Tampilkan postingan dengan label Papua. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Papua. Tampilkan semua postingan

Selasa, 06 April 2010

Mikroba Asal Papua Jadi Pupuk "Beyonic"

Mikroba Asal Papua Jadi Pupuk "Beyonic"
Senin, 1 Februari 2010 | 07:48 WIB
KOMPAS/LASTI KURNIA
Pekerja Kebun Strawberry 65 menyemprot cairan pencegah pertumbuhan rumput untuk menghindari meningkatnya serangan hama siput pada tanaman stroberi di Warung Tungtung, Ciwidey, Bandung, Kamis (31/12). Serangan siput dan tingkat kelembaban yang tinggi pada musim hujan menurunkan produksi dari 2 kuintal menjadi hanya 40 kilogram per dua hari panen. Pada musim hujan, petani stroberi berharap ada pemasukan tambahan dari kegiatan wisata memetik stroberi.
TERKAIT:

JAKARTA, KOMPAS.com - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia berhasil mengisolasi mikroba pilihan dan memberdayakannya menjadi pupuk unggulan yang disebut beyonic. Peluncuran pupuk organik ini dilakukan di Kawasan Cibinong Science Center Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia oleh Menteri Riset dan Teknologi Suharna Surapranata, Sabtu (30/1).

Mikroba yang telah teruji itu berguna untuk mengubah lahan pertanian menjadi lebih baik.

Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati LIPI Endang Sukara mengatakan, penggunaan pupuk organik dapat mengurangi penggunaan pupuk sintetis serta pestisida dan herbisida. Keuntungan lain adalah mengurangi biaya produksi dan emisi CO dari pabrik pupuk. Pemerintah memperkirakan kebutuhan pupuk organik pada tahun 2010 mencapai sekitar 11,75 juta ton.

Beyonic adalah pupuk organik yang dipadukan dengan mikroba koleksi LIPI berupa konsorsium yang mampu mengatasi masalah pertanian setempat dan berproduktivitas tinggi. Saat ini koleksi mikroba LIPI, ujar Endang, telah mencapai sekitar 20.000 jenis, sekitar 4.000 mikroba telah teridentifikasi kemampuan unggulnya.

”Mikroba yang telah teruji itu berguna untuk mengubah lahan pertanian menjadi lebih baik,” kata Heddy Sulistyo, peneliti di Pusat Penelitian Biologi LIPI.

Teknologi beyonic diharapkan dapat mengantisipasi dampak perubahan iklim pada lahan kering dan dapat mempercepat pertumbuhan tanaman. Ditambahkan Sri Widiati, peneliti Puslit Biologi LIPI, konsorsium mikroba yang digunakan pada beyonic, antara lain, berasal dari Kawasan Penelitian Biologi LIPI di Wamena, Papua. Di Wamena, 16 mikroba unggulan untuk pengembangan pupuk organik bisa diisolasi. (YUN)

Editor: wsn | Sumber : Kompas Cetak

http://sains.kompas.com/read/2010/02/01/07485975/Mikroba.Asal.Papua.Jadi.Pupuk..quot.Beyonic.quot.

Papua Miliki Keragaman Arkeologi

Papua Miliki Keragaman Arkeologi
Rabu, 7 April 2010 | 06:42 WIB
DOKUMENTASI PUSPO BUDOYO
Ilustrasi

JAYAPURA, KOMPAS.com - Wilayah Papua memiliki peninggalan arkeologi yang sangat beragam dan cukup lengkap dari sisi pembabakan sejarah, mulai dari masa prasejarah hingga zaman pendudukan kolonial.

"Situs arkeologi yang ada di Papua merupakan kekayaan sejarah mengenai perjalanan perkembangan peradaban bangsa Indonesia," kata Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Arkeologi Nasional, Dr Tony Djubiantono di Jayapura, Rabu (7/4/2010).

Situs arkeologi yang ditemukan di Papua, adalah situs yang berkaitan dengan perkembangan antropologi, budaya, etnik dan peninggalan kolonial.

Tony mengatakan, situs purbakala tertua yang ditemukan di Pulau Papua berusia prasejarah, yaitu 40.000-30.000 tahun sebelum masehi.

Situs yang berlokasi di Kabupaten Biak ini berupa gua-gua yang pada dindingnya dijumpai lukisan-lukisan dan fosil-fosil moluska atau cangkang kerang.

Penemuan fosil moluska menjadi indikator penting adanya aktivitas manusia purbakala, karena pada periode waktu tersebut menjadi makanan pokok bagi manusia prasejarah.

Selain di Biak, penemuan dari zaman megalitikum terdapat di Situs Tutari, Kabupaten Jayapura. Di tempat ini ditemukan bongkahan batu berlukis berbentuk binatang-binatang melata.

Sementara itu, peninggalan arkeologi dari zaman kolonial juga banyak ditemukan di beberapa daerah di Papua karena wilayah ini pernah diduduki bangsa Belanda sejak tahun 1900-an hingga pecah perang Pasifik di tahun 1940-an.

Situs zaman kolonial ini misalnya Situs Ifar Gunung, Situs Asei Pulau dan Situs Hirekombe di Kabupaten Jayapura.

Adapun peninggalan arkeologi yang berkaitan dengan sejarah masuknya agama Islam ke Papua, dibuktikan dengan ditemukannya Situs Makam Islam di Lapintal, Kabupaten Raja Ampat, Situs Islam di Pulau Nusmawan, Kabupaten Teluk Bintuni dan lain sebagainya.

"Potensi arkeologi ini merupakan kekayaan sejarah yang sangat bernilai, dan jika dikelola dengan baik bisa memberikan kontribusi bagi pembangunan, baik dari segi sosial budaya, pendidikan maupun ekonomi," ujar Tony.


Editor: bnj | Sumber : ANT

http://sains.kompas.com/read/2010/04/07/06421085/Papua.Miliki.Keragaman.Arkeologi