Tampilkan postingan dengan label Gempa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gempa. Tampilkan semua postingan

Jumat, 10 Desember 2010

Gempa Skala Kecil Bisa Berpotensi Tsunami

PENELITI LIPI:
Gempa Skala Kecil Bisa Berpotensi Tsunami
Besar kecilnya tsunami yang menyertai gempa tidak harus ditentukan lewat besaran skala.
SABTU, 11 DESEMBER 2010, 06:50 WIB
Irina Damayanti, Suryanta Bakti Susila

VIVAnews - Tsunami di Mentawai, Sumatera Barat, 25 Oktober 2010, ternyata jauh lebih besar dari yang diperkirakan sebelumnya. Banyaknya korban jiwa dan kerusakan di Pulau Pagai dan Sipora akibat tsunami itu memperlihatkan betapa seriusnya bencana yang terjadi.

Menurut peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Dr Danny Hilman Natawidjaya, besar kecilnya tsunami yang menyertai gempa tidak harus ditentukan lewat besaran skala gempa tersebut. Namun, titik pusat gempa juga ikut menentukan.

"Jadi, tidak mesti getaran besar. Tapi, gempa dengan getaran kecil pun bisa berpotensi tsunami. Jangan berpatokan hanya skala richter-nya," kata Hilman dalam sebuah diskusi di Jakarta.

Dia menjelaskan, pada tsunami Mentawai, titik pusat gempa berada di bawah air, sehingga mengangkat volume air lebih banyak.

Hilman pun membandingkan gempa dengan skala lebih besar, tetapi tidak disertai tsunami. Hal itu disebabkan titik gempa di bawah lempengan, sehingga yang terangkat hanya tanahnya.

Danny mengingatkan, berdasarkan penelitiannya, kawasan Mentawai memang sangat berpotensi gempa. Dia memaparkan, sebelumnya pernah terjadi gempa dan tsunami yang lebih besar pada 1300-an dan 1685 di wilayah itu.

"Tahun ini, ada yang masih perlu diwaspadai. Kami bisa prediksi besarnya, tapi tidak bisa prediksi kapan waktunya. Kapan gempa itu akan muncul, itu pertanyaan susah," katanya. (art)

• VIVAnews

Senin, 22 November 2010

Gempa yang Mengintai Jakarta

Gempa yang Mengintai Jakarta
Dikepung sesar aktif di Selat Sunda dan patahan lain di Jawa Barat, Jakarta rawan gempa.
JUM'AT, 19 NOVEMBER 2010, 22:22 WIB
Indra Darmawan, Zaky Al-Yamani, Agus Dwi Darmawan
Peta bahaya gempa Indonesia terbaru tahun 2010 (ANTARA/Widodo S. Jusuf)

VIVAnews - Masih lekat dalam ingatan Safarudin, saat Jakarta diguncang gempa tahun lalu. Rabu, 2 September 2009, pukul 14.55 wib, tukang ojek 27 tahun yang biasa mangkal di dekat Wisma Nusantara itu terhenyak, ketika bumi yang dipijaknya bergoyang keras.

“Kreeek…kreeek,” bunyi itu terdengar dari atas, begitu keras di tengah deru kendaraan yang lalu-lalang di sekitar Bundaran Hotel Indonesia, yang mulai memadat. Safar menengadah ke langit, gedung-gedung jangkung di sekelilingnya terlihat berayun-ayun seolah-olah hendak rubuh menimpanya.

Belum selesai ia mencerna apa yang tengah terjadi, sekonyong-konyong orang-orang dari dalam gedung Wisma Nusantara terbirit-birit berhamburan keluar gedung. “Gempa… gempa..” Tanpa pikir panjang lagi, Safar melompat ke motornya. Ia pacu gas sekencang-kencangnya menyusuri Jl Sutan Syahrir, menjauh dari rimba pencakar langit di pusat kota itu.

Tak jauh dari situ, Sianto Wongjoyo, salah seorang Manajer di Dell Indonesia masih ‘terperangkap’ di kantornya yang berada lantai atas Menara BCA Grand Indonesia Jakarta. Kantor Dell yang baru setahun pindah ke gedung itu, memang terletak lumayan tinggi, yakni di Lantai 48 dari 57 lantai yang ada.

Saat kantornya mulai bergoyang, Sianto tengah rapat. Biasanya ia tak terlalu sensitif terhadap gempa. Namun kali itu guncangan gempa cukup besar untuk menyadarkannya. Lantai bergoyang, kaca-kaca kantor bergetar, dinding-dinding berderak. “Kali ini harus saya akui, benar-benar hebat guncangannya,” Sianto menggambarkan.

Dengan sigap, petugas keamanan memandu para karyawan berkumpul di lorong lift. Dalam hati, Sianto tak lepas berdoa. Menunggu cemas, hingga akhirnya gempa berhenti. Sesaat kemudian, semua dievakuasi keluar gedung, menyusuri anak tangga satu persatu. Jarak 48 lantai memang cukup membuat lutut sedikit linu. “Lumayan capek sih.” Di bawah, ribuan pengunjung dan karyawan yang berkantor di Grand Indonesia, Plaza Indonesia, Wisma Nusantara, Hotel Nikko, sudah menyemut.

Jangan lupa, Jakarta juga masih punya sekitar 1400 gedung tinggi lainnya. Praktis, aktivitas perkantoran di banyak tempat di Jakarta lumpuh sesaat. Padahal, episentrum gempa saat itu berada di perairan selatan Jawa antara Sukabumi dan Bandung, atau tepatnya di koordinat 7,809 derajat Lintang Selatan dan 107,259 derajat Bujur Timur.

Di Jawa Barat Gempa berkekuatan 7,3 SR itu merenggut setidaknya 79 nyawa, 21 korban hilang, 63.717 rumah rusak berat, dengan perkiraan kerugian lebih dari Rp 300 miliar. Sementara di Jakarta, tak ada korban jiwa dan kerusakan yang berarti. Hanya saja, beberapa gedung mengalami keretakan di sana sini. Setidaknya peristiwa itu mengingatkan semua bahwa Jakarta bukan tempat aman dari ancaman gempa.

Menurut Deputi Ilmu Pengetahuan Kebumian LIPI Profesor Riset Hery Harjono, secara umum wilayah Jakarta memiliki formasi geologi berusia muda. Lapisan paling atas umumnya berupa tanah lunak yang terdiri dari lempung dan lempung pasiran yang berasal dari endapan pantai dan endapan akibat banjir yang berasal dari periode holosen akhir (berusia sekitar 12 ribu tahun).

Kemudian, di bawahnya terdapat endapan aluvial volkanik yang berasal dari pleistosen akhir (berusia lebih dari 12 ribu tahun). Di bawahnya terdapat endapan marine dan non-marine berumur Pleistosen Awal (sekitar 2.588 juta tahun). Di bagian paling bawah terdapat batuan berumur tersier (1,8 juta - 6,5 juta tahun).

Ir Engkon K Kertapati, peneliti pada Pusat Survei Geologi – Badan Geologi, mengatakan bahwa Jakarta berada di atas tanah yang sangat lemah dan rentan terhadap guncangan gempa. Secara geologi, Jakarta terbagi dua wilayah; Jakarta bagian utara di mana permukaan tanahnya merupakan tanah lunak berusia holosen, dan Jakarta bagian selatan yang lapisan tanahnya relatif lebih padat dan berusia lebih tua (pleistosen).

Bila gempa kuat terjadi, wilayah Jakarta utara paling rawan mengalami proses likuifaksi alias amblasnya permukaan tanah karena perubahan sifat tanah dari padat menjadi air karena gempa. Selain itu, sifat tanah di wilayah utara itu juga akan merambatkan getaran gempa sehingga mengalami amplifikasi atau perbesaran guncangan terhadap gedung-gedung di atasnya.

Menurut Engkon, ini yang membuat Jakarta juga turut merasakan guncangan gempa Tasikmalaya yang pusatnya berjarak hampir dua ratus km dari Jakarta. Saat itu, wilayah Utara Jakarta mengalami amplifikasi gempa hingga 2 kali, sementara wilayah selatan Jakarta mengalami amplifikasi gempa sebesar 1,5 kali.

Oleh karenanya, ahli Gempa LIPI Dr Danny Hilman Natawidjaya mengatakan bila gempa Tasik bermagnitudo lebih besar, misalnya lebih dari 8SR, maka gempa itu bisa memporakporandakan Jakarta. “Ini bisa mematikan, seperti kejadian gempa di Meksiko tahun 1985,” kata Danny. Saat itu, ia menjelaskan, sumber gempa berjarak lebih dari 300 km. Namun, dengan kekuatan gempa sebesar 8,1 SR, gempa itu meratakan kota Mexico City.

Badan survei geologi AS, USGS, menyebutkan, setidaknya 9.500 orang tewas, 30 ribu orang terluka, lebih dari 100 ribu orang menggelandang karena rumah mereka hancur, 412 bangunan tumbang dan 3.124 bangunan lainnya rusak di Mexico City, dengan jumlah kerugian mencapai US$ 3 – 4 miliar. 60 persen dari bangunan-bangunan di daerah lain seperti Ciudad Guzman, Jalisco juga musnah.

Dari catatan Prof Masyhur Irsyam, pakar teknik sipil ITB yang juga kepala tim revisi Peta Gempa Indonesia 2010, pusat gempa Meksiko terjadi di bawah garis pantai Pasifik Meksiko. Episentrumnya berjarak 380 km dari Mexico City.

Lalu kenapa jarak pusat gempa yang begitu jauh tetap bisa mengoyak bangunan-bangunan di Mexico City? Ternyata kota itu berdiri di atas endapan lempung vulkanik yang berusia kurang dari 2.500 tahun. Ini menyebabkan getaran gempa di permukaan tanah bisa mengalami amplifikasi antara 4-5 kali, dan amplifikasi gempa pada bangunan bisa mencapai 21 kali lipat dari getaran di batuan dasar.

Proses amplifikasi pada Gempa Meksiko (courtesy: Prof Masyhur Irsyan)

Di Jakarta sendiri, gedung-gedung yang dibangun, musti memenuhi standar tahan gempa hingga 8 Skala Richter. Menurut Hermawan Sarwono, Direktur Utama perusahaan kontraktor umum PT Insani Daya Kreasi, gedung-gedung di Jakarta yang dibangun pasca 1989 sudah harus memenuhi persyaratan struktur gedung dan kinerja struktur gedung sesuai dengan Standar Nasional Indonesia 1989.

“Bahkan, standarisasi pembangunan gedung pada 2002, ditingkatkan lagi melalui SNI 03-1726-2002 yang jauh lebih ketat dari standar SNI 1989,” kata Hermawan lagi. Namun, kata Masyhur, ada beberapa tahapan yang perlu dilewati dalam sebuah perencanaan bangunan di Jakarta agar tahan gempa.

Pertama, harus diketahui goyangan atau percepatan di batuan dasar. Angka ini bisa diperoleh dari Peta Gempa Indonesia 2010, di mana percepatan di batuan dasar (Peak Base Acceleration/ PBA) Jakarta adalah 0.19 g (g = gravitasi bumi = 981 cm per detik kuadrat) untuk 10 persen kemungkinan terjadinya dalam 50 tahun dan untuk perioda ulang gempabumi 475 tahunan.

Setelah itu, perlu diketahui pula percepatan di permukaan tanah dengan menghitung efek kondisi tanah setempat, misalnya apakah tanah lunak atau tanah keras. Untuk Jakarta, goyangan di batuan dasarnya bisa saja sama, namun goyangan di permukaan tanah Jakarta Utara dan Jakarta Selatan berbeda, karena perbedaan tanahnya.

Yang terakhir, perlu diperhitungkan goyangan di bangunannya sendiri, yang didasarkan pada perilaku bangunan tersebut. "Dengan mengetahui goyangan pada bangunan, maka dapat dihitung besarnya gaya gempa pada bangunan,” kata Masyhur.

Padahal, hingga kini Jakarta masih belum memiliki peta mikrozonasi gempa, yang bisa secara lengkap menyediakan informasi peta kelabilan tanah, termasuk angka percepatan/ goyangan di permukaan tanah di masing-masing wilayah Jakarta. “Sayangnya di Jakarta kita tidak punya,” kata Masyhur.

Padahal, Jakarta diintai oleh beberapa sesar aktif yang siap ‘menyuplai’ getaran gempa yang bisa sampai ke wilayah Jakarta. Di antaranya adalah Sesar Cimandiri dengan magnitudo gempa 7,2 SR dan kecepatan pergerakan tanah 4 mm per tahun, sesar Lembang dengan magnitudo gempa 6,5 SR dan kecepatan pergerakan tanah 1,5 mm per tahun, dan Sesar Sunda dengan magnitudo gempa 7,2 SR dan kecepatan pergerakan tanah 5 mm per tahun.

Belum lagi rumor adanya sesar purba bernama Sesar Ciputat yang konon terbujur dari Ciputat hingga ke daerah Kota. Danny Hilman mencurigai keberadaan sesar ini dari keberadaan sumber mata air panas di sekitar Gedung Arsip Nasional. Meski patahan aktif Jakarta belum terdeteksi, kata Danny, sejarah mencatat gempa besar pernah meluluhlantakkan Jakarta yaitu gempa yang terjadi pada 1699 dan 1852.

Namun, tak semua setuju dengan indikasi keberadaan sesar di Jakarta. “Secara pribadi saya katakan Sesar Ciputat tidak ada,” kata Engkon. Sebab, Jakarta tak memiliki sumber gempa dangkal yang merupakan indikasi dari kegiatan sesar. Namun, Engkon sepakat dengan Danny mengenai kejadian gempa 1699 yang sempat mengguncang Jakarta.

Gempa tahun 1699, kata Engkon berpusat di selatan Gunung Gede, yang menyebabkan terjadinya kerusakan bangunan dan kerusakan parah di sekitar Hanjawar, Puncak. Sir Thomas Stamford Raffles juga mencatat dalam bukunya History of Java, "Gempa 1699 memuntahkan lumpur dari perut bumi. Lumpur itu menutup aliran sungai, menyebabkan kondisi lingkungan tak sehat, kian parah.”

Menurut buku Encyclopedy of World Geography, gempa ini juga menyebabkan Sungai Ciliwung tertutup oleh longsor lumpur, dan pohon-pohon yang bertumbangan, sehingga terjadi banjir di banyak tempat. Tak sampai seabad kemudian, gempa kembali melanda Jakarta pada 1780.

Sebuah Buku berjudul Transits of Venus: New Views of the Solar System and Galaxy mencatat bahwa Observatorium Mohr yang terletak di Batavia, adalah observatorium yang sukses melaporkan beberapa kejadian Transit of Venus (kondisi saat Matahari Venus dan bumi dalam satu garis). Namun, observatorium tersebut hancur akibat gempa tahun 1780.

Pada 27 Agustus 1883, Jakarta kembali diguncang gempa besar akibat letusan Gunung Krakatau yang memicu tsunami 35 meter dan menewaskan 36 ribu jiwa di Jawa bagian barat, dan sebelah selatan Sumatera. Dari catatan-catatan sejarah tadi, Jakarta memang pernah beberapa kali mengalami gempa hebat.

Yang jelas, kata Engkon, ancaman bagi penduduk Jakarta adalah gempa-gempa dangkal yang bersumber dari Jawa Selatan yakni dari arah zona Subduksi (Megathrust) seperti gempa Tasik. Kerentanan Jakarta akan semakin parah bila daerah-daerah tesebut padat penduduk dan bangunan-bangunannya tidak atau kurang memperhatikan aspek bangunan tahan gempa.

Oleh karenanya, Engkon menyarankan agar Jakarta bersiap sebelum bencana tiba, khususnya Jakarta Utara. Pasalnya, di wilayah ini berbagai infrastruktur penting berdiri, dari mulai pelabuhan, kegiatan ekspor impor, transportasi, daerah wisata, sentra-sentra perdagangan juga peninggalan sejarah. ”Sebab, bagaimanapun juga, gempa bumi tidak akan membunuh manusia. Tapi, bangunan roboh lah yang bisa membunuh manusia,” kata Engkon.

• VIVAnews

Rabu, 21 Oktober 2009

Membiasakan Diri Menghadapi Gempa

Rabu, 21/10/2009 14:15 WIB

Membiasakan Diri Menghadapi Gempa

Vera Farah Bararah - detikHealth


img
(Foto: time)
Jakarta, Posisi Indonesia yang terletak di pertemuan 3 lempeng yaitu Eurasia, Pasifik, dan Indo-Australia membuat negeri ini rentan terhadap gempa. Tapi meski sudah sering mengalami gempa, banyak masyarakat yang masih belum tanggap mewaspadai gempa dan lebih banyak bersikap panik saat bumi bergoyang.

Selama ini masyarakat hanya tahu cara melindungi diri dari ancaman gempa adalah dengan berlindung di bawah meja, tapi ternyata cara ini kurang efektif. Karena bisa saja tubuh tetap tertimpa reruntuhan dari bangunan yang ada disebelahnya.

Gempa bisa datang kapan saja tanpa bisa diduga, sehingga terkadang membuat sebagian besar orang menjadi panik. Saat panik tersebut biasanya otak tidak bisa berpikir dengan jernih dan cenderung mengambil langkah yang salah. Alhasil, meski sudah beberapa kali menghadapi gempa, masyarakat masih juga belum terbiasa menyiapkan diri dengan aman.

Beberapa cara yang bisa dilakukan untuk membiasakan dan melindungi diri dari ancaman gempa yang banyak dilakukan negara rawan gempa seperti Jepang, dikutip dari
Earthquakesolution, Rabu (21/10/2009) adalah:

1. Rutin melakukan latihan cara menghadapi gempa. Pelatihan ini bisa berlangsung di sekolah dan gedung-gedung perkantoran, sehingga masyarakat bisa tahu apa yang harus dilakukan jika terjadi gempa dan mengurangi kepanikan.

2. Usahakan untuk menyiapkan tas ransel, yang berisi air minum botol, makanan, obat-obatan P3K, uang tunai, pakaian kering, radio, senter, serta dokumen-dokumen penting. Tempatkan tas tersebut di dekat pintu.

3. Cari tahu bagaimana struktur dari bangunan yang Anda tempati, sehingga Anda dapat memperkirakan tempat mana yang aman untuk berlindung saat gempa.

4. Menerapkan "Drop, cover and hold on" (menunduk, melindungi kepala, pegangan) tetap menjadi perlindungan yang paling direkomendasikan selama terjadinya getaran gempa dan merupakan perlindungan utama serta yang terpercaya. Yaitu tidak berdiri saat terjadi gempa, lindungi kepala dan leher Anda bisa dengan benda berat, lengan tangan, bantal atau dengan posisi meringkuk seperti bayi dan kucing lalu berpeganglah pada suatu benda yang kuat saat terjadi goncangan.

5. Berlindung di bawah meja tidak selalu diperlukan. Hal ini karena seseorang harus tetap memperhatikan struktur bangunan di sekitarnya, apakah memungkinkan untuk berlindung di bawah meja atau justru bisa tertimpa reruntuhan.

6. Jangan berlari atau berjalan saat sedang terjadi getaran, sebaiknya tunggu sekitar 3 detik. Orang yang berjalan saat ada getaran akan tidak seimbang dan kemungkinan terlempar akibat tekanan gempa sehingga bisa menimbulkan cedera yang lebih serius.

7. Pilihlah tempat yang Anda rasa paling aman dan memiliki pondasi yang kuat seperti dekat pintu atau lift, diamlah di sana sambil tetap lindungi kepala Anda hingga getaran tersebut berhenti.

8. Sebaiknya tetaplah membuat Anda merasa tenang, karena dengan begitu Anda dapat berpikir dengan jernih langkah apa yang harus dilakukan.

Kamis, 08 Oktober 2009

Perubahan Iklim Membuat Gempa Menjadi Lebih Dahsyat

Perubahan Iklim Membuat Gempa Menjadi Lebih Dahsyat
KAMIS, 8 OKTOBER 2009 | 09:51 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Jauh dari gambaran lembut seperti dilukiskan mitologi-mitologi kuno, Dewi Pertiwi sesungguhnya gampang senewen dan meledak-ledak.

Dia begitu peka sehingga sedikit saja cuaca dan iklim berubah, maka tercabiklah kerak bumi, dan keluarlah letusan vulkanik, gempa bumi dan longsor yang semuanya dahsyat.

Pernyataan itu bukan dari pendongeng, melainkan kesimpulan sejumlah ilmuwan yang pertengahan September 2009 berkumpul di London, Inggris, pada satu konferensi bertajuk "Climate Forcing of Geological and Geomorphological Hazards".

Para ilmuwan itu menilai perubahan iklim bisa merusak keseimbangan planet Bumi, kemudian menghadiahi manusia dengan rangkaian bencana geologis.

Sudah lama diketahui bahwa antara iklim dan pergerakan kerak bumi saling berkaitan, namun baru kini ditegaskan bahwa betapa pekanya lapisan bumi terhadap udara, es dan air di atasnya.

"Anda tak perlu perubahan besar-besaran untuk memancing respons kerak bumi," kata Bill McGuire dari University College London (UCL), ketua konferensi ilmuwan itu.

Simon Dya dari Universitas Oxford, serta McGuire dan Serge Guillas dari UCL, memaparkan bukti, bagaimana perubahan halus pada tingkat permukaan laut mempengaruhi kegempaan di Patahan Pasifik Timur, salah satu batas lempeng benua yang menjadi mekar paling cepat.

Para ilmuwan memokuskan perhatian pada lempeng mini Easter - lempeng tektonik yang menghampar di bawah samudera di lepas pantai Pulau Easter - karena lempeng ini relatif terisolir dari sesar-sesar lain.

Fokus ini mempermudah upaya membedakan perubahan-perubahan dalam lempeng tektonik yang terjadi karena sistem iklim, dari yang tercipta akibat tumbukan.

Sejak 1973, datangnya gelombang El Nino setiap sekian tahun berkorelasi dengan frekuensi gempa bawah laut berkekuatan magnituda 4 dan 6.

Ilmuwan yakin, kemunculan El Nino dan terjadinya gempa bawah laut itu berkaitan. El Nino menaikkan permukaan air laut sampai puluhan centimeter. Ilmuwan juga yakin berat air ekstra bisa meningkatkan tekanan aliran fluida dalam pori-pori batuan dasar laut.

Tekanan ini cukup menetralisir energi geseran yang menyangga batuan agar tetap di tempatnya, sehingga sesar-sesar menjadi mudah bergeser. "Perubahan pada tingkat permukaan laut terjadi pelan dan usikan kecil saja bisa berdampak luar biasa besar," kata Day.

Letusan Vulkanik

Perubahan kecil di samudera itu juga dapat mempengaruhi letusan vulkanik, sambung David Pyle dari Universitas Oxford.

Setelah meneliti letusan-letusan vulkanik dalam 300 tahun terakhir, Pyle menilai karakter vulkanisme (aktivitas vulkanik) berbeda-beda, tergantung musim.

Katanya, letusan vulkanik di seluruh dunia 20 persen lebih sering terjadi di musim dingin (belahan bumi utara) ketimbang di musim panas.

Itu karena tingkat permukaan air laut global turun perlahan selama musim dingin, dan berhubung daratan lebih banyak di belahan utara, maka air menjadi lebih banyak membeku menjadi es dan salju selama musim dingin (belahan selatan).

Sementara itu, kebanyakan gunung api teraktif di dunia hanya puluhan kilometer dari pantai. Ini menunjukkan, penyusutan bobot samudera di tepi benua yang terjadi secara musiman akibat menurunnya permukaan air laut, bisa memicu letusan vulkanik di seluruh dunia, ulas Pyle.

Pandangan tentang beberapa gunung api meletus saat permukaan air laut turun, tak berarti naiknya permukaan laut akibat perubahan iklim, akan menekan aktivitas vulkanik.

Di Alaska, Gunung Pavlof lebih sering meletus pada bulan-bulan di musim dingin, sementara penelitian awal Steve McNutt dari Observatorium Gunung Api menyimpulkan, naiknya permukaan laut 30 cm setiap musim dingin, terjadi karena rendahnya tekanan udara dan kuatnya gelombang badai.

Lokasi Gunung Api Pavlof berada menunjukkan, bobot tambahan di samudera terdekat bisa menekan magma ke permukaan.

Di wilayah lain, berat estra samudera saat tingkat permukaan laut naik, bisa melengkungkan kerak bumi dan mengurangi pemampatan sehingga magma menjadi lebih mudah mencapai permukaan di gunung-gunung api terdekat, kata McGuire.

Semua contoh itu agaknya saling bertentangan, namun intinya setiap perubahan permukaan laut bisa mengubah tekanan di tepi benua yang cukup untuk memicu letusan gunung berapi yang sudah siap meletus, kata McGuire.

Perubahan kecil dalam curah hujan bisa juga memicu letusan vulkanik. Pada 2001, letusan besar di gunung api Soufriere Hills di Pulau Montserrat di Karibia terjadi karena tingginya curah hujan.

Curah hujan yang tinggi ini menggoyahkan kubah gunung api hingga cukup untuk memuntahkan magma dalam perut gunung api.

Kini, hujan tropis tampaknya sudah umum dianggap bisa memicu letusan gunung api, sedangkan menurut model ilmiah iklim, banyak kawasan, termasuk daerah tropis, bertambah panas akibat perubahan iklim.

Adrian Matthews dari Universitas East Anglia dan para koleganya, meneliti respons menit ke menit gunung berapi Montserrat setelah dikenai lebih dari 200 rangsangan selama tiga tahun. Tim peneliti menemukan, respons itu terlihat dari meningkatnya aktivitas vulkanik selama dua hari.

Hujan harian meningkatkan kemungkinan keroposnya kubah gunung api dari 1,5 sampai 16 persen sehingga tak perlu menunggu hujan besar. "Anda juga tak perlu badai (untuk menggerogoti kubah gunung)," kata Matthews.

Lapisan Es

Mungkin hambatan geologis terbesar selama perubahan iklim adalah dampak mencairnya lapisan es. Di samping risiko bahwa sedimen-sedimen goyah yang muncul karena es mencair bisa menyelinap masuk laut sebagai longsor pemicu tsunami, tanggalnya lapisan es juga bisa memicu letusan gunung api.

"Bahkan penciutan (lapisan es) puluhan sentimeter saja sudah cukup menciptakan perubahan," kata Andrew Russell dari Universitas Newcastle.

Contohnya glasier Vatnajokull di Islandia yang berdiri di atas batas lempeng dan sejumlah gunung api yang kemungkinan sirna dua abad nanti. "Jika itu sirna, Anda mesti berjuang membunuh kengerian dari membesarnya beban (samudera) yang akan meningkatkan aktivitas vulkanik," kata Russell.

Di awal zaman es terakhir, aktivitas vulkanik di Islandia utara meningkat hingga 30 kali lebih besar dibandingkan sekarang. Dan jika nanti gunung-gunung api di belahan utara yang tertutup es itu meletus, maka hamburan letusan akan menebari dunia.

Ilustrasinya terjadi pada 1783 saat Gunung Berapi Laki di Islandia memuntahkan debu belerang ke seluruh Eropa sehingga benua ini mengalami satu musim dingin maut yang membunuh ribuan orang.

Saat ini memang belum jelas berapa besar perubahan iklim akan memengaruhi frekuensi dan intensitas gempa bumi serta letusan gunung api mengingat kepekaan Planet Bumi terhadap iklim baru teramati intens belakangan ini.

Selain itu, belum cukup data untuk menciptakan model pemrakira cuaca yang mengaitkan kedua sistem. "Tapi yang pasti, aksi manusia semakin mudah memprovokasi Planet Bumi," kata McGuire.


BNJ
Sumber : ANT

http://sains.kompas.com/read/xml/2009/10/08/09513570/perubahan.iklim.membuat.gempa.menjadi.lebih.dahsyat

Rabu, 07 Oktober 2009

Perlu Skenario Evakuasi Penanganan Gempa

LIPI: Perlu Skenario Evakuasi Penanganan Gempa
SELASA, 6 OKTOBER 2009 | 17:42 WIB

JAKARTA,KOMPAS.com - Dalam penanganan tanggap darurat bencana gempa seperti yang terjadi di Sumatra Barat beberapa waktu lalu, diperlukan skenario evakuasi yang ilmiah guna meminimalisir jumlah korban yang berjatuhan akibat gempa.

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menekankan, pengurangan terhadap jatuhnya korban harus dilakukan mulai dari antisipasi sebelum terjadinya gempa.

"Intinya bagaimana me-manage kemampuan warga yang terpapar bahaya gempa tersebut. Dengan mengurangi resiko, sampai tindakan tanggap darurat. Contohnya dengan simulasi keadaan terjadi gempa, yakni pada saat dan setelah gempa," papar Deputi Bidang Jasa Ilmiah LIPI Prof Dr Ir Jan Sopanheluwakan, Selasa ( 6/10 ), di Gedung LIPI, Jakarta.

Ia memaparkan, perlunya didirikan pusat-pusat evakuasi gempa di titik-titik yang dipetakan sebagai lokasi aman gempa. Yakni di dataran-dataran tinggi dengan kapasitas yang besar. "Ini juga penting sebagai lokasi evakuasi jika terjadi tsunami. Masyarakat bisa bergerak mengamankan diri kesitu," kata dia.

Selain itu, lanjut Jan, perlu disiapkan skenario evakuasi yang bisa menjadi pedoman masyarakat untuk tindakan yang harus diambil setelah terjadinya bencana. "Semisal, jika seseorang berada di satu lokasi pada saat gempa. Dia tahu kemana harus bergerak untuk menyelamatkan diri," ujarnya.

Kedepannya, tambah Jan, diperlukan langkah-langkah untuk membangun kembali kawasan yang terpapar gempa. Perlu adanya penataan ruang yang lebih aman terhadap gempa. "Yang kita tidak kita inginkan adalah bencana menyebabkan kemunduran. Harusnya diambil sisi positifnya, yaitu untuk penataan ruang yang lebih baik dan aman dari bencana," tandasnya.


C11-09

http://sains.kompas.com/read/xml/2009/10/06/17425561/lipi.perlu.skenario.evakuasi.penanganan.gempa.

Senin, 14 September 2009

Tahan Gempa, Rumah Bambu

Senin, 14/09/2009 20:12 WIB
Tahan Gempa, Rumah Bambu Bisa Bertahan Hingga 20 Tahun
Didi Syafirdi - detikNews

Jakarta
- Pascagempa yang melanda Tasikmalaya, Jawa Barat, ratusan rumah berstruktur beton mengalami kerusakan. Dibanding dengan struktur beton, rumah bambu bisa bertahan dari gempa hingga 20 tahun lamanya.

"Usaha untuk membantu masyarakat yang terkena gempa khususnya di Jawa Barat dengan membuatkan rumah dari bambu cukup efektif. Kalau hal ini bisa diatasi, saya kira sekitar 20 tahun bangunan ini (struktur bambu) bisa bertahan," kata Ketua Ikatan Arsitek Indonesia Endy Sugijono.

Hal itu disampaikan dia dalam Diskusi Properti yang bertajuk "Standar dan Pengawasan Bangunan Tahan Gempa" di Griya Jenggala, Jl Jenggala, Jakarta Selatan, Senin (14/9/2009).

Hal itu terbukti pada saat gempa waktu lalu, rumah yang terbuat dari bambu tidak ikut roboh. "Pada saat gempa, dia (bangunan bambu) akan ikut goyang sehingga tidak mudah roboh. Tapi harus diperhatikan bagaimana merawatnya agar terhindar dari rayap," katanya.

Salah satu contoh bangunan bambu yang tidak roboh adalah perumahan di Kampung Naga, Garut, Jawa Barat. "Seratus persen bangunannya utuh," kata Kepala Posko Jenggala Handi Syahrandi menambahkan.

Selain itu, pembangunan rumah bambu ini tidak memakan banyak biaya. Lama waktu pembuatan rumah bambu juga tergolong singkat.

"Enam hari cukup. Kemarin sudah kita coba di Pangalengan, Jawa Barat," kata Handi.

Untuk melakukan perbaikan perumahan bagi korban gempa, pihaknya bekerjasama dengan pemerintah daerah setempat akan membangun rumah bambu.

"Satu minggu setelah Lebaran ada enam daerah, khususnya yang paling parah terkena gempa seperti Tasik dan Pangalengan akan mulai dibangun," pungkas Endy.

(mei/nwk)