Tampilkan postingan dengan label Bakteri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bakteri. Tampilkan semua postingan

Rabu, 12 Januari 2011

Usir Bakteri dan Virus SARS dan H1N1 di Helm

Rabu, 12/01/2011 15:43 WIB

Usir Bakteri dan Virus SARS dan H1N1 di Helm

M Luthfi Andika - detikOto

Gambar
Jakarta - Bakteri, jamur, bahkan virus yang hinggap di helm akan membuat helm lama-lama beraroma tidak sedap. Nah kini, ada alat yang bisa mengusir bakteri dan jamur agar enggan hinggap di helm kesayangan.

Sharp mencoba menyentuh kembali dunia otomotif melalui tehknologi terbarunya.

"Kami telah melakukan penelitian dan pengujian untuk membuat Plasmacluster Ion selama 10 tahun belakangan, dimulai sejak tahun 2000 hingga sekarang. Plasmacluster Ion kali ini kami buat untuk para pengendara motor yang menggunakan helm, yang dapat berguna untuk menghilangkan Bakteri dan jamur yang menjadi penyebab bau tidak sedap pada helm," ujar Naoko Yamaguchi Business Product Planning Dept. Health dan Evironmental System Group, Sharp Corp. Japan dalam jumpa pers di Hotel Indonesia Kempinski, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Rabu (12/1/2011).

Dengan penelitian dan survei yang dilakukan, Sharp yakin produk Plasmacluster Helmet Cleaner akan diterima sangat baik. Sharp bahkan mengklaim teknologi Plasmaclusternya bisa menangkal virus-virus ganas seperti SARS hingga H1N1.

"Target penjualan kami, 5.000 unit per bulan, kami percaya kerjasama yang kami bangun dengan Tarakusuma Indah sebagai produsen helm seperti INK, AGV dan lain-lain, mampu mencapai target," ujar Melianti, Home Appliances Product Manager PT. Sharp Electronics Indonesia.

Dengan harga jual sebesar Rp 599.000,- Plasmacluster Helmet Cleaner dapat
mengeluarkan 25.000 Ion positif dan negatif dan hanya memakan listrik sebesar 2 watt.

Penggunaan Plasmacluster Helmet Cleaner ini sangat mudah. Hanya dengan
menaruh helm di atas Plasmacluster Helmet Cleaner lalu menekan tombol on nya agar mengeluarkan ion, dan helm ditaruh pada saat malam hari atau selama 6-8 jam.

"Maka helm anda akan bersih dari Virus, bakteri, jamur, yang menjadi penyebab bau dan siap dipakai esok hari. selain itu penggunaan alat ini bisa mencapai 6-7 tahun pemakaian," tambah Melianti.

Sharp memang sengaja memperkenalkan produk Plasmacluster Helmet Cleaner ini di Indonesia, karena ini dilihat dari masyarakat Indonesia yang sangat menyenangi berkendara roda dua.

"Dilihat dari 10 tahun terakhir motor telah menjadi kendaraan yang prima untuk masyarakat dan ini merupakan suatu terobosan yang baik," ujar Direktur Marketing PT Tara Kusuma Indah (TKI) Henry Tedjakusuma.

( ddn / ddn )

Rabu, 15 Desember 2010

Ditemukan, Bakteri untuk Perbaiki Jalan Beton

Ditemukan, Bakteri untuk Perbaiki Jalan Beton
Tambalan buatan bakteri tersebut dilaporkan sama kuat dengan tambalan beton biasa.
JUM'AT, 26 NOVEMBER 2010, 11:16 WIB
Muhammad Firman

VIVAnews - Peneliti di Inggris siap memanfaatkan kemampuan bakteri yang mampu berkembang cepat untuk menutup lubang di jalan-jalan yang terbuat dari beton,

Setelah menyelesaikan penelitian panjang, ilmuwan asal University of Newcastle menyebutkan bahwa dalam waktu dekat mereka bisa menugaskan bakteri yang mereka teliti untuk melakukan hal tersebut.

Para ilmuwan mengoptimalkan microba kecil yakni BacillaFilla untuk memproduksi kerangka bakterial berbentuk batangan sangat keras yang diperkuat oleh kalsium karbonat dan ‘lem’ bakterial khusus.

Yang menarik, bakteria tersebut memiliki asal muasal yang sangat dekat dengan Bacillus subtilis, atau bakteri yang umum ditemukan di tanah.

Saat makhluk yang sudah dimodifikasi secara genetik tersebut bersentuhan dengan lubang atau celah yang memiliki pH tertentu pada beton, mereka akan berkecambah dan masuk ke dalamnya dan mulai berkembang biak. Pada titik tertentu, koloni bakteri yang sudah diprogram secara genetik itu akan menghancurkan diri sendiri agar tidak malah merusak beton yang bersangkutan.

Hasilnya, tambalan buatan bakteri tersebut dilaporkan sama kuat dengan tambalan beton biasa.

Jennifer Hallinan, salah satu peneliti University of Newcastle, Inggris menyebutkan, material yang dibuat oleh bakteri tersebut sangat berharga. Tidak hanya untuk jalanan, akan tetapi juga gedung-gedung. Khususnya bangunan yang sudah termakan usia atau diguncang gempa.

“Mencari cara untuk memperpanjang umur bangunan berarti kita bisa mengurangi dampak lingkungan dan mencari solusi yang berkesinambungan,” ucap Hallinan, seperti dikutip dari DailyTech, 26 November 2010.

Hallinan menyebutkan, tambalan beton dari bakteri itu juga sangat bermanfaat di kawasan di mana gempa sering mengancam dan memaksa otoritas setempat merubuhkan bangunan yang mengalmi kerusakan karena tidak ada cara mudah untuk memperbaiki keretakan dan membuat bangunan kembali kokoh.

Hasil temuan Hallinan dan timnya dipaparkan pada ajang Biology Conference. Catatan seputar penemuan tersebut dapat Anda download di sini.

• VIVAnews

Bakteri Bisa Dipakai untuk Penyimpan Data

Bakteri Bisa Dipakai untuk Penyimpan Data
Bakteri sanggup bertahan dari berbagai macam bencana yang dapat menghancurkan harddisk.
KAMIS, 9 DESEMBER 2010, 12:27 WIB
Muhammad Firman

VIVAnews - Ide menyimpan data di dalam bakteri sudah terlintas sekitar satu dekade terakhir. Pertimbangannya, bakteri yang paling sederhana sekalipun memiliki untaian DNA panjang yang bisa menyimpan enkripsi data.

Selain itu, secara alamiah, bakteri jauh lebih tahan terhadap kerusakan dibanding media penyimpanan elektronik manapun. Ia sanggup bertahan dari berbagai macam bencana yang dapat menghancurkan harddisk.

Reproduksi alami bakteri juga dapat dimanfaatkan untuk membuat duplikasi data dan menjaga integritas informasi yang disimpan. Ini juga membuat proses pengambilan kembali data dapat dilakukan dengan lebih mudah.

Berpedoman pada pemikiran tersebut, sekelompok peneliti asal The Chinese University of Hong Kong mencari cara bagaimana menyimpan data ke dalam DNA bakteri. Ternyata tidak sulit.

Pada bakteri, ada empat basis DNA yang bisa digunakan untuk membuat untaian DNA yakni Adenine (A), Cytosine (C), Guanine (G), dan Thymine (T). Artinya, penyimpanan akan menggunakan sistem angka basis empat.

Pada laporannya, seperti dikutip dari i09, 9 Desember 2010 peneliti memberi contoh mengubah kata “iGEM” ke dalam kode yang siap disimpan dalam DNA.

Mereka menggunakan tabel ASCII untuk mengonversi setiap huruf ke dalam nilai numerik misalnya i = 105, G = 71, dan seterusnya. Angka ini kemudian diubah menjadi penomoran basis 4 yakni 105 menjadi 1221, 71 menjadi 0113 dan seterusnya.

Angka basis 4 ini kemudian diubah ke dalam sistem DNA yang menggunakan kode A, T, C, dan G di mana A menggantikan angka 0, T menggantikan 1, C menggantikan angka 2, dan G pengganti angka 3. Jadi, kata iGEM disimpan di dalam DNA sebagai ATCTATTGATTTATGT.

Setelah data mentah siap, peneliti menyebutkan, beberapa algoritma bisa digunakan untuk menyingkirkan informasi repetitif atau redundan. Ini bukan hanya dapat menghemat ruang, banyaknya repetisi dalam untaian DNA secara biologis berpotensi membahayakan DNA dan bakteri tersebut. Berarti, penggunaan algoritma itu akan mengatasi dua masalah sekaligus.

Yang jadi masalah, untaian DNA tidak cukup panjang untuk menyimpan informasi kompleks seperti foto atau buku. Solusi terbaik adalah memecah data menjadi bagian-bagian kecil dan menyebarkannya pada sel yang berbeda.

Agar berhasil, peneliti membuat sistem yang memungkinkan pecahan-pecahan data diidentifikasi dan kemudian disusun ke dalam urutan yang benar. Untuk itu, mereka membuat tiga struktur bagian untuk seluruh DNA yakni header, message, dan checksum.

Header merupakan rangkaian sepanjang 8 bagian yang dibagi ke dalam empat level informasi yakni zona, kawasan, area, dan distrik yang memungkinkan setiap bagian dikembalikan ke dalam urutan yang tepat.

Setelah pesan yang membawa data sebenarnya dihantarkan, checksum menyediakan repetisi dari header awal yang berguna untuk mengontrol mutasi yang mungkin terjadi pada bakteri yang bersangkutan.

Setelah informasi dienkripsi dan ditempatkan pada banyak sel yang berbeda di bakteri, bagaimana cara pemilik data mengambil kembali data yang disimpan oleh bakteri yang bersangkutan?

Sebuah decrypter akan mengambil DNA dan menjalankannya pada sebuah teknologi yang disebut next-generation high-througput sequencing, atau NGS.

Tipe sequencing ini dapat menganalisa dan membandingkan banyak kopi dari sequence yang sama dan menggunakan modus terbanyak untuk mengetahui basis data mana yang benar dan data mana yang telah mengalami perubahan. Setelah itu, algoritma kompresi akan dibalikkan untuk mengembalikan data mentah ke dalam bentuk aslinya.

Langkah terakhir adalah menyusun kembali pecahan-pecahan data dalam urutan yang benar agar rangkaian DNA tersebut bisa diterjemahkan kembali menjadi data yang dapat digunakan.

Sampai tahap ini, data sudah disimpan dan mengalami enkripsi. Orang yang ingin membaca data tersebut membutuhkan formula yang mengetahui urutan yang benar dari header dan checksum. Tanpa formula tersebut, data yang ia miliki tidak dapat digunakan.

• VIVAnews

Rabu, 07 Juli 2010

Keampuhan Madu Membunuh Bakteri

Keampuhan Madu Membunuh Bakteri


VIVAnews - Madu merupakan produk multifungsi yang dihasilkan oleh lebah. Banyak sekali kegunaan dari madu sebagai obat atau sebagai produk kecantikan kulit wanita.

Namun, ada lagi khasiat madu yang tak kalah penting. Para ilmuwan seperti dikutip dari laman Times of India menyatakan terdapat bahan rahasia dalam madu yang mampu membunuh bakteri.

Mereka telah menemukan bahwa lebah membuat protein yang terkandung dalam madu yang dihasilkannya, disebut defensin-1. Protein ini bisa digunakan untuk mengobati luka bakar dan infeksi kulit, serta untuk mengembangkan obat baru yang dapat memerangi infeksi resisten antibiotik.

"Molekul dasar dari madu memiliki aktivitas antibakteri sebagai madu medis kelas satu, madu dipercaya berperan sebagai bahan pengobatan,” kata Sebastian AJ Zaat, seorang peneliti yang terlibat dalam pekerjaan dari Departemen Mikrobiologi Medis di Academic Medical Center di Amsterdam.

"Madu yang diturunkan dari komponen terisolasi memiliki nilai bagus untuk pencegahan dan pengobatan infeksi yang disebabkan oleh bakteri resisten antibiotik," katanya menambahkan.

Dalam proses penelitiannya, Zaat dan tim peneliti menyelidiki aktivitas antibakteri madu medis kelas satu dalam tabung reaksi terhadap panel resisten antibiotik, bakteri penyebab penyakit.

Mereka mengembangkan metode untuk selektif menetralkan faktor antibakteri yang ada pada madu dan menentukan kontribusi masing-masing antibakteri. Akhirnya, para peneliti mengisolasi defensin-1 protein, yang merupakan bagian dari sistem kekebalan tubuh lebah madu dan ditambahkan oleh lebah madu.

Setelah analisis, para ilmuwan menyimpulkan, sebagian besar sifat antibakteri madu berasal dari protein.

Informasi ini juga bisa bermanfaat bagi lebah penghasil madu, karena bisa dimanfaatkan sendiri oleh para lebah sebagai sistem kekebalan tubuh yang membuat mereka lebih sehat.

Studi ini telah diterbitkan dalam edisi cetak Juli 2010 dari FASEB Journal.

http://id.news.yahoo.com/viva/20100705/tls-keampuhan-madu-membunuh-bakteri-34dae5e.html

Rabu, 25 November 2009

Bakteri Juga Perlu Diberi Makan

Bakteri Juga Perlu Diberi Makan
RABU, 25 NOVEMBER 2009 | 10:14 WIB

KOMPAS.com - Anda mungkin sudah paham manfaat probiotik atau bakteri baik untuk kesehatan usus. Namun, tak banyak yang mengerti bahwa bakteri baik ini juga perlu nutrisi, yakni prebiotik.

Secara alamiah, usus kita dihuni oleh bakteri baik, misalnyaLactobacillus acidophilus dan L.bulgaricus, dan bakteri jahat, seperti bakteri patogen, virus, dan jamur. Bakteri-bakteri itu hidup dalam keseimbangan. Jika keseimbangan terganggu, misalnya akibat penggunaan antibiotik atau stres, sehingga bakteri jahat meningkat, maka kesehatan orang yang bersangkutan akan terganggu.

Seperti halnya organisme hidup lainnya, probiotik membutuhkan makanan. Prebiotik merupakan makanan yang sesuai bagi bakteri baik, tapi tidak cocok untuk bakteri jahat, sehingga bisa meningkatkan bakteri baik dalam usus. Kombinasi probiotik dan prebiotik untuk meningkatkan kesehatan tubuh disebut sinbiotik.

"Tanpa prebiotik, probiotik tidak akan bertahan lama atau melakukan fungsinya dengan baik," kata Gary Huffnagle, Ph.D, profesor penyakit dalam dan mikrobiologi dari Universitas Michigan. "Prebiotik akan menyediakan nutrisi yang dibutuhkan probiotik untuk tetap hidup dan menggandakan diri," kata penulis buku The Probiotics Revolution, ini.

Untuk meningkatkan jumlah bakteri baik dalam usus, konsumsilah serat yang mudah larut, seperti inulin dan fructo-oligosaccaharides (FOS). Makanan yang kaya inulin dan FOS antara lain asparagus, bawang putih, pisang, apel, serta gandum. Prebiotik secara alami juga terdapat pada biji-bijian, sayuran, dan buah-buahan. Produk olahan kedelai seperti tempe, tahu, dan tauco, kaya akan prebiotik.


AN

Editor: acandra

Sumber : Natural Solution

http://kesehatan.kompas.com/read/xml/2009/11/25/10142523/bakteri.juga.perlu.diberi.makan