minggu (1/11) pagi berada di arah utara-barat laut berjarak 1.200 kilometer Kota Tarakan, Kalimantan Timur, bergerak menjauh dari Indonesia dengan kecepatan 12 knot atau sekitar 23 kilometer per jam.

    Kecepatan angin yang ditimbulkan maksimum mencapai 45 knot atau berkisar 85 kilometer per jam. Dampak yang ditimbulkan berupa gelombang laut tinggi di atas 2 meter di Laut Natuna dan Laut China Selatan.

    Selain itu, konvergensi atau pengumpulan awan yang berpotensi mendatangkan hujan ringan sampai sedang terjadi di Semenanjung Malaka, di wilayah utara Sumatera, serta Kalimantan. Terjadi belokan angin di perairan Kalimantan bagian barat yang menimbulkan peluang hujan di wilayah itu.

    BMKG memprediksi, badai tropis Mirinae tersebut masih akan berlangsung hingga Senin (2/11) ini dalam kondisi yang makin meluruh. Diperkirakan pada Senin pukul 07.00 badai menimbulkan kecepatan angin sampai 65 kilometer per jam. Badai Mirinae bergerak makin menjauh dari Indonesia. (NAW)


    Editor: wsn

    Sumber : Kompas Cetak
    http://sains.kompas.com/read/xml/2009/11/02/07541389/ekor.badai.tropis.tambah.panjang.hujan.petir.menghadang