Tampilkan postingan dengan label Vaksin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Vaksin. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 13 Maret 2010

Vaksin Pencegah Kanker Otak

Vaksin Pencegah Kanker Otak


Otak

VIVAnews - Semua penyakit yang menyerang otak, efeknya memang sangat menakutkan. Tidak hanya bisa menyebabkan cacat permanen tetapi juga kematian. Apalagi jika otak yang berfungsi mengatur semua saraf itu terserang kanker.

Untuk mencegah kanker otak, sebuah vaksin dikembangkan dengan melakukan sebuah percobaan pada seorang pasien tumor otak. Pasien yang bernama Karen Vaneman mendatangi Preston Robert Tisch Brain Tumor Center di Duke University, Amerika Serikat, minggu pertama tiap bulannya untuk memberikan 21 botol kecil darahnya.

Kanker otak yang diderita Vaneman diketahui dua tahun lalu, saat ia dibawa ke ruang gawat darurat karena merasa lemas dan tangan kirinya sudah pincang. Dokter saat itu ia menderita stroke atau serangan jantung. Setelah dilakukan pemeriksaan, diketahui bahwa ia mengalami Glioblastoma atau GBM, yang merupakan tipe kanker otak paling sering terjadi.

Tipe kanker tersebut sebenernya bisa mengakibatkan hal yang fatal tetapi tim dari Preston Robert Tisch memiliki ide lain untuk mengatasinya. Vaneman pun dioperasi dan menjalani perawatan intensif pasca operasi.

"Melihat kondisi Vaneman dokter lain mungkin akan memberitahu sisa hidup enam sampai sembilan bulan, atau mungkin satu tahun karena penyakit tidak bisa disembuhkan. Tetapi kami mengatakan bahwa itu bisa disembuhkan dengan usaha yang keras dan keyakinan diri pasien," kata kepala Preston Robert Tisch Brain Tumor Center, Dr. Henry Friedman, seperti VIVAnews kutip dari Livestrong.

Vaneman pun diberikan perawatan intensif dengan diberikan sebuah vaksin terbaru yang diproduksi Pfizer. Vaksin itu bernama CDX-110, dan bukan untuk mencegah penyakit. Sebaliknya, vaksin memicu respon imun, yang menyerang sel-sel kanker berbahaya. Secara spesifik, vaksin dididapatkan dari EGFRviii (EGFR faktor tiga), yaitu protein yang ditemukan pada 40 persen sel tumor.

Dr. John Sampson, ahli bedah yang membantu mengembangkan vaksin, menjelaskan bahwa tim menggunakan vaksin untuk membuat respon imun yang lebih spesifik. "Tidak seperti kemoterapi, yang rasanya sangat sakit karena membagi sel dalam tubuh, atau radiasi, vaksin ini cukup efektif dan presisinya lebih tepat," kata Dr. John Sampson.

Vaksin ini nantinya bisa membuat para pasien kanker, tidak hanya kanker otak bisa hidup lebih lama. Sel kanker pun bisa dikurangi atau dimusnahkan dengan cara yang tidak terlalu sakit dibandingkan kemoterapi. (lia)


http://id.news.yahoo.com/viva/20100312/tls-vaksin-pencegah-kanker-otak-34dae5e.html

Kamis, 03 September 2009

Antibodi HIV

Jumat, 04/09/2009 12:05 WIB

Ditemukan Antibodi HIV untuk Pembuatan Vaksin AIDS

Vera Farah Bararah - detikHealth


img
(Foto: scientificamerican)
Jakarta, Masyarakat mungkin boleh sedikit berlega hati mengenai penemuan vaksin untuk AIDS. Karena peneliti di Amerika Serikat berhasil menemukan antibodi yang diserang oleh virus AIDS, sehingga sangat berpotensial dalam pembuatan vaksin.

Peneliti Amerika Serikat mengatakan penemuan partikel sistem kekebalan tubuh yang diserang oleh virus AIDS, memungkinkan terbukanya peluang untuk membuat vaksin yang bisa melindungi orang dari kematian dan infeksi yang tidak dapat disembuhkan.

Peneliti menggunakan teknologi terbaru dalam mengambil darah 1.000 orang yang terinfeksi virus AIDS dan mengidentifikasi 2 komponen sistem kekebalan tubuh atau disebut antibodi yang bisa menetralkan virus. Ternyata peneliti menemukan bagian dari virus yang menyerang antibodi, sehingga memungkinkan untuk dibuatnya vaksin AIDS seperti dilaporkan dalam jurnal Science.

"Saat ini kami memiliki kesempatan yang lebih baik untuk membuat vaksin yang lebih luas lagi dalam menetralisasi antibodi, kami berpikir bahwa itu adalah kunci sukses dalam pengembangan vaksin," ujar Dennis Burton dari Scripps Research Institute idi La Jolla, California, seperti dikutip dari Reuters, Jumat (4/9/2009).

Wayne Koff dari International AIDS Vaccine Initiative menambahkan penemuan ini sangat membuat peneliti bersemangat untuk menghasilkan vaksin AIDS yang efektif, karena telah menemukan target virus yang sangat potensial dalam usaha pembuatan vaksin.

Sejak AIDS mulai menjadi pandemi pada awal tahun 1980an, secara global sudah lebih dari 25 juta orang meninggal karena virus tersebut. Organisasi kesehatan dunia (WHO) memperkirakan saat ini terdapat 33 juta orang yang sudah terinfeksi. Sampai saat ini tidak ada obat yang bisa menjaga agar virus tersebut bisa terkontrol, usaha pembuatan vaksin pun selalu gagal.

Bagian yang sulit dalam pembuatan vaksin adalah virus tersebut bisa bermutasi yang menyebabkan setiap orang terinfeksi dengan jutaan versi yang berbeda. Sebagai tambahan virus menginfeksi beberapa sel daya tahan yang berfungsi melindungi tubuh. Jika salah satu virus bisa menembus pertahanan daya tahan tubuh, maka akan menyebabkan infeksi jangka panjang.

"10 persen dari pasien yang diperiksa darahnya memiliki respons antibodi yang kuat terhadap virus," kata Dr. Seth Berkley yang merupakan Direktur IAVI. Hal ini memungkinkan untuk menggunakan terapi terhadap antibodi itu sendiri, seperti penggunaan gamma-globulin untuk virus hepatitis. Tapi pada akhirnya vaksin yang menghasilkan antibodi bisa menghentikan virus dari orang yang pernah terinfeksi virus di tempat pertama kali.

Sebagian besar vaksin yang memperoleh respons antibodi, pada dasarnya akan membuat antibodi yang akan mengenali dan menyerang bakteri atau virus. Dua antibodi yang dikenal dengan PG9 dan PG16 adalah antibodi HIV pertama yang berhasil diidentifikasi setelah lebih dari 10 tahun.