Tampilkan postingan dengan label BATAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BATAN. Tampilkan semua postingan

Minggu, 16 Agustus 2009

Teknologi Pengecetan Radiasi

Teknologi Pengecetan Radiasi Lebih Ramah Lingkungan
SENIN, 20 APRIL 2009 | 15:40 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Teknologi radiasi nuklir ternyata dapat dipakai untuk meningkatkan kualitas dan efisiensi proses pelapisan permukaan. Pemanfaatan teknologi tersebut bahkan dinilai ramah lingkungan dan jauh lebih efisien dibandingkan dengan cara konvensional.

Radiasi yang dipakai dalam proses pelapisan produk industri adalah radiasi untraviolet (UV) dan berkas elektron. Komponen utama bahan kimia pelapis pada proses konvensional terdiri dari komponen pembentuk lapisan (film forming components) dan komponen pembantu (auxiliary components). Sedangkan bahan pelapisan dengan pemadatan secara radiasi terdiri dari resin (prapolimer/oligomer tak jenuh), monomer, dan aditif.

Uraian di atas merupakan bagian dari orasi Sugiarto Danu dalam rangka pengukuhannya sebagai Profesor Riset bidang Polimerisasi Radiasi di Gedung Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN), Jakarta, Senin (20/4).

"Proses pelapisan ini diaplikasikan untuk berbagai produk industri, misalnya bahan bangunan seperti cat, mebel, otomotif, peralatan rumah tangga dan barang-barang cetakan," kata Sugiarto yang adalah ahli peneliti utama bidang polimerisasi radiasi di BATAN.

Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa penggunaan teknologi radiasi ini tidak mencemarkan lingkungan karena bahan pelarut yang pelapisnya tidak menggunakan bahan pelarut yang mudah menguap sehingga menimbulkan pencemaran udara. Sedangkan efisiensinya, katanya, ditunjukkan dengan pemadatan yang sangat cepat sehingga kapasitas produksi jauh lebih besar.

Memasuki era globalisasi dan kesadaran yang semakin tinggi tentang pentingnya lingkungan, berhasil memberikan dorongan untuk meluaskan penggunaan teknologi ini di masa datang, ungkap Sugiarto yang judul orasinya Status dan Perkembangan Aplikasi Teknologi Radiasi untuk Pelapisan Permukaan berbagai Produk Industri di Indonesia.

Dengan pengukuhan ini, Sugiarto yang menjadi orang 260 dalam Komunitas Peneliti Nasional dan Professor Peneliti ke-38 di BATAN. Dua peneliti BATAN lain yang juga dikukuhkan sebagai Profesor Riset adalah Suriah Pinem di bidang Fisika Reaktor Nuklir sebagai orang ke-261 dan 39 dan Sigit untuk Bidang Teknik Kimia urutan ke-262 dan 40. Mereka dikukuhkan oleh Kepala LIPI selaku Ketua Majelis Pengukuhan Profesor Riset Umar Anggoro Jeni.


ONE

http://sains.kompas.com/read/xml/2009/04/20/15401245/teknologi.pengecetan.radiasi.lebih.ramah.lingkungan

Modal Dasar PLTN

Modal Dasar PLTN Sudah Dikuasai
Kepala SD berdedikasi dari daerah terpencil se-Indonesia mengunjungi Reaktor Serba Guna GA Siwabessy di Pusat Reaktor Serba Guna Badan Tenaga Nuklir Nasional di Pusat Pengembangan Ilmu dan Pengetahuan dan Teknologi, Serpong, Tangerang, Banten, Kamis (21/8).


SENIN, 20 APRIL 2009 | 19:10 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Guna mendukung pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Semenanjung Muria Jawa Tengah 2016 maka dibuatlah 3 unit reaktor riset, yang salah satunya adalah Reaktor RSG-GAS di Serpong. Dua kegiatan utama dalam Reaktor RSG-GAS tersebut adalah Manajemen Teras dan Fisika Reaktor.

Di balik kesuksesan dua kegiatan utama tersebut ada sosok Surian Pinem, yang hari ini (20/4) dikukuhkan menjadi Profesor Riset Bidang Fisika Reaktor Nukir bersama 2 peneliti Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) di Gedung BATAN, Jakarta (20/4).

"Optimasi reaktor RSG-GAS, merupakan modal dasar untuk menuju pada pemahaman dan penguasaan teknologi desain dan keselamatan teras reaktor PLTN pertama di Indonesia," kata Surian saat orasi ilmiahnya yang berjudul Litbang Manajemen Teras dan Fisika Reaktor RSG-GAS untuk Mendukung PLTN Pertama di Indonesia.

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa tujuan manajemen teras adalah membentuk konfigurasi teras berikutnya yang aman dan mewakili tujuan desain, seperti reaktifitas lebih yang cukup untuk satu siklus operasi. Sedangkan kegiatan litbang fisika reaktor meliputi faktor perlipatan efektif, nilai reaktifitas, batang kendali, fluks dan spektrum neutron, dan parameter kinetik.

"Dengan demikian, perhitungan fisika reaktor dan manajemen teras memegang peranan yang sangat penting dalam pengoperasian reaktor nuklir yang aman dan handal. Keduanya bisa dikatakan jiwa dari keselamatan teras reaktor nuklir," kata Surian.

Dengan pengukuhan ini Surian yang menjadi orang 261 dalam Komunitas Peneliti Nasional dan Profesor Peneliti ke-39 di BATAN. Dua peneliti BATAN lain yang juga dikukuhkan sebagai Profesor Riset adalah Sugiarto Danu di bidang Polimerisasi sebagai orang ke-260 dan 38 dan Sigit untuk Bidang Teknik Kimia urutan ke-262 dan 40. Mereka dikukuhkan oleh Kepala LIPI selaku Ketua Majelis Pengukuhan Profesor Riset Umar Anggoro Jeni.


ONE

http://sains.kompas.com/read/xml/2009/04/20/19100546/modal.dasar.pltn.sudah.dikuasai

BATAN Sudah Bisa Mengolah Limbah Nuklir

BATAN Sudah Bisa Mengolah Limbah Nuklir
Pusat tenaga nuklir Tihange sebagai pemasok kebutuhan listrik Belgia, 17 Juni 2006.


SENIN, 20 APRIL 2009 | 19:15 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Semenajung Muria Jawa Tengah tahun 2016 menimbulkan kekwatiran banyak pihak. Salah satu yang menjadi pusat perhatian adalah soal dampak limbah yang dihasilkan dari reaktor nuklir.

Persoalan ini ternyata telah ditangani oleh Sigit, peneliti Badan Peneliti Tenaga Nuklir (BATAN), Pusat Teknologi Bahan Bakar Nuklir (PTBN) Serpong yang hari ini (20/4) dikukuhkan sebagai profesor riset di Gedung BATAN, Jakarta. Proses daur ulang limbah tersebut dibacakan sebagai orasi ilmiah dengan judul Proses Kering Daur Ulang Bahan Bakar Nuklir dan Prospeknya di Indonesia.

"Daur ulang bahan bakar nuklir adalah suatu proses menggunakan kembali bahan bakar nuklir uranium dan plutonium yang diperoleh dari recovery bahan bakar bekas ke dalam reaktor sebagai tambahan produksi energi," kata Sigit.

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa daur ulang yang dilakukan pada kondisi kering, diartikan tidak menggunakan pelarut organik dan fase cair. Sedangkan olah bahan bakar nuklir itu sendiri adalah proses pemungutan kembali uranium dan plutonium dari bahan bakar bekas di mana kelongsong, hasil fisi, transuranium dan bahan terkontaminasi lainnya menjadi limbah radiaktif aktifitas tinggi.

Pemisahan uranium dan plutonium sangat sensitif karena plutonium merupakan bahan untuk membuat sengaja nuklir. "Indonesia tidak melakukan hal ini karena telah menandatangani perjanjian non proliferasi, di mana iptek digunakan hanya untuk maksud damai, bukan untuk persenjataan," ungkap Sigit.

Dengan pengukuhan ini Sigit yang menjadi orang 262 dalam Komunitas Peneliti Nasional dan Professor Peneliti ke-40 di BATAN. Dua peneliti BATAN lain yang juga dikukuhkan sebagai Profesor Riset adalah Sugiarto untuk Bidang Polimerisasi Radiasi sebagai orang ke-260 dan 38 dan Surian Pinem pada Bidang Fisika Reaktor Nuklir sebagai orang ke-261 dan 39. Mereka dikukuhkan oleh Kepala LIPI selaku Ketua Majelis Pengukuhan Profesor Riset Umar Anggoro Jeni.


ONE

http://sains.kompas.com/read/xml/2009/04/20/19153127/batan.sudah.bisa.mengolah.limbah.nuklir