Tampilkan postingan dengan label Masa Depan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Masa Depan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 04 Oktober 2011

Software untuk Meramal Masa Depan Perusahaan


Software untuk Meramal Masa Depan Perusahaan

Predictive analytics dapat digunakan oleh institusi apapun yang ingin mengembangkan usaha.

SELASA, 4 OKTOBER 2011, 17:25 WIB
Muhammad Firman, Amal Nur Ngazis
Saat ini layanan predictive analytics solution lebih banyak dipakai oleh operator telekomunikasi, finansial, dan asuransi namun dapat digunakan oleh institusi apapun yang ingin mengembangkan usaha. (Ilustrasi)
VIVAnews - Semakin berkembangnya organisasi serta bertambah kompleksnya permasalahan di sebuah perusahaan menjadi tantangan perusahaan untuk mengembangkan bisnisnya.
Untuk memenuhi kebutuhan segmen bisnis, PT Survey Prima Solusi Statindo (SPSS Indonesia) hari ini meluncurkan solusi Purple Analytics dan layanan terbaru mereka untuk pasar Indonesia.

Solusi tersebut merupakan bagian untuk membangun sebuah perusahaan ke depan, dengan memprediksi apakah perusahaan akan mengalami kemajuan atau kemunduran di masa mendatang.

Salah satu solusi yang diluncurkan, yakni predictive analytics, kini kian populer di kalangan manajemen perusahaan, karena layanan ini dapat membantu manajemen dalam menentukan langkah-langkah strategis bisnis.

“Semakin berkembangnya organisasi, proses pengambilan keputusan pun kian kompleks dan rumit. Manajemen saat ini sudah semakin menyadari bahwa mereka membutuhkan pendekatan analitik menggunakan data eksternal maupun internal,” kata Linggawati Sutanto, CEO Purple Analytics Asia Pte. Ltd.

“Kami memberikan solusi prediksi analitik, perusahaan dapat memprediksi apa yang akan terjadi dalam perusahaan di masa depan,” kata Dickie Widjaja, Head of Business Development Purple Analytics Asia Pte. Ltd, dalam perbincangannya pada VIVAnews, 4 Oktober 2011.

Secara teknis analisa menggunakan data perusahaan, kemudian di analisa dengan software SPSS atau prediction software, menyesuaikan dengan kebutuhan sebuah perusahaan. Data yang dianalisa diantaranya data pelanggan, maupun interaksi perusahaan dengan pelanggan. Adapun Predixion software dapat membantu perusahaan mengubah analisa bisnis menjadi predictive analytics.

“Mayoritas perusahaan menengah pasti sudah melakukan sedikit analisa data dengan menggunakan Microsoft Excel. Dengan menggunakan Predixion Insight, perusahaan akan lebih kuat dalam melakukan analisanya, sehingga membantu dalam pengambilan keputusan secara cepat, tepat, dan sederhana,” imbuh David Runacres Head of Asia Pacific Operations at Predixion Software, Inc.

Saat ini layanan predictive analytics solution lebih banyak dipakai oleh operator telekomunikasi, finansial, dan asuransi. Namun untuk saat ini dapat digunakan oleh institusi apapun yang ingin mengembangkan perusahaan.

Sebagai penyedia solusi predictive analytics yang telah berkiprah lebih dari 12 tahun bekerja sama dengan lebih dari 350 perusahaan besar dan kecil, Survey Prima Solusi Statindo telah menggandeng klien-klien ternama antara lain Telkom, Bank Central Asia, dan Adira Finance. (umi)
• VIVAnews

Selasa, 18 Januari 2011

Ini Desain Pesawat Terbang Masa Depan NASA

Ini Desain Pesawat Terbang Masa Depan NASA
Desain pesawat baru ini akan diterapkan 20-25 tahun dari sekarang.
RABU, 19 MEI 2010, 09:55 WIB
Elin Yunita Kristanti

VIVAnews - Tak hanya mengurus masalah luar angkasa, Badan Antariksa Amerika Serikat, NASA juga ikut berkontribusi mengembangkan desain pesawat penumpang dalam program Fundamental Aeronautic NASA, April 2010.

Melalui penelitian selama 18 bulan, NASA memvisualisasikan pesawat penumpang masa depan. Desain pesawat baru ini akan diterapkan 20-25 tahun dari sekarang.

Ada beberapa ide desain segar -- meski dalam pandangan pertama terlihat kuno.

Alih-alih mengadopsi bentuk pesawat dalam fiksi ilmiah, desain pesawat baru ini tak beda drastis dengan bentuk pesawat yang sudah ada.

Namun, jika dilihat dengan seksama, ada perbedaan signifikan -- terobosan baru ada di kerangka pesawat dan penggunaan teknologi akan membuat pesawat masa depan lebih tenang, tak berisik, lebih bersih, dan efisien bahan bakar. Juga lebih mengedepankan kenyamanan penumpang.

Dengan melihat desain NASA, Anda juga bisa melihat bentuk ultramodern dengan keramik atau gabungan serat, tabung karbon, kabel fiber optik, lapisan kulit pesawat yang bisa memperbaiki diri, mesin listrik hibrida, sayap lipat, badan pesawat terbang dobel, dan jendela virtual.

"Berdiri di depan pesawat masa depan ini, Anda mungkin tak bisa membedakannya dengan pesawat konvensional. Namun, pengembangannya dilakukan secara revolusioner," kata ilmuwan proyek Fundamental Aeronautics Program NASA, Richard Wahls, seperti dimuat laman NASA, Rabu 19 Mei 2010.

"Yang mengagumkan ada pada teknologinya, bukan sekedar bungkus pesawat," kata dia.

Pada Oktober 2008 lalu, NASA menyerukan pada industri dan dunia akademis untuk membayangkan konsep canggih pesawat terbang 2030-an, yang dapat mengantisipasi kebutuhan transportasi udara komersial, tapi efisien dalam menggunakan bahan bakar, juga ramah lingkungan.

NASA tidak menyebut secara pasti apakah pesawat masa depan ini akan digunakan untuk penerbangan domestik atau penerbangan internasional dengan jarak yang lebih jauh.

Empat tim bergabung dalam program ini, yakni,

1. Tim GE Aviation menuangkan konsep pesawat masa depan yang bisa mengangkut 20 penumpang. Pesawat ini bisa mengangkut penumpang dari satu lokasi ke lokasi lain -- diharapkan mengurangi kemacetan di kota metropolis.

Bentuk pesawat ini oval, dengan fitur yang meratakan aliran udara ke seluruh permukaan. Pesawat ini memiliki bahan bakar pembangkit listrik yang canggih. Mesin pesawat tak berisik, bisa lepas landas dalam waktu cepat dan tak memerlukan banyak waktu untuk menaikkan pesawat.

Model pesawat masa depan NASA

2. Pesawat D 8 'double bubble' karya Massachusetts Institute Technology (MIT) bisa mengangkut 180 orang -- menggabungkan dua badan pesawat memasang tiga mesin jet turbofan di ekornya dengan posisi naik. Komponan penting pesawat ini adalah penggunaan material yang ringan dan mesin turbofan dengan rasio bypass yang ultratinggi.

Tim merancang D8 untuk melakukan pekerjaan yang sama dengan Boeing 737-800.

Pesawat penumpang masa depan NASA

3. Perusahaan Boeing mengembangkan Subsonic Ultra Green Aircraft Research (SUGAR), pesawat bermesin ganda dengan teknologi propulsi hibrid. Memiliki badan pesawat seperti tabung dan sayap yang membantu pesawat naik ke atas. Dibandingkan dengan pesawat yang ada saat ini, sayap SUGAR lebih panjang, namun bisa dilipat ketika parkir di bandara.

Pesawat masa depan NASA

4. Tim Northrop Grumman meramalkan kebutuhan terbesar masa depan adalah ketersediaan pesawat yang mengangkut 120 penumpang, dengan ukuran lebih kecil dan hanya membutuhkan landasan pacu pendek.

Tim menyebut pesawat ini sebagai Silent Efficient Low Emissions Commercial Transport (SELECT). Revolusi SELECT ada pada kinerjanya bukan pada tampilan. (umi)

Desain pesawat masa depan NASA

• VIVAnews

Senin, 03 Mei 2010

Kita Bisa Pergi ke Masa Depan

Hawking: Kita Bisa Pergi ke Masa Depan
Jika bisa ke masa lalu dia mengaku ingin mengunjungi Marilyn Monroe.
SENIN, 3 MEI 2010, 15:45 WIB
Elin Yunita Kristanti
Stephen Hawking (AP Photo)

VIVAnews - Setelah mengeluarkan pernyataan menghebohkan tentang keberadaan mahluk luar angkasa, astrofisikawan Stephen Hawking kembali membuat kontroversi.

Tak lagi peduli dicap 'ilmuwan gila', Hawking kembali mengeluarkan teori kedua yang juga mengejutkan.

Mempersiapkan kemunculannya dalam dokumenter di Discovery, Stephen Hawking's Universe, yang tayang minggu depan, 9 Mei 2010, dia mengaku yakin manusia bisa menjelajah waktu.

Manusia, menurut Hawking, bisa menjelajah waktu hingga jutaan tahun ke masa depan untuk mengisi dan memulai lagi peradaban Planet Bumi yang telah hancur lebur.

Suatu saat nanti, ucap Hawking, akan ada pesawat penjelajahan luar angkasa yang bisa terbang lebih cepat dari kecepatan cahaya. Satu hari penjelajahan di luar angkasa sama dengan satu tahun di Bumi.

Hingga kini, kendaraan tercepat yang mampu dibuat manusia adalah roket Apollo 10, yang mampu berjalan di kecepatan 25.000 mil per jam. Namun untuk menjelajah waktu dibutuhkan 2.000 kali lipat dari kecepatan Apollo.

Sebagai landasan teorinya, Hawking memakai pendekatan ilmuwan, Albert Einstein yang mengatakan, ketika sebuah obyek mempercepat geraknya di sebuah ruang, waktu akan melambat di sekitar obyek tersebut. Ini juga berarti, teori Hawking hanya bisa diaplikasikan untuk menjelajah masa depan.

Sementara, pergi ke masa lalu adalah sesuatu yang tak masuk akal. Sebab, kata Hawking, itu merusak aturan fundamental yakni, 'sebab datang lebih dulu sebelum akibat'.

Jika orang bisa kembali ke belakang, berarti dia bisa menembak dirinya di masa lalu.

Dia menjelaskan, ketika pesawat luar angkasa mendekati kecepatan cahaya, kru pesawat bisa memulai melompati tahun-tahun bumi dalam hitungan hari. Ini memberi kesempatan pada manusia untuk kembali mengawali peradabannya.

"Butuh waktu enam tahun dalam energi maksimal untuk mencapai kecepatan ini," kata Hawking, seperti dimuat laman News.com.au, Senin 3 Mei 2010.

Dua tahun pertama, jelas dia, pesawat luar angkasa akan mencapai setengah dari kekuatan cahaya yang ditargetkan dan jauh di luar tata surya. "Setelah dua tahun, pesawat akan melaju pada 90 persen kecepatan cahaya," tambah dia.

Dua tahun berikutnya, dengan dorongan penuh, pesawat luar angkasa akan mencapai kecepatan penuh, 98 persen dari kecepatan cahaya. "Saat itu, satu hari di pesawat setara dengan setahun di Bumi."

"Dalam kecepatan seperti itu, perjalanan ke tepi galaksi akan hanya butuh 80 tahun di angkasa."

Hawking mengakui bahwa ia terobsesi dengan perjalanan waktu. Kepada Daily Mail, jika bisa ke masa lalu dia mengaku ingin mengunjungi Marilyn Monroe atau di masa kehidupan Galileo saat dia mengarahkan teleskopnya ke 'surga' angkasa.

Hawking mengatakan semakin tua, ia peduli tentang apa yang dipikirkan orang-orang tentang teori. Bahkan tak khawatir disebut gila.

"Penjelajahan waktu yang dulunya dianggap bid'ah ilmiah, aku sudah terbiasa menghindari pembicaraan itu karena takut disebut pengrusak."Hari ini aku tidak merasa perlu begitu hati-hati," kata Hawking.

"Meski aku tak bisa bergerak dan hanya bisa bicara melalui komputerku. Tapi, pikiranku bebas, bebas untuk mengekplorasi alam semesta dan mempertanyakan pertanyaan besar, apakah penjelajahan waktu itu mungkin? Bisakah kita membuka portal ke masa lalu atau menerobos ke masa depan."

Profesor Universitas Manchester, Brian Cox mengatakan kepada The Times bahwa teori Hawking dilandasi basis ilmiah yang teruji dalam penelitian oleh Large Hadron Collider di Jenewa. (adi)

• VIVAnews