Tampilkan postingan dengan label Merapi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Merapi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 01 Februari 2011

Merapi 2 Kali Keluarkan Letusan Sekunder, BPPTK Minta Warga Tidak Panik

Selasa, 01/02/2011 23:16 WIB
Merapi 2 Kali Keluarkan Letusan Sekunder, BPPTK Minta Warga Tidak Panik
Parwito - detikNews



Magelang - Gunung Merapi kembali mengeluarkan letusanya. Letusan ini sudah terjadi sebanyak dua kali berturut-turut selama dua hari ini.

Letusan pertama pada pada Senin (31/1) malam pukul 24.00, letusan kedua pada Selasa (1/2) sore ini sekitar pukul 15.10 WIB.

Diduga letusan tersebut diakibatkan hujan yang terjadi di puncak Gunung Merapi yang dua hari terakhir kondisi cuaca mendung menyelimuti wilayah Magelang, Jawa Tengah.

"Saya mendengar Gunung Merapi kembali meletus tadi sore (kemarin). Mungkin itu disebabkan letusan sekunder," ujar anggota Tim SAR Kabupaten Magelang Hendry alias Mas Heng kepada detikcom Selasa(1/2/2011) melalui ponsel.

Menanggap hal ini, Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta Subandriyo menyatakan material vulkanik panas yang ada di lereng Gunung Merapi sangat banyak. Hal ini memungkinkan munculnya letusan sekunder.

Menurut Subandriyo letusan sekunder ini bisa terjadi karena timbunan material vulkanik yang panas terkena air hujan dengan intensitas tinggi.

Namun ia menegaskan bahwa letusan sekunder bersifat lokal dan tidak membahayakan masyarakat yang tinggal di sekitar lereng merapi.

Dikatakan Subandriyo, ketebalan material vulkanik sudah dideteksi karena lokasi yang sulit dijangkau. Namun demikian berdasarkan analisa BPPTK ketebalan material vulkanik bisa mencapai puluhan meter.

"Di kawasan lembah-lembah Merapi material vulkanik bisa menumpuk puluhan meter. Material tersebut juga sangat panas karena suhunya bisa mencapai ratusan derajat celcius," jelas Subandriyo.

BPPTK juga menerima sinyal dari seismograf yang dipasang di Gunung Merapi pada Selasa (1/2). Sinyal ini bisa pertanda ada letusan sekunder namun bisa juga berarti ada gempa vulkanik.

"Kami belum pastikan apakah letusan sekunder atau gempa vulkanik," terang Subandriyo.

Subandriyo meminta masyarakat tidak perlu panik karena letusan sekunder merupakan peristiwa yang wajar dan terjadi di lereng Merapi yang jauh dari permukiman penduduk.

(anw/anw)

Sabtu, 13 November 2010

Dr Andang Bachtiar: Merapi Ada Faktor Penunjaman Lempeng Samudera

Dr Andang Bachtiar: Merapi Ada Faktor Penunjaman Lempeng Samudera
M. Rizal - detikNews



dok pribadi
Jakarta - Sejak Selasa (26/10/2010) Gunung Merapi meletus. Letusan gunung teraktif di dunia, kali ini dianggap lebih besar dari tahun 2006, bahkan tahun 1930-an. Walau letusannya mungkin tak sehebat letusan pada tahun 1006 silam, yang dilaporkan sempat mengubur Kerajaan Mataram Kuno dan Candi Borobudur, letusan kali ini telah memporakprandakan kawasan hutan, kebun dan pemukiman dalam radius 20 km. Tapi hingga dua pekan berlalu, letusan Merapi juga belum berhenti.

Ketua Dewan Penasehat Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI), Dr Andang Bachtiar MSc menjelaskan, kapan mulai dan berakhirnya suatu letusan gunung api memang sulit dipredikasi. Sebab, kadang letusan ini memiliki derajat ketidakpastian yang berbanding terbalik dengan pengetahuan. Untuk mengetahuinya perlu banyak data statistik dan pengalaman.

Berikut petikan wawancara detikcom dengan Andang Bachtiar, lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Geology Department Colorado School of Mines, Golden, Colorado, USA ini di Jakarta, Minggu (7/11/2010).


Sampai kapan gunung Merepai akan terus bergolak? Bisakan diperkirakan dan dipastikan?

Seperti jawaban atas pertanyaan tentang proses berdimensi besar geologi lainnya yang menyebabkan bencana, misalnya rangkaian gempa dan tsunami, perkiraan tentang kapan mulai dan kapan berakhirnya sulit diprediksinya. Suatu periode proses mempunyai derajat ketidakpastian, yang bisa saja berbanding terbalik dengan pengetahuan kita akan proses tersebut. Seberapa lengkap atau seberapa banyak jumlah data statistik empiris akan menunjang suatu prediksi.

Pengetahuan kita tentang tipe letusan Merapi yang non wedhus gembel, yaitu letusan eksplosif membentuk kolom vertikal, yang seperti kita lihat sekarang agak terbatas, karena selama ini yang berulang hampir 5 tahunan adalah letusan tipe nue ardentee atau wedhus gembel itu. Secara teoritis kegiatan letusan akan berkurang dan berhenti saat kandungan gas dalam magma berkurang dan atau
energinya melemah, yang akan didahului dengan keluarnya lava leleran atau sumbat lava .

Kalau kita lihat aktivitas Merapi sampai Minggu (7/11/2010) kamarin, belum ada tanda-tanda penurunan. Jadi, masih belum dapat dipastikan berapa hari, minggu atau bulan lagi aktivitas Merapi di periode ini akan berakhir.

Pengamatan visual atas leleran lava di puncak dan juga monitoring trend gempa akan sangat membantu. Cek terus dengan kawan-kawan di Pusat Vulkonologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) dan di Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta.


Faktor-faktor apa yang menyebabkan Merapai bergolak dan berhenti? Hitung-hitungannya bagaimana?

Selain yang sudah saya jelaskan tadi, mungkin ada faktor tambahan, yaitu adanya penunjaman lempeng Samudera di Selatan Jawa yang menyusup di bawah lempeng benua Asia yang bagian pinggiran atasnya menjadi tempat kita hidup di Sumatra-Jawa-Kalimantan. Penyusupan pertemuan lempeng di arah tersebut sudah dimulai dan berlangsung sejak 32 juta tahun lalu atau zaman Oligocene. Ini menyebabkan dinamika pembentukan jalur gunung berapi pada jarak 150 kilometer dari titik penujaman tersebut, yaitu dalam hal ini Merapi termasuk di dalam jalur tersebut.

Gunung Merapi paling aktif bergolak antara 4 sampai 5 tahun sekali. Kemungkinan ini karena posisinya pada Blok Jawa Tengah, yang selain disusupi dari Selatan, juga ditekan dari Utara. Coba lihat kelurusan pantai-pantai di sepanjang Jawa Tengah, yang menjorok masuk ke dalam, baik di Utara maupun di Selatan. Sementara pantai-pantai di Jawa Barat dan Jawa Timur lebih sempit dari luasan kedua daerah itu, itu sebagai ekspresi penekanan tersebut.


Letusan Gunung Merapi kali ini disebut-sebut letusan yang lebih besar daru tahun-tahun sebelumnya, kenapa?

Iya, menurut data dalam 70 tahun terakhir, memang letusan kali ini yang terbesar. Tapi, pernah juga dicatat letusan pada tahun 1930-an, yang hujan kerikilnya sampai ke Pulau Madura. Dan kemungkinan juga letusan di tahun 1006, seperti yang ditulis oleh Van Bemmelen dalam bukunya 'Geology of Indonesia' tahun 1949, disebutkan letusan Gunung Merapi pada tahun itu telah menghancurkan Kerajaan Mataram Kuno (purba), bahkan sampai mengubur Candi Borobudur dan sebagainya.


Benarkah letusan kali ini menciptakan alur baru lahar? Alur baru itu nantinya di wilayah mana saja?

Mungkin lebih tepatnya adalah aktifasi ataau pengaktifan kembali alur-alur lahar lama. Karena, sebenarnya semua alur sungai di daerah radius seputar Gunung Merapi, yang tersusun dari aliran lahar memang merupakan alur-alur lahar sejak dahulu kala. Hanya saja, dalam periode tertentu arahnya lebih ke Barat, Selatan atau Timur dan sebagainnya. Nah saat ini, alur-alur lama kembali terisi efek endapan-endapan lahar, maupun wedhus gembel dari Merapi.


Kalau begitu, bisa diartikan juga radius wilayah atau daerah yang rawan lebih meluas dan banyak kawasan desa yang harus dikosongkan?

Radius daerah rawan bencana yang diperluas dari 15 km menjadi 20 km, seperti Jumat (5/11/2010) kemarin, menurut saya tidak berhubungan langsung dengan alur-alur baru atau lama. Tetapi itu dengan kekuatan energi luncuran dan jumlah material yang diluncurkan oleh proses awan panas atau wedhus gembel itu, yang lebih besar dari sebelum-sebelumnya. Karena lebih besar, maka radius jangkauannya menjadi lebih luas, bukan karena alur-alurnya baru.


Bagaimana dengan perhitungan mistik? Sering cocokkah, tidak tepatkah, termasuk soal mitos asap Mbah Petruk?

Saya tidak begitu mendalami soal hitung-hitungan mistis seperti itu. Tapi, kalau soal mitos Mbah Petruk, saya cukup kenal ceritanya dari almarhum mertua saya yang asli Ampel Boyolali. Diceritakan bahwa Mbah Petruk itu merupakan kerabat moyangnya penduduk yang mendiami daerah lereng Gunung Merapi dan Merbabu. Dia memang sangat sakti dan tidak pernah mandi. Namun suatu saat menghilang saat terjerumus atau dijerumuskan di suatu pusaran air atau kedung di sebuah sungai di sana.

Setelah peristiwa itu, menurut kepercayaan masyarakat sekitar, Mbah Petruk sering muncul dalam penampakan. Penampakan ini terjadi bila akan ada hal-hal besar di sekitar daerah itu. Penampakannya untuk mengingatkan para kerabat dan turunannya. Itu saja yang saya tahu, dan memang kita sedang mengalami bencana besar saat ini kan?


Kalau diperkirakan, kapan Merapi akan meletus lagi? Kalau periodenya jelas bagaimana melindungi masyarakat sekitarnya?

Kita tahu dari data empiris statistik bahwa periode aktivitas letusan Gunung Merapi itu pendek, yaitu setiap 5 tahunan. Makannya dia disebut sebagai gunung api teraktif di dunia saat ini. Ini menjadi satu kerutinan, yang juga telah disadari oleh pemerintah, khususnya jajaran Badan Geologi Kementerian ESDM.

Melihat rutinitas letusan Gunung Merapi itu, dalam level kesadaran ini, harusnya juga diterapkan di Badan Nasional Penanggulangan Becana (BNPB) dalam rangka memitigasinya mengurangi resiko bencana bagi penduduk. Nampaknya, setelah periode letusan Gunung Merapi ini, BNPB harus konsentrasi full mitigasinya. Mungkin dengan menata ulang memetakan daerah bahaya dan tata ruang secara keseluruhan. Dan ini tentinya harus dilakukan secara lintas sektoral juga.


Selain merupakan musibah, letusan Merapi juga membawa berkah, berupa kesuburan tanah dan pasir sebagai bahan bagunan?

Iya betul. Debu vulkanik yang dihasilkan dari letusan gunung menganding zat yang bisa menyuburkan tanah. Kesuburan tanah akibat letusan gunung ini terutama yang berada di daerah tropis seperti Indonesia. Soal penjelasan ilmiahnya bukan kompetensi saya untuk menjelaskannya. Mudah-mudahan kawan-kawan dari Kementerian Pertanian yang bisa memberikan pencerahan soal ini.

Tentang pasir, materi ini akan terkonsentrasi di alur-alur lahar, yaitu di sungai-sungai yang berhulu di Merapi. Sebab, lahar itu sendiri merupakan bagian dari produk letusan gunung api tersebut. Berdasarkan informasi BPPTK dan PVMBG bahwa material yang sudah dimuntahkan Gunung Merapi ini mencapai 100 juta meter kubik. Maka, diperkirakan pasir-pasir yang akan menjadi rezeki di alur-alur sungai tersebut pastinya tidak akan melebihi jumlah atau volume itu. Karena, mereka hanya sebagian kecil saja proporsinya dari keseluruhan material vulkanik yang diluncurkan Merapi.
(zal/diks)

Merapi Mengancam Borobudur?

Merapi Mengancam Borobudur?
"Paling berat ya sekarang. Dulu abunya tipis, tak bersifat asam karena sulfurnya rendah."
JUM'AT, 12 NOVEMBER 2010, 21:06 WIB
Elin Yunita Kristanti

VIVAnews – Erupsi Merapi mengancam Candi Borobudur. Abu vulkanik setebal 2 centimeter yang mengandung sulfur berpotensi melapukkan candi yang dibangun Wangsa Syailendra itu.

Sejak erupsi pertama, Selasa 26 Oktober 2010, abu telah mengguyur candi Budha itu. Upaya penyelamatan pun dilakukan. Jumat pagi, 12 November 2010, tim mulai bekerja, mempersiapkan alat dan mulai menyingkirkan abu Merapi.

“Hingga pukul 16.00 WIB, kami telah membersihkan 16 stupa di lapisan paling atas,” kata Kepala Balai Konservasi Peninggalan Borobudur (BKPB), Marsis Sutopo ketika dihubungi VIVAnews, Jumat sore.

Stupa-stupa itu telah dibersihkan dari abu dan debu. Caranya, dengan disikat dan disapu. “Lalu, kami netralisasi sulfur atau belerang yang menempel di batu dengan natrium bikarbonat,” kata Marsis.

Bahan apa yang digunakan untuk netralisasi? “Itu yang sering dipakai ibu-ibu masak kue supaya mengembang. Soda kue,” jelas dia, tertawa.

Bahan sederhana yang mudah didapat itulah, yang jadi ‘penyelamat’ Borobudur. “Kalau sulfur diketemukan dengan soda, akan menguap,” kata dia, menjelaskan proses kerja soda kue.

Setelah dinetralisasi, proses selanjutnya, adalah membungkus stupa-stupa dengan plastik, agar terlindungi dari hujan abu yang sewaktu-waktu bisa turun.

“Nanti, kalau keadaan Merapi normal, baru bungkusan stupa kita buka, lalu dibersihkan dengan air. Air akan menyingkirkan sisa-sisa pasir dan debu, juga membersihkan soda kue,” tambah dia.

Dengan luasan dan tinggi Candi Borobudur, Marsis memperkirakan butuh waktu sebulan untuk melakukan pembersihan. “Yang kita bersihkan itu yang langsung berhadapan dengan langit, seperti stupa dan lantai. Kalau relief kan tegak lurus masih ada pelindungnya,” tambah dia.

Bagaimana jika Borobudur dibiarkan tertutup abu? Kata Marsis ada dua risiko yang harus dihadapi.

Pertama, soal artistik. “Bayangkan candi sebesar itu ditutupi abu dan lumpur,” kata dia.

Kedua, abu Merapi mengandung sulfur yang bersifat asam. “Dalam pengukuran kami, derajat keasaman atau Ph 4-5, agak tinggi. Kalau dibiarkan menempel, batunya lama kelamaan akan mengalami pelapukan,” tambah dia.

Dan jangan lupa, Borobudur adalah warisan dunia yang diakui UNESCO. “Ada standar pemeliharaan yang digariskan UNESCO. Tidak seperti membersihkan rumah kita yang kena abu, harus ada pertanggungjawaban ilmiah yang digariskan konvensi internasional,” kata dia.

Marsis mengakui, bukan kali ini saja Borobudur diselimuti debu. Dalam sejarah pengeloaan sebagai warisan dunia sejak 1991, Borobudur juga diselimuti abu letusan Merapi tahun 1996, 2006, dan 2010 ini.

“Tapi, yang paling berat ya sekarang ini. Dulu, abunya tipis, tak bersifat asam karena kadar sulfur tidak tinggi,” kata dia.

Hujan abu saat ini juga tidak disertai hujan deras yang menggelontor abu. Apalagi, tambah dia, kapan Merapi berhenti bergolak, tak pasti. Hujan abu terus mengguyur daerah Muntilan, juga Borobudur yang jaraknya sekitar 30 kilometer dari Merapi.

Pernah hilang?

Meski telah lama tegak menjulang, Borobudur masih menyimpan banyak misteri. Salah satunya, adalah pertanyaan besar yang belum terjawab, mengapa saat ditemukan candi itu dalam kondisi terkubur.

Sejumlah spekulasi berseliweran. Ada yang mengatakan, letusan Merapi pada 1006 telah menghancurkan kebudayaan Mataram Hindu di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, membendung aliran Sungai Progo, membentuk danau besar di Kedu Selatan, serta mengubur Candi Borobudur yang berjarak 30 kilometer dari Merapi.

Dalil ini diungkap Van Bemmelen dalam bukunya "The Geology of Indonesia" yang menyebutkan bahwa piroklastika Merapi pada letusan besar tahun 1006 telah menutupi danau Borobudur menjadi kering dan sekaligus menutupi candi ini hingga lenyap dari sejarah.

Apa yang diungkap Van Bemmelen mungkin terinspirasi tulisan W.O.J. Nieuwenkamp, seorang arsitek, pemahat, pelukis, etnolog Belanda di Indonesia tahun 1933. Ia mengeluarkan hipotesis yang menggegerkan kalangan para sejarawan saat itu: bahwa Borobudur dulunya dibangun di tengah-tengah telaga seperti bunga teratai di tengah kolam. Hipotesisnya itu ditulisnya di majalah umum yang terbit di Belanda ”Het Boroboedoermeer” – Algemeen Handelsblaad, Deen Haag, 9 September 1933.

Namun, penelitian Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian Yogyakarta, Indonesia 2006 membantah hipotesis Borobudur tertimbun karena letusan Merapi.

Jika benar tertutupnya Borobudur akibat letusan Gunung Merapi, mengapa tidak ditemukan sisa endapan yang mempunyai korelasi dengan endapan hasil letusan sekitar waktu tersebut. Letusan yang mengubur candi mestinya sangat besar, dan meninggalkan endapan yang seharusnya mudah ditemukan.

Apalagi berdasarkan Prasasti Prasasti Kalkuta di India yang berangka tahun 963 Saka (1041) atau Prasasti Pucangan dinyatakan bahwa telah terjadi bencana besar (pralaya) pada tahun 928 Saka (tahun 1006) akibat serangan Raja Wurawari dari Lwaram terhadap Kerajaan Mataram Hindu.

Berdasarkan catatan sejarah, “pralaya” yang disebut dalam Prasasti Pucangan tidak pernah terjadi pada tahun 1006, tetapi 1016 atau tahun 1017. Dan itu akibat serangan, bukan letusan Merapi.

Namun, apapun penyebab lenyapnya Borobudur, kita berutang banyak pada Sir Thomas Stamford Raffles, Gubernur Jenderal Britania Raya di Jawa.

Pada 1814, ia yang mendengar ada temuan benda purbakala di Desa Borobudur. Raffles kemudian memerintahkan ilmuwan, H.C Cornelius untuk menyelidiki lokasi penemuan, yang saat itu berupa bukit yang dipenuhi semak belukar.

Kerja Raffles kemudian diteruskan Pemerintah Hindia Belanda yang pada tahun 1907 menunjuk Theodoor van Erp memimpin pemugaran hingga tahun 1911. Melalui proses panjang, Borobudur yang dulu terbenam, bisa menatap Matahari dan berdiri tegak hingga kini.

• VIVAnews

Merapi Dipasangi Mikrofon Infrasonik Jepang

Merapi Dipasangi Mikrofon Infrasonik Jepang
Dengan mikrofon infrasonik ini akan diperoleh grafik data yang lebih akurat.
JUM'AT, 12 NOVEMBER 2010, 19:49 WIB
Eko Priliawito

VIVAnews - Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) memperoleh bantuan tiga mikrofon infrasonik untuk membantu proses pemantauan aktivitas Gunung Merapi.

Mikrofon infrasonik akan segera dipasang untuk mempertajam pantauan terhadap aktivitas gunung teraktif di Indonesia itu agar diketahui grafik aktivitas Merapi lebih cepat dan baik.

Alat itu bantuan dari empat ahli vulkanik dari jepang yaitu, Prof Kenji Nogami, Prof Masato Iguchi, Takayuki Kaneko, dan Satoru Ishii.

Mikrofon infrasonik itu telah dipasang di gunung api yang ada di Jepang. Pemasangan mikrofon infrasonik tersebut juga akan dilakukan di Gunung Krakatau dan Semeru.

Salah seorang ahli vulkanik dari Jepang, Prof Masato Iguchi mengatakan, proses erupsi Gunung Merapi telah mengundang perhatian peneliti dunia, sehingga dirinya bersama dengan tiga ahli vulkanik datang ke Yogyakarta untuk berusaha ikut memahami fase-fase Merapi.

"Alat ini mampu merekam perubahan di puncak merapi dari sistem suara yang dikeluarkan. Sangat membantu ketika puncak Merapi tertutup kabut,” paparnya, Jumat 12 November 2010.

Erupsi Merapi pada 2010 mengalami perubahan tipe letusan apabila dibandingkan sebelum 2006. "Kami akan memberikan pendampingan kepada PVMBG dari sisi keilmuan," tuturnya.

Sementara itu, Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Surono menjelaskan, dengan alat mikrofon infrasonik itu akan diperoleh grafik data yang lebih akurat. Karena, pengamatan yang dilakukan petugas di lapangan tidak pernah mendengar letusan, tapi hanya mendeteksi getaran.

"Alat ini mampu menangkap gelombang tekanan udara yang ditimbulkan letusan Gunung Merapi," katanya.

Dengan tambahan alat itu, diharapkan data yang masuk akan mudah dianalisis sebagai data statistik tambahan yang akurat soal aktivitas dan jumlah letusan. "Jadi tidak hanya berdasarkan pengamatan visual dan alat pada seismometer," ujarnya. (art)

Laporan: Juna Sanbawa| Yogyakarta

• VIVAnews

Kamis, 11 November 2010

"Burger" Khusus untuk Sapi Korban Merapi

"Burger" Khusus untuk Sapi Korban Merapi
65 Ribu ekor sapi di sekitar Merapi terancam kekurangan pangan. Solusinya muncul: burger.
KAMIS, 11 NOVEMBER 2010, 08:33 WIB
Arfi Bambani Amri

VIVAnews - Bukan hanya manusia yang terancam nyawanya oleh Gunung Merapi di Jawa Tengah-Daerah Istimewa Yogyakarta. Setidaknya, 65 ribu ekor sapi di empat kabupaten, Magelang, Sleman, Klaten, dan Boyolali kini terancam kekurangan pakan dan harus turut serta diungsikan akibat bencana letusan Merapi.

Mengatasi ancaman kekurangan pakan ternak ini, tim peneliti dari Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada berhasil mengembangkan ‘burger’ siap saji untuk sapi-sapi korban Merapi. Para peneliti UGM ini membuat semacam ‘burger’ pakan sapi siap saji dengan bahan baku utama jerami padi (70 %), dedak gandum atau polard (20 %), molase dan larutan mikrobia (10%) untuk membantu proses fermantasi.

"Burger pakan sapi ini merupakan campuran dari berbagai bahan yang diramu sehingga kandungan nutrisinya mencukupi kebutuhan ternak dan tidak perlu tambahan bahan pakan lain termasuk hijauan kecuali air minum," kata Prof. Dr. Ali Agus, D.E,A, salah seorang anggota tim peneliti, dilansir laman UGM.

Dosen Jurusan Nutrisi dan Makanan Ternak, Fakultas Peternakan UGM ini menjelaskan, pemilihan bahan pakan utama berasal dari jerami ini dikarenakan harganya relatif murah dan masih mudah didapat. Bahkan untuk proses fermentasinya saja hanya berlangsung 24 jam (1 hari), sehingga relatif cepat bila dibandingkan teknologi pembuatan pakan silase hijauan yang memerlukan waktu 3 minggu.

Proses fermentasi complete feed alias burger pakan sapi akan berhasil, ditandai dengan aroma yang harum dan tekstur tidak berubah atau masih seperti semula serta tidak timbul jamur. Teknik pembuatannya pun cukup mudah.

Setelah bahan jerami padi dan polard dicampur secara merata kemudian moleases (tetes gula tebu) yang telah dicampur dengan larutan mikroba disiramkan di atasnya secara merata. Kemudian bahan campuran tersebut, dimasukkan dalam plastik ukuran 25-30 kg dan ditali rapat. "Pakan ini dapat disimpan hingga 6 bulan."

Burger pakan sapi ini kini sudah didistribusikan sekitar 2 ton ke lokasi penampungan sapai perah di lapangan Tlogo Adi, Mlati Sleman. Berdasarkan pengamanatan, kata Ali Agus, ternak sapi yang diberi pakan ini cukup disukai ternak. "Kami optimistis apabila teknologi ini diadopsi akan dapat mengurangi masalah kerawanan pakan selaman masa krisis Merapi berlangsung. Tiap hari kini diproduksi sekitar 2 ton pakan burger ini," katanya.

Produksi pakan siap saji ini bisa ditingkatkan secara signifikan. Langkah yang perlu dilakukan dengan melakukan alih teknologi ini kepada peternak dan proses pembuatannya pun bisa dilakukan di lokasi dekat penampungan ternak. "Sambil memberikan aktifitas peternak yang juga pengungsi agar tidak jenuh," ujarnya.

Temuan dari tim peneliti Fakultas Peternakan UGM ini merupakan sebuah solusi untuk mengatasi ancaman kekurangan pakan ternak korban bencana Mencari. Apalagi untuk memenuhi kebutuhan pakan memang tidak mudah. Untuk memenuhi kebutuhan 65 ribuan ekor sapi saja, minimal diperlukan hijauan 1.300 ton/hari apabila setiap ekor membutuhkan rata-rata 20 kg/ekor/hari. Demikian juga untuk kebutuhan pakan konsentrat, apabila setiap ekor rata-rata 5 kg/ekor/ hari, maka diperlukan pakan konsentrat sebanyak 325 ton/hari.

• VIVAnews

Kamis, 28 Oktober 2010

Jika Lama Tidak Erupsi, Merapi Malah Menakutkan

Jumat, 29/10/2010 08:29 WIB
Jika Lama Tidak Erupsi, Merapi Malah Menakutkan foto
Nurvita Indarini - detikNews




Jakarta - Pada 2006 lalu, Gunung Merapi meletus dengan menelan 2 korban jiwa. 4 Tahun kemudian, erupsi kembali terjadi dengan lebih cepat dan lebih besar sehingga menewaskan lebih 30 orang. Merapi memang perlu sering bererupsi untuk melepaskan energinya, bila dia lama tidak meletus malah menakutkan.

Pada dasarnya suatu gunung yang sering mengalami erupsi tidak banyak mengeluarkan material dibanding gunung yang jarang erupsi. "Semakin sering volume dikeluarkan maka semakin jarang materialnya. Makanya kalau Gunung Merapi sudah 10 tahun tidak erupsi malah ngeri, karena nanti akan ada material yang lebih besar lagi yang keluar," terang vulkanolog Dr Eko Teguh Paripurno kepada detikcom, Kamis (28/10/2010).

Erupsi Gunung Merapi terjadi karena guguran kubah lava akibat ketidakseimbangan. Ketidakseimbangan itu relatif konstan pada volume tertentu. Seperti halnya sebuah gelas yang tidak akan mampu menampung air apabila telah terisi penuh, sebab ada masa ketika suatu wadah tidak bisa ditambah lagi.

"Ada kecepatan pengisian kubah dan kubah itu akan terbentuk pada waktu tertentu. Titik keseimbangan ini tercapai pada 5-6 tahun, sehingga setelah itu ada guguran lagi," sambung pria berkacamata ini.

Titik kematangan magma di gunung yang satu berbeda dengan gunung yang lain. Hal ini dikarenakan kandungan kimianya yang berbeda. Akumulasi energi dan kandungan material yang ada di dalam perut Gunung Merapi membuatnya butuh waktu sekitar 5 tahun untuk mencapai kematangan.

Berdasar situs ESDM, dari 129 gunung api yang ada di wilayah Indonesia, Gunung Merapi termasuk yang paling aktif. Gunung ini memiliki tipe Strato-volcano dan secara petrologi magma Merapi bersifat andesit-basaltik.

Dinamika erupsi Merapi umumnya didahului pertumbuhan kubah lava diikuti guguran awan panas, guguran lava pijar dan jatuhan piroklastik. Bahaya utama yang mengancam sekitar 40.000 jiwa yang tinggal di sekitar Merapi yang merupakan kawasan rawan bencana adalah pyroclastic flow atau aliran awan panas di samping bahaya sekunder lahar yang dapat terjadi pada musim hujan. Dalam 100 tahun terakhir ini rata-rata terjadi sekali erupsi dalam 2-5 tahun.

Di luar ancaman bencana yang sewaktu-waktu bisa terjadi, Merapi memiliki aspek sosial dan ekonomis yang penting bagi kemajuan wilayah sekitarnya. Material erupsi Merapi seperti pasir dan batu menjadi penunjang pembangunan di Yogyakarta dan Jawa Tengah. Demikian juga halnya dengan produk pertanian yang dihasilkan di lereng Merapi dan majunya perkembangan wisata yang mendukung tumbuhnya ekonomi setempat.


(vit/nrl)