Tampilkan postingan dengan label Dokter. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dokter. Tampilkan semua postingan

Jumat, 31 Desember 2010

Mau Jadi Dokter? Pakai Google Body Browser

Mau Jadi Dokter? Pakai Google Body Browser
Dengan browser medis 3D besutan Google, semua orang bisa belajar anatomi tubuh sendiri.
SENIN, 20 DESEMBER 2010, 16:39 WIB
Muhammad Chandrataruna

VIVAnews - Tidak puas dengan memata-matai denah rumah tetangga dengan Google Street View, kini Google mengembangkan sebuah browser baru yang memetakan seluruh bagian tubuh manusia.

Browser itu dinamakan Google Body Browser, sebuah aplikasi anyar nan canggih berteknologi 3D yang diusung Google ini disebut-sebut sebagai terobosan baru dalam studi anatomi yang dapat merevolusi pemahaman kita tentang tubuh manusia dan bahkan mungkin lebih cepat diserap ketimbang mengenalnya melalui buku atau teks.

Aplikasi ini belum dirilis secara resmi oleh Google. Mirip dengan aplikasi-aplikasi yang dikeluarkan sebelumnya, Google memungkinkan Anda menjelajahi anatomi tubuh dari berbagai sudut pandang sesuka hati, persis seperti Anda menjelajahi Bumi dengan Google Earth.

Sayangnya, sampai saat ini Google masih enggan buka mulut terkait pengembangan aplikasi canggih tersebut. Namun, baru saja muncul video di Internet yang memperlihatkan bagaimana aplikasi tersebut bekerja.

Di aplikasi ini Google juga sekaligus memperkenalkan teknologi Internet barunya yang disebut WebGL. Selain ringan, teknologi ini mampu menyuguhkan grafis 3D yang kompleks di atas halaman Web biasa, tanpa ada tambahan plug-in khusus seperti Java atau Flash.



Di dalam video, browser digunakan untuk membedah tubuh manusia per layer, mulai dari kulit, peredaran darah, jalur pencernaan makanan, dan sebagainya. Anda akan dibawa berwisata di dalam tubuh manusia dan mengidentifikasi organ, tulang, dan otot. Tubuh dapat diubah, dimanipulasi, dan dibuat telanjang untuk mengetahui organ apa berfungsi untuk apa, cara kerja masing-masing organ, dan hubungan satu organ dengan organ lainnya.

"Ini akan menjadi terobosan yang sangat baik. Bisa dibayangkan, potensi aplikasi ini dalam membantu studi anatomi sangatlah besar," kata salah seorang blogger yang menyaksikan demonstrasi Google Body Browser.

"Tahun lalu, saya mendapat kesempatan untuk mengerjakan aplikasi medis 3D untuk belajar tulang manusia. Setelah menyaksikan sendiri bagaimana aplikasi tersebut benar-benar membantu siswa saat belajar tulang, akhirnya saya menjual aplikasi Web3D itu untuk pendidikan kedokteran," ucapnya.

Jika Anda penasaran, Anda dapat mengunduhnya dari situs Google Body Browser dihttp://bodybrowser.googlelabs.com. Namun, untuk mencobanya Anda harus mempunyai browser Firefox atau Chrome yang telah mendukung WebGL. (Daily Mail)

• VIVAnews

Kamis, 18 Maret 2010

Pengakuan Sang Dokter Mengintip Dunia Kematian

Selasa, 26/01/2010 17:43 WIB

Pengakuan Sang Dokter Mengintip Dunia Kematian

Nurul Ulfah - detikHealth


img
Marry Jo Rapini (Foto: msnbc)
New York, Pengalaman mendekati kematian atau 'Near Death Experience' banyak diceritakan pasien pada dokter. Namun banyak dokter yang tidak percaya dan menganggapnya sebagai halusinasi atau efek rasa sakit. Tapi kini, pengalaman itu benar-benar dialami sang dokter.

Banyak orang yang mendeskripsikan 'Near Death Experience' sebagai keadaan antara hidup dan mati, dimana ada cahaya terang benderang, bertemu dengan sang Pencipta tapi diminta untuk kembali lagi ke dunia.

Mary Jo Rapini adalah psikolog klinis yang mengalami hal tersebut. Didampingi oleh Dr Jeffrey Long yang pernah melakukan studi terhadap 1.300 kasus 'Near Death Experience', Rapini menceritakan kisahnya.

"Saya banyak menangani pasien kanker dan mereka selalu bercerita tentang pengalamannya mendekati kematian. Tapi saya selalu menganggap cerita tersebut sebagai efek reaksi medis atau halusinasi," kata Rapini seperti dikutip dari MSN, Selasa (26/1/2010).

Hingga pada April 2003, kejadian itu ia alami sendiri. Menurut Rapini, saat itu ia mengalami pembengkakan pembuluh darah dan langsung dilarikan ke rumah sakit. Keadaannya sangat parah sampai harus berada di ruang gawat darurat selama 3 hari.

"Semua dokter langsung panik dan mengelilingi saya. Mereka memasukkan berbagai macam alat medis di tubuh saya dan menelepon suami saya," tutur Rapini.

"Hingga tiba-tiba, saya melihat sebuah cahaya yang sangat terang. Cahaya ini berbeda dari cahaya biasanya dan terus berkembang membesar. Lalu saya bertanya-tanya, cahaya apa itu? Saya pun memasuki cahaya itu," jelasnya.

Rapini pun masuk ke dalam terowongan cahaya itu. Menurutnya, di sana ia melihat ruangan yang sangat indah dan bertemu dengan Tuhan. Ia berkata saya tidak bisa tinggal dan harus kembali lagi ke dunia. Rapini kemudian protes.

"Kenapa saya tidak bisa tinggal disini? Padahal saya sudah menjadi istri dan ibu yang baik. Saya juga sudah merawat pasien kanker tiap harinya," ujarnya.

Menurut penuturan Rapini, sang Pencipta memintanya kembali ke dunia untuk melakukan hal yang lebih baik dari itu.

Pengalaman Near Death Experience yang diceritakan Rapini ternyata sama dengan pengalaman-pengalaman lainnya yang pernah dianalisa Dr Jeffrey Long.

"Ternyata hampir semua orang yang pernah mendekati kematian punya cerita yang sama, baik mereka pernah dengar sebelumnya atau tidak pernah," kata Dr Long.

Dalam buku karangannya yang berjudul 'Evidence of the Afterlife: Science of Near-Death Experiences', Dr Long menyebutkan beberapa tanda mendekati kematian, diantaranya bertemu dengan orang-orang yang lebih dulu meninggal dunia, ingatan-ingatan yang bertambah jelas, dan lainnya.

Menurut Long yang merupakan dokter onkolog radiasi dan juga menangani pasien kanker, sama seperti Rapini buku yang berhasil ia buat semakin memicunya untuk menjadi dokter yang lebih baik.

"Pengalaman-pengalaman itu mengubah pandangan saya sebagai dokter. Saya lebih percaya diri dalam menangani pasien, terutama pasien kanker. Saya menemukan bahwa kematian bukanlah akhir dari kehidupan, karena ada kehidupan lain setelahnya," jelas Long.

(fah/ir)