Senin, 03 Mei 2010

Kita Bisa Pergi ke Masa Depan

Hawking: Kita Bisa Pergi ke Masa Depan
Jika bisa ke masa lalu dia mengaku ingin mengunjungi Marilyn Monroe.
SENIN, 3 MEI 2010, 15:45 WIB
Elin Yunita Kristanti
Stephen Hawking (AP Photo)

VIVAnews - Setelah mengeluarkan pernyataan menghebohkan tentang keberadaan mahluk luar angkasa, astrofisikawan Stephen Hawking kembali membuat kontroversi.

Tak lagi peduli dicap 'ilmuwan gila', Hawking kembali mengeluarkan teori kedua yang juga mengejutkan.

Mempersiapkan kemunculannya dalam dokumenter di Discovery, Stephen Hawking's Universe, yang tayang minggu depan, 9 Mei 2010, dia mengaku yakin manusia bisa menjelajah waktu.

Manusia, menurut Hawking, bisa menjelajah waktu hingga jutaan tahun ke masa depan untuk mengisi dan memulai lagi peradaban Planet Bumi yang telah hancur lebur.

Suatu saat nanti, ucap Hawking, akan ada pesawat penjelajahan luar angkasa yang bisa terbang lebih cepat dari kecepatan cahaya. Satu hari penjelajahan di luar angkasa sama dengan satu tahun di Bumi.

Hingga kini, kendaraan tercepat yang mampu dibuat manusia adalah roket Apollo 10, yang mampu berjalan di kecepatan 25.000 mil per jam. Namun untuk menjelajah waktu dibutuhkan 2.000 kali lipat dari kecepatan Apollo.

Sebagai landasan teorinya, Hawking memakai pendekatan ilmuwan, Albert Einstein yang mengatakan, ketika sebuah obyek mempercepat geraknya di sebuah ruang, waktu akan melambat di sekitar obyek tersebut. Ini juga berarti, teori Hawking hanya bisa diaplikasikan untuk menjelajah masa depan.

Sementara, pergi ke masa lalu adalah sesuatu yang tak masuk akal. Sebab, kata Hawking, itu merusak aturan fundamental yakni, 'sebab datang lebih dulu sebelum akibat'.

Jika orang bisa kembali ke belakang, berarti dia bisa menembak dirinya di masa lalu.

Dia menjelaskan, ketika pesawat luar angkasa mendekati kecepatan cahaya, kru pesawat bisa memulai melompati tahun-tahun bumi dalam hitungan hari. Ini memberi kesempatan pada manusia untuk kembali mengawali peradabannya.

"Butuh waktu enam tahun dalam energi maksimal untuk mencapai kecepatan ini," kata Hawking, seperti dimuat laman News.com.au, Senin 3 Mei 2010.

Dua tahun pertama, jelas dia, pesawat luar angkasa akan mencapai setengah dari kekuatan cahaya yang ditargetkan dan jauh di luar tata surya. "Setelah dua tahun, pesawat akan melaju pada 90 persen kecepatan cahaya," tambah dia.

Dua tahun berikutnya, dengan dorongan penuh, pesawat luar angkasa akan mencapai kecepatan penuh, 98 persen dari kecepatan cahaya. "Saat itu, satu hari di pesawat setara dengan setahun di Bumi."

"Dalam kecepatan seperti itu, perjalanan ke tepi galaksi akan hanya butuh 80 tahun di angkasa."

Hawking mengakui bahwa ia terobsesi dengan perjalanan waktu. Kepada Daily Mail, jika bisa ke masa lalu dia mengaku ingin mengunjungi Marilyn Monroe atau di masa kehidupan Galileo saat dia mengarahkan teleskopnya ke 'surga' angkasa.

Hawking mengatakan semakin tua, ia peduli tentang apa yang dipikirkan orang-orang tentang teori. Bahkan tak khawatir disebut gila.

"Penjelajahan waktu yang dulunya dianggap bid'ah ilmiah, aku sudah terbiasa menghindari pembicaraan itu karena takut disebut pengrusak."Hari ini aku tidak merasa perlu begitu hati-hati," kata Hawking.

"Meski aku tak bisa bergerak dan hanya bisa bicara melalui komputerku. Tapi, pikiranku bebas, bebas untuk mengekplorasi alam semesta dan mempertanyakan pertanyaan besar, apakah penjelajahan waktu itu mungkin? Bisakah kita membuka portal ke masa lalu atau menerobos ke masa depan."

Profesor Universitas Manchester, Brian Cox mengatakan kepada The Times bahwa teori Hawking dilandasi basis ilmiah yang teruji dalam penelitian oleh Large Hadron Collider di Jenewa. (adi)

• VIVAnews

Minggu, 02 Mei 2010

Dominica's 'Whale Whisperer' shares a remarkable story

Friday, April 30, 2010 11:40am PDT

Dominica's 'Whale Whisperer' shares a remarkable story

By: Pete Thomas, GrindTV.com

Andrew Armour, who runs Kubuli Watersports on the Caribbean island of Dominica, has been called the "Whale Whisperer" because of his ability to communicate with sperm whales, particularly a young male named "Scar."

"Once I'm in the water I try to reach them acoustically by making this noise in the water, and it's the same noise all the time so they know it's me," he says. "So I'm talking to them all the time in the water, and they start coming."

To be sure, had Herman Melville been to Dominica and swum with its whales, he might have had trouble finding the inspiration to write the classic novel, "Moby Dick."

Perhaps 200 of the fabled cetaceans utilize the surrealistically blue realm beyond the island. None has expressed ferocity toward humans or bitten the leg from a tyrannical (and fictional) captain.

On the contrary, as people such as Armour have learned, these great leviathans, once hunted mercilessly around the world, are docile and at times even seem friendly toward people.

"The whales come to us, make friends with us, and interact with us," says Peter G. Allinson, a Baltimore doctor who has made several trips to Dominica, which is between the French islands of Martinique and Guadeloupe.

"The best encounter is when the whales are socializing among themselves and they'll come over and play with us," Allinson adds. "A couple of them will rub up against you and try to get you to rub them, and some of them roll over on their backs and let you rub their bellies. It's quite interesting."

Allinson's images have appeared in National Geographic magazine and won photo contests. He does not distribute his photos but, as a supporter of the Save the Whales organization, he allowed their use for this story hoping it'll raise awareness that all whales "are very intelligent and very friendly animals, and they should not be hunted."

Images captured recently by professional photographers also have surfaced, on various websites, and suddenly the whales of Dominica are no longer a secret.

"The secret is now coming out," Armour says. "And it's coming out in a sense that this is the best place to see sperm whales, this close to North America."

This is disconcerting to scientists, however. They say a budding and largely unregulated "swim-with" program might be harmful to the whales. "These interactions alter the normal daily behavior pattern of not only the animal which is interacted with but also all of its family members as a result," says Shane Gero, a researcher from Dalhousie University in Halifax, Nova Scotia.

Armour, who closely works with researchers but also runs a whale-watching business, acknowledges that regulations are needed but adds: "My strategy with them has always been to let them want to be with me. The thing is to not let youngsters get too far away from the family group. In this way we have noticed a minimal change in the behavior of the group as a unit."

Sperm whales, which in the pre-whaling era numbered about 1.1 million globally, now number about 360,000. At Dominica, as with other populations, adult females and young whales do not migrate. Adult males visit only during the wintertime breeding season. Young males leave their family units at about age 9 and migrate to the north and south. They do not return to breed until they're much older.

Dominica is unique, Gero says, in that scientists are able to locate specific family units with high regularity. He has been studying the whales there with Hal Whitehead, one of the world's foremost sperm whale authorities.

"Dominica's uniqueness lies in the fact that we can outline families and compare between sisters, as Jane Goodall did with the chimps; not simply between families or like-sounding clans of whales," Gero says. "As a result, our big advancements have been the discoveries of which animals in the family unit acts as babysitter when mother makes deep dives for food.

"We have also been able to compare the vocal repertoires of each individual across the years and have shown that mothers and calves sound different from the other members of the family."

Armour has known Scar since the whale swam to his boat as a calf, with injuries to his head and dorsal fin, presumably caused by marauding pilot whales.

He makes humming and clicking sounds to communicate with Scar, and in January the 10-year-old whale arrived for the first time with some much younger whales.

Scar, who has reached the age where he ought to be off roaming, has not been seen since February.

Says Armour: "Deep down I felt that when he introduced us to the youngsters this January that was his way of saying goodbye."

-- Photos courtesy of Peter G. Allinson. Top photo shows Andrew Armour (left) with a whale named Scar. Bottom images show Jeff Hartog, a plastic surgeon from Orlando, Fla., in the midst of sperm whales.Images are copyrighted and Allinson requests that people respect that protection.

Jejak Fosil Kalajengking Raksasa

ARKEOLOGI
Jejak Fosil Kalajengking Raksasa
Kamis, 22 April 2010 | 08:25 WIB
SCOTTISH NATURAL HERITAGE
Ilustrasi kalajengking raksasa dengan panjang 2 meter yang dibuat dari jejak fosil yang ditemukan di Skotlandia.

LONDON, KOMPAS.com — Sekitar 330 juta tahun yang lalu pernah hidup kalajengking berkaki enam raksasa sepanjang 2 meter dan lebar 1 meter di dinding batu pinggiran sungai di wilayah Fife, Skotlandia.

Keberadaan kalajengking bernama Hibbertopterus yang hidup di air itu diketahui setelah tim peneliti dari University of Sheffield menemukan jejak kaki, badan, dan ekornya, Selasa (20/4/2010).

Alur jejak kaki dan tubuh Hibbertopterus ini dianggap sebagai alur jejak hewan invertebrata terbesar yang pernah ada. Jejak ini tidak sengaja ditemukan ketua tim peneliti, Martin Whyte, ketika ia sedang berjalan-jalan santai.

"Kondisi fosil alur jejak ini rentan rusak karena selama bertahun-tahun terekspos hujan dan panas tanpa perlindungan. Apalagi, kondisi dinding batu yang sewaktu-waktu bisa roboh," kata Richard Batchelor dari lembaga Geoheritage Fife. (BBC/LUK)



Editor: wah | Sumber : Kompas Cetak

Sabtu, 01 Mei 2010

Virus Purba yang Terjebak Dalam Es

Minggu, 02/05/2010 08:45 WIB

Virus Purba yang Terjebak Dalam Es

Irna Gustia - detikHealth

img
(Foto: Reuters)
New York, Pernahkah terpikir kenapa pemanasan global membuat banyak penyakit kian bermunculan? Salah satu yang ditemukan peneliti adalah karena virus purba yang terjebak dalam es yang ada di kutub selama jutaan tahun mulai bergerak setelah es mencair.

Penelitian yang dilakukan ilmuwan dari Bowling Green State University, Syracuse University dan State University of New York yang dilakukan pada tahun 2004 memunculkan dugaan baru efek dari mencairnya es di kutub atau gletser.

Seperti dilansir dari MedicalHypotheses, Minggu (2/5/2010) peneliti menduga virus yang terjebak di gunung-gunung es, kutub atau gletser selama jutaan tahun bisa mencair jika pemanasan global berlanjut.

Virus purba itu awet di dalam es karena proses pembekuan meningkatkan daya tahannya. Setidaknya ada seratus triliun mikroorganisme berupa bakteri, virus, jamur dan mikroba yang terperangkap di gunung-gunung es. Virus polio, influenza, cacar dan calcivirus (virus yang bikin diare) adalah virus-virus yan bisa bertahan lama dalam es.

Profesor William T Stamer yang merupakan salah satu tim peneliti dari Syracuse University mengatakan mikroorganisme bergerak melalui angin. Mikroba dapat keluar dari atmosfer atau masuk ke dalam kabut, hujan es atau salju yang kemudian bisa jatuh ke dalam danau, sungai, lautan, tanah atau gletser.

Ketika mikroba itu masuk ke dalam lingkungan es seperti gletser atau daerah bersalju, mikroba mampu bertahan dalam pembekuan selama jutaan tahun.

Begitu terjadi lelehan es, virus purba ini akan terbebas dan bergerak mengikuti aliran air es tersebut. Yang ditakutkan peneliti, saat virus purba ini bertemu dengan virus yang hidup di zaman moderen akan mengalami mutasi atau genom daur ulang.

Seperti contoh virus influenza yang merebak beberapa tahun belakangan ternyata sudah ada sejak lama. Kasus merebaknya virus flu H1N1 (flu babi) ditemukan tahun 1918 yang mengakibatkan kematian hingga jutaan orang.

"Hilangnya virus influenza kemudian muncul lagi membuat dugaan virus itu bertahan hidup di dalam es yang menunggu pembebasan ketika es mencair lalu timbul lagi," kata Profesor William T Stamer.

Namun penelitian tersebut masih perlu pembuktian lebih lanjut. Seperti dikatakan ahli virus David Onions dari Glasgow University yang dilansir dari Independent. David ragu virus purba yang lama terkubur masih memiliki vitalitas atau kemampuan yang kuat dan berbahaya.

"Beberapa kelompok virus memang bisa bertahan lama dalam es, tapi apakah virus itu akan menular atau berbahaya itu pertanyaan lain," kata David.

Yang jelas peneliti mengingatkan dampak pemanasan global yang membuat es-es mencair memang menjadi ancaman bagi kehidupan manusia.

(ir/ir)

Penemuan Kapal Nabi Nuh Diragukan

Penemuan Kapal Nabi Nuh Diragukan
Kalaupun tidak terbukti bahwa itu adalah kapal Nabi Nuh, pencarian diteruskan.
SABTU, 1 MEI 2010, 15:08 WIB
Ita Lismawati F. Malau, Harriska Farida Adiati
Gunung Ararat, lokasi penemuan perahu Nabi Nuh (www.noahsarksearch.com)

VIVAnews - Sekelompok komunitas Kristen China mengumumkan penemuan bahtera Nabi Nuh di ketinggian 4.000 meter di Gunung Ararat, Turki.

Tim peneliti yang tergabung 'Noah's Ark Ministries International' tersebut yakin 99,9 persen bahwa apa yang mereka temukan adalah kapal yang menurut kitab suci beberapa agama dibangun oleh Nabi Nuh sebelum bencana banjir bandang mahadahsyat mengapus ras umat manusia berdosa.

Fox News, Jumat 30 April 2010, menyebutkan, penemuan di Gunung Ararat di Turki tersebut bisa jadi memang benar kapal Nabi Nuh, tapi bisa juga salah.

Kalaupun tidak terbukti bahwa itu adalah kapal Nabi Nuh, mereka yang percaya tidak akan berhenti mencari di tempat lain.

Beberapa orang berpendapat bahwa kayu kapal yang diambil gambarnya tidak cukup kuno, tidak ada gambar lokasi untuk memverifikasi situs itu, tidak ada pakar independen yang melihat data tersebut, dan tidak ada bukti bahwa di Bumi pernah terjadi banjir dahsyat.

Orang-orang yang paling tidak percaya pada penemuan tersebut justru para pakar kitab suci yang juga memiliki keyakinan bahwa bahtera Nuh memang eksis dan bisa ditemukan, tetapi tidak percaya dengan penemuan tim peneliti China.

Dr. John Morris, arkeolog kawakan Institute for Creation Research, bahkan menuding penemuan tersebut sebagai sebuah kebohongan. Morris telah memimpin 13 ekspedisi ke Gunung Ararat untuk mencari kapal yang disebut dalam kitab suci. Dia mengetahui dengan pasti lokasi di Ararat, dan menyebut penemuan para peneliti China tersebut merupakan penipuan.

Dr. Randall Price, kepala Studi Yudaisme di Liberty University, Virginia, Amerika Serikat, dua tahun lalu pernah menjadi anggota tim Noah's Ark Ministries International. Dia keluar dari proyek tersebut karena merasa ada pihak tertentu yang mengambil keuntungan dari proyek dengan menjadikan proses pencarian bahtera Nuh sebagai industri pariwisata.

Morris dan Price dikontak oleh tim China untuk ikut serta dalam konferensi pers untuk mengumumkan penemuan mereka beberapa hari lalu. Namun, Morris dan Price menolak dengan alasan, terlalu sedikit bukti yang diperoleh. Profesor Porcher Taylor dari University of Richmond juga yakin itu bukan bahtera Nuh yang sebenarnya. "Mereka menggali di lokasi yang salah di Gunung Ararat," kata Taylor.

Menurut Taylor, gambar satelit dari sebuah wilayah sekitar setengah mil jauhnya dari lokasi tim China menemukan kapal, menunjukkan sebuah kawasan yang disebut "anomali Ararat", sebuah wilayah yang membangkitkan minat komunitas intelijen AS selama bertahun-tahun. "Bila sisa-sia kapal Nuh memang di Gunung Ararat, satu-satunya lokasi yang paling logis adalah di anomali Ararat, dan bukan di lokasi di mana pengakuan sensasional itu dikeluarkan oleh kelompok itu," kata Taylor.

Bagaimanapun juga, para arkeolog tersebut yakin bahwa banjir bandang pernah menerjang Bumi dan bahwa bangkai kapal Nabi Nuh ada di Gunung Ararat, meski di lokasi berbeda dengan yang ditemukan tim China. Apapun itu, Morris, Price, Taylor, dan banyak ahli lain, tetap kembali ke Gunung Ararat dengan harapan akan menemukan sesuatu yang mereka percayai. (umi)

• VIVAnews

Badai Hebat di Saturnus

Badai Hebat di Saturnus
"Kami sangat antusias karena mendapat 'dukungan' dari para amatir," kata ilmuwan Cassini.
SABTU, 1 MEI 2010, 12:27 WIB
Ita Lismawati F. Malau, Harriska Farida Adiati
Badai Salju Saturnus

VIVAnews - Badai salju hebat terjadi di Planet Saturnus beberapa pekan lalu. Karena sangat dahsyat, badai itu bisa terlihat oleh para astronom Badan Antariksa Amerika Serikat (AS) dan pengamat amatir angkasa luar di Bumi.

Seperti dikutip dari FOX News, Jumat 30 April 2010, pesawat angkasa luar milik NASA, Cassini, saat ini sedang mengorbit Saturnus, planet kedua terbesar dalam tata surya setelah Yupiter. Cassini sedang berada di posisi terdekat dengan Saturnus, dan merekam data paling terperinci dari badai yang mengelilingi Saturnus.

Namun, astronom-astronom amatir di Bumi juga bisa mengamatinya. "Kami sangat antusias karena mendapat 'dukungan' dari para amatir," kata ilmuwan Cassini, Gordon Bjoraker, anggota tim ilmuwan Cassini di Greenbelt, Maryland, AS.

Data yang diperoleh Cassini, sebuah badai turbulen, mengeruk banyak sekali material dari atmosfer dan menutupi sebuah wilayah seluas lima kali lebih luas dibanding badai salju terbesar yang menghantam Bumi tahun ini, yakni badai "Snowmageddon" yang menyelimuti kawasan Washington, D.C. dengan salju pada Februari lalu.

Instrumen gelombang plasma dan radio dalam pesawat Cassini, serta kamera, merekam guntur dan petir di Saturnus selama bertahun-tahun di daerah sekitar garis lintang Saturnus yang disebut "storm alley" tersebut. (umi)

• VIVAnews

Could Extraterrestrials Really Invade Earth, and How?

Could Extraterrestrials Really Invade Earth, and How?


Stephen Hawking's Alien WarningPlay VideoABC News – Stephen Hawking's Alien Warning
Stephen HawkingAP – FILE - In this April 5, 2010 file photo, Astrophysicist Stephen Hawking, of England, presents a lecture …

The human race could be devastated if aliens were to learn of our existence and venture to Earth, warned British scientist Stephen Hawking on Sunday. But how could extraterrestrials really invade Earth?

Aliens have already viciously attacked our spacecraft, savagely kidnapped us, heartlessly conducted experiments on us, and mercilessly aimed their death-rays at us, but of course, all of these crimes have been committed only in novels and movies.

Other experts who, like Hawking, have devoted their careers to thoughtful exploration of the possibilities of alien contact say that we don't have anything to fear.

"In movies, aliens only come here for two reasons," Seth Shostak, senior astronomer at the Search for Extraterrestrial Intelligence (SETI) told Life's Little Mysteries, SPACE.com's sister publication. "They either come here to find some resource they don't have on their own planet, or they want to use us for some unauthorized breeding experiment." These scenarios play on our most primal human fears of losing the resources we need to survive or not being able to reproduce, Shostak said.

In reality, it isn't logical to think that aliens would want to do either of those things, Shostak said. Space travelis expensive and requires an enormous investment, he said.

"Anything that we have here, they could find where they live," Shostak said. If there was a resource found on Earth that did not exist on the aliens' home planet, there would certainly be easier ways to get or make the resource than coming here.

And if an alien civilization was advanced enough to engage in interstellar travel, they would also probably have very advanced robotic machines, Shostak said. If they wanted to research our planet, they would be more likely to send those machines here than to come here themselves.

"It's not like, the hatch will open and we'll see a strange, alien paw coming out," he said. "It's more likely to be a robotic arm."

Contact with aliens is extremely unlikely, agrees David Morrison, Director of Space at NASA-Ames Research Center. Any communication that may occur would likely be in the form of radio waves sent from one civilization to another, he said.

"We're listening for radio signals," Morrison said, "And we can assume that any civilization that we receive a signal from is more advanced than we are."

We have only had the technology to listen and send radio waves for the last century, so if an alien radio signalreaches us from a distant planet hundreds or thousands of light-years away, that civilization would have to be more advanced than ours, Morrison said.

Morrison doubts that an advanced alien civilization would come here to harm us.

"Someone once suggested that if a civilization can last for hundreds of thousands of years, it almost surely has solved the problems we have. I would hope so," Morrison said.

Even if aliens existed, knew about us, and could travel here, they wouldn't be likely to send an army or the equipment needed to launch an attack on the Earth, said science fiction writer Jack McDevitt.

"Imagine putting together an invasion force, only to stick them in containers to travel here for years," McDevitt said.

Although contact between humans and aliens has been a key part of many of McDevitt's books, he doesn't think that it's likely to actually happen. It would take a great amount of time for aliens to reach Earth, and any civilization capable of this feat would not want to delegate its fighting force to the task, he said.

We have bigger problems to worry about, McDevitt said.

SPACE.com offers rich and compelling content about space science, travel and exploration as well as astronomy, technology, business news and more. The site boasts a variety of popular features including ourspace image of the day and other space pictures,space videos, Top 10s, Trivia, podcasts and Amazing Images submitted by our users. Join our community, sign up for our free newsletters and register for our RSS Feeds today!

http://news.yahoo.com/s/space/20100429/sc_space/couldextraterrestrialsreallyinvadeearthandhow;_ylt=AjSlBju9SCtPyq_rxSIaJjsS.MwF;_ylu=X3oDMTNkZGpqNGRqBGFzc2V0A3NwYWNlLzIwMTAwNDI5L2NvdWxkZXh0cmF0ZXJyZXN0cmlhbHNyZWFsbHlpbnZhZGVlYXJ0aGFuZGhvdwRwb3MDOARzZWMDeW5fbW9zdF9wb3B1bGFyBHNsawNjb3VsZGV4dHJhdGU-