Tampilkan postingan dengan label Buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buku. Tampilkan semua postingan

Kamis, 04 Maret 2010

Tangkis Isu Kiamat 2012, Lapan Luncurkan Buku


Jumat, 11/12/2009 05:18 WIB
Tangkis Isu Kiamat 2012, Lapan Luncurkan Buku
Irwan Nugroho - detikNews

Bandung - Masyarakat dibuat resah oleh ramalan tentang datangnya hari kiamat pada 2012 setelah dirilisnya film "2012" garapan Rolland Emmerich. Seketika itu pula berbagai tanggapan muncul baik dari kalangan agama maupun ilmuwan.

Tidak mau ketinggalan, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) memberikan penjelasan tentang fenomena alam yang akan terjadi pada 2012 mendatang. Untuk itu Lapan menerbitkan buku yang diedarkan kepada para guru di sekolah-sekolah.

"Sebagai lembaga yang melakukan penelitian di bidang keantariksaan, Lapan tergugah untuk memberikan gambaran tentang fenomena alam yang akan terjadi pada tahun 2012 itu," kata Sri Kaloka Prabotosari, Kepala Pusat Pemanfaatan Sains Antariksa (Pusfatsainsa) Lapan dalam pengantarnya.

Buku yang terbit pada November 2009 itu berjudul "Fenomena Cuaca Antariksa". Buku dengan tebal 35 halaman itu merupakan kerjasama Lapan dengan penerbit Puspa Swara.

Sebelum sampai ke pertanyaan inti mengenai benarkah bumi akan hancur dalam tiga tahun lagi, buku itu awalnya berbicara mengenai cuaca antariksa. Cuaca di langit jauh itu sangat berbeda dengan di bumi seperti adanya hujan atau salju. Cuaca antariksa adalah sebuah kondisi di matahari, lapisan udara magnetorfer serta ionosfer.

Cuaca antariksa dipengaruhi oleh aktivitas matahari yang memancarkan miliaran ton partikel, plasma berenergi tinggi serta gelombang elektromagnetik. Pemahaman baru inilah yang ditawarkan Lapan untuk memahami peristiwa yang akan terjadi pada 2012 mendatang. Bahwa pada tahun keramat itu yang terjadi adalah perubahan cuaca antariksa akibat meningkatnya aktivitas matahari.

Aktivitas matahari sendiri bisa berwujud flare atau Corona Mass Ejection (CME). Flare didefinisikan sebagai ledakan di matahari yang memancarkan radiasi gelombang elektromagnetik seperti sinar X dan Y. Radiasi itu dapat mencapai bumi dalam waktu 8 menit. Sementara CME adalah lontaran massa korona matahari. Jika diamati, CME seperti letupan yang menyembur dari matahari.

Bagaimana memperkirakan terjadinya badai matahari tersebut? Dijabarkan di halaman 8, aktivitas matahari dapat diukur dari kemunculan sunspot atau bintik hitam di permukaan matahari. Semakin banyak sunspot berarti makin tinggilah aktivitas matahari. Peningkatan itu membentuk siklus yang =
rata-rata muncul tiap 11 tahun sekali.

Nah, pada 2012 kebetulan matahari sedang mengalami puncak siklusnya yang ke-24. Itu berarti, flare atau CME, seperti halnya siklus-siklus terdahulu, diperkirakan akan banyak terjadi. Hanya saja teknologi yang ada saat ini belum mampu memastikan kapan waktu persisnya.

Kalau begitu, pertanyaannya kemudian adalah seberapa kuat dampak cuaca ekstrem yang timbul dari badai matahari itu terhadap bumi nantinya? Apakah planet ini dan seluruh kehidupannya akan hancur lebur?

Menurut catatan, tulis buku tersebut, ledakan paling besar sepanjang pengamatan terhadap matahari pernah terjadi pada Oktober hingga November 2003. Namun, badai itu tidak menyebabkan bumi hancur seperti gambaran mengerikan yang disuguhkan oleh film 2012.

Namun, dalam peristiwa enam tahun silam tersebut, ledakan matahari memang mempengaruhi lapisan magnetosfer dan ionosfer di atas bumi. Teknologi buatan manusia yang mengudara di lapisan tersebut, misalnya satelit, juga terganggu. Sayang, tidak dirinci contoh-contoh kerusakan satelit dan =
gangguan komunikasi yang terjadi akibat badai matahari tahun 2003 itu.

"Flare dan CME dengan intensitas besar jika mengarah ke bumi akan berdampak pada kondisi magnetorfer dan ionosfer. Dampaknya di magnetosfer adalah badai magnetik yang dapat merusak jaringan listrik. Sedangkan akibat dinamika di ionosfer adalah menganggu sistem teknologi komunikasi dan navigasi buatan manusia," (halaman 27).

Bagaimana bila pada 2012 yang terjadi adalah super flare hingga menelan bumi yang ukurannya 1/13 ribu ukuran matahari? Dalam sejarah, belum pernah ada badai matahari yang maha dahsyat seperti itu. Bisa saja peristiwa itu terjadi, namun manusia di seluruh dunia belum bisa memprediksikannya.

"Terlepas dari isu kiamat 2012, cuaca ekstrem merupakan fenomena alam yang berdampak pada kehidupan manusia. Sekitar tahun 2012-2013, tingkat aktivitas matahari dapat memicu terjadinya cuaca antariksa yang ekstrem tersebut," tutup buku tersebut.
(irw/mad)

Penulis Buku Mystery of 2012 Tak Pernah Sebut Kiamat Pada 2012

Kamis, 26/11/2009 11:40 WIB
Penulis Buku Mystery of 2012 Tak Pernah Sebut Kiamat Pada 2012
Tya Eka Yulianti - detikBandung



Bandung - Film '2012' yang menimbulkan kontroversi di tanah air, rupanya menjadi topik menarik untuk diangkat dalam Peringatan 50 Tahun Pendidikan Geologi Unpad. Buku 'Mysteri of 2012' yang diduga sejalan dengan Film 2012 pun dibedah.

Hadir sebagai pembicara Editor Buku 'Mystery of 2010-Prediksi, Ramalan, dan Kemungkinan' Mehdi Zidan, peneliti dari Lapan Clara, Geolog dari BP Migas Awang Harun Satiana, Didit Haryo Wicaksono dari Greenpeace, dan Hervi Firdaus, perwakilan tokoh agama.

Peserta bedah buku yang mayoritas mahasiswa ini, terlihat antusias mengikuti bedah buku. Rata-rata mereka penasaran dengan isu kiamat 2012.

Editor Buku Mystery of 2012 - Prediksi, Ramalan dan Kemungkinan Mehdi Zidan menyatakan penulis buku 'Mystery of 2012' tidak pernah menyebutkan akan terjadi kiamat pada 2012 seperti yang saat ini banyak diperbincangkan.

"Dalam buku tersebut tidak pernah disebutkan bahwa pada 2012 akan terjadi kiamat. Mereka hanya menduga bahwa pada Desember 2012 akan ada sebuah fenomena besar dan dahsyat," ujar Mehdi pada acara bedah buku dalam acara Triple Junction, Peringatan 50 Tahun Pendidikan Geologi Unpad, di Auditorium Geologi, Jalan Diponegoro, Kamis (26/11/2009).

Buku tersebut terbit pada Juni 2009 dengan penulis Gregg Braden, Peter Russell, Daniel Pinchbeck, Geoff Stray, dan John Jenkins.

Dituturkan Mehdi, dalam buku tersebut dijelaskan dasar dugaan fenonema alam pada 2012 adalah berdasar perhitungan kalender suku maya.

"Kalender maya menggunakan siklus 26.000 tahun sekali. Dengan perhitungan 265 per tahun, berbeda dengan yang biasa digunakan 365 hari pertahun, maka tanggal 21-12-2012 merupakan pertemuan perhitungan tersebut," jelasnya.

Dikatakan Mehdi, penulis buku juga tidak mengetahui pasti kejadian apa yang akan terjadi. Namun ada beberapa dugaan yang dikemukakan seperti perubahan tatariksa, atau badai matahari.

Suku maya dijelaskan Mehdi, merupakan bangsa yang memiliki pencatatan waktu dan ruang, perubahan tatariksa, untuk perhitungan kalendernya.
(tya/ern)