Tampilkan postingan dengan label Atlantis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Atlantis. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 26 Februari 2011

Nusantara Memendam Atlantis?

Nusantara Memendam Atlantis?
Dianggap benua yang hilang, Atlantis memancing aneka spekulasi ilmiah. Fakta atau mitos?
JUM'AT, 25 FEBRUARI 2011, 19:39 WIB
Renne R.A Kawilarang, Elin Yunita Kristanti, Ismoko Widjaya
Gambaran Kota Atlantis yang hilang ditelan lautan (The Sun)

VIVAnews - Atlantis adalah misteri yang menggoda para ilmuwan, dan kaum spritualis untuk menelisik kembali peradaban maju manusia yang, konon, hilang. Setidaknya, ribuan buku telah ditulis ihwal legenda itu.

Pada mulanya adalah Plato (427-347 SM), filsuf Yunani, mencatat cerita soal benua hilang itu dalam dua karyanya, Timaeus dan Critias. Keduanya adalah karya terakhir Plato, yang ditulis pada 347 SM. Pada tahun sama pula Plato meninggal. Dikisahkan di kedua karya itu, Atlantis adalah kota dengan peradaban tinggi dan teknologi sangat maju.

Atlantis, kata Plato, punya kekuatan maritim dahsyat, dan berada di depan "Pilar-pilar Hercules." Tanahnya subur, rakyatnya makmur. Dia semacam surga di bumi, yang wilayahnya meliputi barat Eropa hingga Afrika. Plato mengatakan, Atlantis hadir sekitar 9.000 tahun sebelum mazhab Solon, atau 9.600 tahun sebelum zaman Plato hidup.

Kejayaan Atlantis, kata Plato, mulai pudar setelah gagal menguasai Athena, negeri para dewa dan dewi. Petaka menimpa Atlantis sehingga pulau itu hilang ditelan laut dalam hitungan hari. Para penghuni yang selamat pergi mencari tempat baru. Atlantis akhirnya menjadi "surga yang hilang."

Memang, banyak orang ragu pada cerita Plato yang mirip dongeng itu. Tapi, seperti dijelaskan Alan Cameron dalam buku "Greek Mythography in the Roman World" terbitan Oxford (2004), mitologi adalah tiang bagi budaya elit bangsa Yunani. Meski banyak yang meragukan kebenarannya, tapi kisah itu bisa jadi refleksi peristiwa tertentu di masa lalu.

Atlantis, misalnya, menjadi diskusi menarik setelah Zaman Pencerahan. Ada bantahan, parodi, hingga penjelasan ilmiah. "Tampaknya hanya di zaman modern orang-orang menganggap serius kisah Atlantis," tulis Cameron.

Ada yang menyebut cerita itu diilhami kisah masa lalu, seperti letusan Gunung Thera atau Perang Troya. Atau simak juga klaim bahwa Plato terilhami sejumlah peristiwa kontemporer di masanya, seperti runtuhnya dinasti Helike pada 373 SM. Atau, gagalnya invasi militer Athena atas Pulau Sisilia pada perang tahun 415-413 SM.

Di awal peradaban moderen, kisah Atlantis itu dihidupkan kembali oleh para penulis aliran humanis di era Renaissance Eropa. Salah satunya Francis Bacon, yang menerbitkan esei berjudul "New Atlantis" pada 1627.

Dalam tulisannya, Bacon melihat Atlantis sebagai suatu masyarakat utopis yang dia sebut Bensalem. Letaknya di pesisir barat benua Amerika. Penulis lain tak mau kalah. Olaus Rudbeck, melalui tulisannya pada 1679, beranggapan Atlantis berada di negara kelahirannya, Swedia. Negara itu disebut Rudbeck sebagai awal lahirnya peradaban, termasuk bahasa.

Ilmuwan kenamaan Inggris, Sir Isaac Newton pun unjuk pendapat. Pada 1728, penemu teori gravitasi itu menerbitkan karya berjudul "The Chronology of the Ancient Kingdoms Amended." Newton juga penasaran mempelajari penjelasan mitologis terkait Atlantis.

Meski tak menyinggung khusus Atlantis, Newton memaparkan peristiwa bersejarah di sejumlah tempat, yang punya masa gemilang mirip Atlantis versi Plato. Misalnya, kejayaan Abad Yunani Kuno, Kekaisaran Mesir, Asuriah, Babilonia, Kuil Salomo, dan Kerajaan Persia.

Mitologi Atlantis juga membuat rezim Nazi di Jerman terusik. Pada 1938, seorang pejabat tinggi polisi khusus Nazi, Heinrich Himmler, kabarnya membentuk tim ekspedisi ke Tibet. Soalnya, ada cerita Atlantis itu dibangun bangsa Arya, nenek moyang orang-orang Jerman. Misi itu gagal. Keyakinan Nazi itu belakangan diragukan sejumlah ilmuwan.

Jejak di Nusantara

Perburuan, dan spekulasi keberadaan Atlantis terus dicari sepanjang zaman. Sejumlah karya lahir, dan menunjukkan daerah tertentu diduga bagian dari 'Kejayaan yang Tenggelam' itu.

Indonesia juga masuk dalam daftar spekulasi para peneliti dan peminat mitologi Atlantis. Misalnya, Profesor Arysio Santos dari Brazil. Dia geolog dan fisikawan nuklir. Lalu, ada ahli genetika dari Oxford, Inggris, Profesor Stephen Oppenheimer. Keduanya menduga wilayah Indonesia memendam sisa-sisa 'Surga Yang Hilang' itu.

Santos menampilkan peta wilayah Indonesia dalam bukunya yang terbit pada 2005, "Atlantis: The Lost Continent Finally Found." Benua hilang itu kemungkinan berada di sebagian Indonesia dan Laut China Selatan, demikian keyakinan Santos. Dalam karya itu, dia mengklaim telah melakukan riset perbandingan, seperti kondisi wilayah, cuaca, potensi sumber daya alam, gunung berapi, dan pola hidup masyarakat setempat.

Dalam buku itu, dia berhipotesis, wilayah Nusantara dulunya adalah Atlantis. Bagi Santos, indikasi itu antara lain soal luas wilayah. Seperti dikatakan Plato, Atlantis “lebih besar dari gabungan Libya (Afrika Utara) dan Asia (Minor)”. Indonesia, oleh Santos, dianggap cocok dengan karakter geografi itu.

Video wawancara Santos di laman YouTube, menampilkan dia tak ragu bahwa Atlantis benar-benar ada, dan bukan sekedar mitos. Santos menjelaskan mengapa selama ini para ilmuwan gagal menemukan Atlantis, dan ragu akan keberadaan kota yang hilang itu. "Karena mereka mencarinya di tempat yang salah. Mereka mencarinya di Laut Atlantis," kata dia dalam wawancara di YouTube, seperti dimuat laman Hubpages.

Anggapan Atlantis berada di Samudera Atlantis, memang logis. Namun, itu bukan lokasi yang tepat. "Atlantis berada di Lautan Hindia [Indonesia], di belahan lain bumi," kata dia. Di belahan bumi timur itulah, peradaban bermula. Namun, kata dia, Samudera Hindia atau Laut China Selatan sebagai lokasi Atlantis hanya batasan. "Lebih pastinya di Indonesia," lanjut Santos.

Sebelum zaman es berakhir 30.000 sampai 11.000 tahun lalu, di Indonesia terdapat daratan besar. Saat itu permukaan laut 150 meter lebih rendah dari yang ada saat ini. Di lokasi itulah tempat adanya peradaban. Sementara, sisa bumi dari Asia Utara, Eropa, dan Amerika Utara masih diselimuti es.

Pulau-pulau yang tersebar di Indonesia dianggap sebagai puncak gunung, dan dataran tinggi dari suatu benua yang tenggelam akibat naiknya permukaan air laut, dan amblesnya dataran rendah di akhir Masa Es Pleistocene. Itu terjadi sekitar 11.600 tahun lampau. "Itu adalah rentang waktu sama dengan dipaparkan Plato dalam dialog ciptaannya saat menyinggung Atlantis," tulis Santos pada bagian pendahuluan di bukunya.

Berbeda dengan keyakinan para peneliti sebelum atau pada generasi Santos, dia pun optimistis bahwa Indonesia, yang disebut sebagai bekas peninggalan Atlantis, menjadi cikal bakal lahirnya sejumlah peradaban kuno.

Para penghuni wilayah yang selamat dari naiknya permukaan air laut dan letusan gunung berapi akhirnya berpencar mencari tempat-tempat. Mereka "pindah ke wilayah-wilayah yang kini disebut India, Asia Tenggara, China, Polynesia, Amerika, dan Timur Dekat," tulis Santos.

Penjelasan serupa juga dikemukakan penulis asal Inggris, Stephen Oppenheimer, dalam buku "Eden in The East: The Drowned Continent of Southeast Asia" (1998). Dia menulis suatu benua yang tenggelam akibat banjir bandang, dan naiknya permukaan air laut sekitar 7.000 hingga 14.000 tahun yang lampau.

Wilayah yang tenggelam itu berada di wilayah yang kini disebut sebagai Asia Tenggara. Oppenheimer menyebut benua tenggelam itu sebagai Sundaland. Para penghuni yang selamat saat itu lalu menyebar ke berbagai tempat hingga ke Eropa, membawa budaya dan pola hidup mereka. Itu sebabnya Oppenheimer berasumsi asal-usul ras Euroasia di Eropa bisa ditelusuri di Asia.

Oppenheimer pun yakin bahwa para penghuni Sundaland saat itu punya peradaban maju dari wilayah-wilayah lain. "Mereka sudah mengembangkan pola menyambung hidup, dari sekadar berburu binatang menjadi bertani, berkebun, mencari ikan, bahkan perdagangan melintas laut. Semua itu sudah dilakukan sebelum 5.000 tahun yang lampau," demikian penggalan asumsi dari Oppenheimer.

Sejarah selama ini mencatat induk peradaban manusia modern berasal dari Mesir, Mediterania dan Mesopotamia. Tetapi, menurut dia, nenek moyang dari induk peradaban manusia modern berasal dari tanah Melayu yang sering disebut Sundaland, atau Indonesia.

Apa buktinya? "Peradaban agrikultur Indonesia lebih dulu ada dari peradaban agrikultur lain di dunia," kata Oppenheimer dalam diskusi bedah bukunya di Jakarta, Oktober 2010. Tentu, pendapat ahli genetika dan struktur DNA manusia dari Universitas Oxford itu, memberi paradigma berbeda dari yang ada selama ini bahwa peradaban paling awal berasal dari Barat.

Berbeda dengan Santos, Oppenheimer tak langsung menyimpulkan Sundaland adalah Atlantis. Dia sendiri mengakui butuh penelitian lebih lanjut, dan berharap ada kerjasama dengan peneliti di Indonesia, untuk menjelaskan Sundaland adalah Surga yang Tenggelam itu. Tapi, Oppenheimer meyakini Sundaland di wilayah Nusantara itu punya peradaban sangat maju di masanya.

Ilmu semu?

Pendapat Santos dan Oppenheimer mengenai jejak Atlantis dan Indonesia sebagai bekas pusat peradaban itu di satu sisi mengundang pesona. Tapi tak semua pihak percaya atas klaim itu. Menariknya, justru ilmuwan Indonesia sendiri mengkritik pandangan dua pengamat asing itu.

Profesor Riset Astronomi dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Thomas Djamaluddin, meragukan cerita Atlantis itu. Bagi Djamaluddin, kisah Atlantis itu hanya sekadar cerita, dengan nilai ilmiah yang minim.

Dengan kata lain, penjelasan Atlantis yang dilontarkan para peneliti selama ini masuk dalam pseudosains, atau ilmu semu. "Ini bukan ilmiah. Ini pseudosains. Antara cerita dengan fakta ilmiah itu bercampur di sana," kata ilmuwan Indonesia, Thomas Djamaluddin, dalam perbincangan dengan VIVAnews beberapa waktu lalu.

Tapi kata Djamaluddin, Atlantis tak lebih dari sekadar cerita karangan Plato yang melegenda. "Kalau itu dijadikan fakta ilmiah sejarah geologi, Plato itu hanya berdasarkan pemahaman dia. Plato tak menyebutkan data," jelas Djamaluddin.

Peneliti lulusan lulusan Kyoto University, Jepang, itu juga menilai sejarah geologi tak memperlihatkan Indonesia adalah Atlantis. "Tulisan sejenis Santos ini sudah beredar lama. Itu hanya dugaan saja," ujarnya.

Bantahan lain, misalnya datang dari geolog senior dari BP Migas, Awang Satyana. Dalam satu acara bedah buku Santos, sekitar dua tahun silam, Awang mengatakan Santos tak mengajukan bukti dan argumentasi geologi.

Sundaland, kata Awang, adalah paparan benua stabil yang tenggelam 15.000 – 11.000 tahun lalu oleh proses deglasiasi akibat siklus perubahan iklim. “Bukan oleh erupsi volkanik. Erupsi supervolcano justru akan menyebabkan musim dingin dalam jangka panjang,” ujar Awang.

Bahkan soal migrasi manusia Sundaland ke sekujur bumi, kata Awang, berlawanan dengan bukti penelitian migrasi manusia modern secara biomolekuler.

Pakar geologi dari Universitas Padjajaran, Oki Oktariadi, mengingatkan dugaan lokasi Atlantis bukan hanya Indonesia. Ada banyak wilayah seperti Andalusia, Pulau Kreta, Santorini, Tanjung Spartel, Siprus, Malta, Ponza, Sardinia, Troy, dan lain-lain.

"Hasil penelitian terbaru oleh Kimura's (2007) menemukan beberapa monumen batu di bawah perairan Yonaguni, Jepang yang diduga sisa-sisa dari peradaban Atlantis atau Lemuria," demikian paparan Oktariadi dalam makalahnya yang berjudul "Benarkah Sundaland itu Atlantis yang Hilang?"

Walau kebenarannya masih diragukan, bagi Oktariadi, penelitian itu punya nilai positif bagi Indonesia. Setidaknya, negeri ini lebih dikenal di dunia internasional, khususnya di antara para peneliti di berbagai bidang. "Pemerintah Indonesia perlu menangkap peluang ini,” tulis Oktariadi. (np)

• VIVAnews

Sabtu, 20 Februari 2010

Ahli Geologi & Arkeologi Tegaskan Atlantis Tidak Ada di Indonesia

Sabtu, 20/02/2010 18:05 WIB
Ahli Geologi & Arkeologi Tegaskan Atlantis Tidak Ada di Indonesia
Didit Tri Kertapati - detikNews

atlan.org
Jakarta - Profesor Arysio Santos membuat buku 'Atlantis, The Lost Continent Finally Found' yang mencengangkan. Dirinya menyebut kalau Atlantis yang selama ini dicari adalah Indonesia.

Namun, tesis-tesis yang dikemukakan profesor Santos dalam bukunya dibantah oleh ahli Geologi dan Arkeologi.

"Benua peradaban Atlantis yang hilang tidaklah dimana-mana itu hanya sebuah fiksi. Tapi itu bisa dijadikan motivasi untuk mencari peradaban-peradaban masa lalu," ujar Ketua Ahli Ikatan Arkeologi Indonesia, Profesor Dr Harry Truman Simanjuntak, pada acara Seminar Nasional 'Indonesia Atlantis yang Sesungguhnya' di Museum Indonesia TMII, Jakarta, Sabtu (20/2/2010).

Menurut Harry, penelitian arkeologi menunjukkan manusia belum mampu memiliki kemampuan seperti yang digambarkan tentang peradaban bangsa Atlantis. Selain itu, kata Harry, tesis Santos dibuat berdasarkan cerita yang dibuat oleh Plato. Di mana cerita tersebut dipertanyakan kebenarannya hingga saat ini.

"Kita harus hati-hati dengan sumber cerita itu. Santos berangkat dari cerita yang sudah beribu-ribu tahun lalu, yang kebenarannya masih perlu diuji," jelasnya.

Senada dengan profesor Harry, ahli geologi Dr Awang Setyana juga menilai karya Santos tidak didukung fakta yang akurat.

"Tesis yang diajukan santos tidak mempunyai argumentasi dan bukti geologi,' jelas Awang.

Menurut Awang, Santos dalam bukunya bersandarkan hanya pada kontemplasi yang dilakukannya selama 10 tahun. Dalam buku Santos, kata Awang, tidak ada analisis empiris maupun bukti-bukti yang mendukung tesisnya.

"Santos menyebutkan 11.600 tahun yang lalu terjadi letusan gunung Krakatau. Menurut penelitian geologi, tidak ada bukti Krakatau pernah meletus 11.600 tahun yang lalu," terang Awang.

Awang menegaskan, kalau Atlantis tidak berada di Indonesia."Sangat diragukan Indonesia adalah benua Atlantis. Atlantis yang paling mungkin adalah kebudayaan tengah, kebudayaan Minoa karena pernah ada gunung meletus yang besar," tutupnya.
(ddt/mad)

Minggu, 06 Desember 2009

Atlantis Bawa Tujuh Astronot Kembali ke Bumi

Atlantis Bawa Tujuh Astronot Kembali ke Bumi
SABTU, 28 NOVEMBER 2009 | 08:24 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Pesawat ulang alik Atlantis telah kembali ke Bumi dengan mulus, Jumat (27/11), mengakhiri sebelas hari misi memberikan suplai perlengkapan ke stasiun ruang angkasa internasional (ISS). Pesawat mendarat pagi hari dalam cuaca cerah.

”Tidak bisa lebih cerah lagi,” ujar Komandan Charles Hobaugh. Pengontrol misi memujinya sebagai ”gambar sempurna” sebuah pendaratan. Kepulangan dua astronot merupakan kepulangan yang membahagiakan. Astronot Nicole Stott telah tiga bulan berada di ISS.

Adapun rekannya, Randolph Bresnik, saat berada di ruang angkasa, istrinya melahirkan anak kedua mereka pada akhir pekan lalu. Hobaugh dan krunya telah menggunakan waktu sekitar seminggu untuk memberikan perbekalan bagi ISS.

Mereka membawakan sejumlah perlengkapan dan melakukan tiga kali pekerjaan di luar pesawat untuk memperbaiki kerusakan minor, seperti pompa, giroskop, dan tangki penyimpan. Perlengkapan tersebut dinyatakan cukup untuk pemakaian selama 10 tahun. Stott merasakan gravitasi kuat untuk pertama kalinya sejak meluncur ke ISS akhir Agustus lalu.

Misi yang diembannya berlangsung sekitar 91 hari. Atlantis membawa kembali peralatan yang rusak yang berasal dari sistem daur ulang air. Sementara itu, astronot Timothy J Creamer, kosmonot Rusia, Oleg Kotov Oleg (tengah), dan astronot Japan Aerospace Exploration Agency, Soichi Noguchi, akan berlatih di luar Moskwa, Rusia, Jumat (27/11), sebelum berangkat ke ISS. (AP/ISW)


Editor: acandra

Sumber : Kompas Cetak

http://sains.kompas.com/read/xml/2009/11/28/08240138/atlantis.bawa.tujuh.astronot.kembali.ke.bumi

Atlantis Menuju Bumi

Atlantis Menuju Bumi
Pesawat ulang alik Atlantis melayang di bagian belakang segmen Rusia di Stasiun Ruang Angkasa Internasional setelah melepaskan diri dari ISS hari Rabu. Dijadwalkan Atlantis mendarat di Florida Jumat pagi.
    KAMIS, 26 NOVEMBER 2009 | 13:21 WIB

    CAPE CANAVERAL, FLORIDA, KOMPAS.com – Pesawat ulang alik Atlantis bertolak dari Stasiun Ruang Angkasa Internasional (ISS), Rabu (25/11) dan menuju bumi bersama salah satu astronot yang sudah tak sabar untuk menggendong putrinya yang baru lahir dan satu lagi yang sudah berpisah dari putranya selama berbulan-bulan.

    Sebelum memutuskan hubungan komunikasi dengan markas pusat kendali, pengarah penerbangan, Mike Sarafin, mengucapkan selamat Thanksgiving pada ketujuh awak pesawat tersebut dan berharap semoga mereka mendarat dengan mulus hari Jumat (27/11).

    "Kita akan mengamati semuanya dengan cermat hingga pesawat itu mendarat," jawab Komandan Charles Hobaugh.

    Atlantis meninggalkan ISS dan melayang sekitar 220 mil di atas Samudera Pasifik, timur laur Papua Nugini. Selama seminggu terakhir, para astronot mengisi stok dan melakukan pemeliharaan agar pos ruang angkasa itu bisa beroperasi selama lima hingga 10 tahun lagi.

    Astronot Nicole Stott, dalam penerbangan pulang setelah tiga bulan di orbit mengucapkan selamat tinggal pada lima koleganya yang akan tetap berada di stasiun ruang angkasa tersebut.

    "Senang bekerja bersama kalian," ucapnya lewat radio. "Saya diberkati dengan awak kapal yang mengagumkan, dan saya menantikan berjumpa lagi dengan kalian segera di bumi."

    "Kami akan merindukanmu," jawab astronot Amerika, Jeffrey Williams, yang baru melewati dua bulan dari misi enam bulannya di ruang angkasa. Seorang astronot Belgia di stasiun itu, Frank De Winne, yang akan pulang minggu depan menggunakan wahana Rusia juga mengucapkan selamat pada Stott. "Hati-hati di jalan," kata De Winne.

    Hari Kamis (26/11) merupakan hari ke-90 di angkasa luar bagi Stott, seorang insinyur berusia 47 tahun. Ia tiba di stasiun ruang angkasa itu pada akhir Agustus. Ia mengaku tak sabar untuk makan pizza bersama-sama dengan suami dan anaknya yang berusia 7 tahun.

    Astronot Randolph Bresnik juga tak sabar untuk pulang. Istrinya baru saja melahirkan anak keduanya, Abigail Mar Bresnik, Sabtu (21/11), di Houston, tak lama setelah sang astronot tersebut melakukan misi penjelajahan pertamanya di permukaan luar stasiun ruang angkasa (spacewalk).

    Beberapa jam setelah bertolak, para astronot itu mengeluarkan alat pengukur, yang panjangnya 30,5 m dan ujungnya berpancaran laser, untuk melakukan cek akhir sayap dan moncong Atlantis. Mereka harus memastikan bahwa lapisan pelindung panas di bagian itu tak rusak oleh meteorit mikro selama seminggu ini.

    Para astronot menghentikan pengamatan rutin itu untuk memeriksa katup yang tersumbat, yaitu bagian dari sistem pembuangan limbah air dari ulang alik. Pada hari itu hanya setengah dari timbunan urin dan hasil kondensasi bisa terbuang, dan markas pusat pengendali ingin mengetahui apakah katup itu tersumbat es. Namun tak ada keanehan yang ditemukan.

    Sarafin mengatakan bahwa walaupun bagian itu tak bisa dibersihkan, hal ini tak berpengaruh, kecuali pendaratan itu ditunda hingga Jumat depan. Salah satu solusi yang bisa saja dilakukan para awak kapal untuk situasi itu adalah dengan memakai kantong model-Apollo dan tidak memakai toilet.

    Untungnya, cuaca pendaratan diperkirakan baik untuk Jumat mendatang.

    Ruang muatan pesawat Atlantis - yang tadinya dipenuhi suku cadang ketika tiba di stasiun Rabu (18/11) minggu lalu - kini sudah kosong. Para astronot telah memasang semua peralatan itu selama tiga misi spacewalk, dan juga melalukan berbagai kegiatan untuk menjamin stasiun itu operasional hingga melampaui waktu pensiun 3 pesawat ulang alik NASA tahun depan.

    Kunjungan ulang alik berikutnya, dengan Endeavour, dijadwalkan bulan Februari depan.


    C17-09

    Editor: wsn

    Sumber : yahoo

    http://sains.kompas.com/read/xml/2009/11/26/13212082/atlantis.menuju.bumi

    Pesawat Ulang Alik Atlantis Kirim Suku Cadang ke Stasiun Antariksa

    Pesawat Ulang Alik Atlantis Kirim Suku Cadang ke Stasiun Antariksa
    SELASA, 17 NOVEMBER 2009 | 08:06 WIB

    CAPE CANAVERAL, KOMPAS.com - Pesawat ulang alik Atlantis milik Amerika Serikat dengan enam awak akhirnya diluncurkan, Senin (16/11) pukul 14.28 waktu setempat atau Selasa pukul 02.28 WIB dari Kennedy Space Center di Florida. Misi 11 hari Atlantis adalah memperpanjang usia pemanfaatan stasiun ruang angkasa internasional (ISS) yang akan selesai beroperasi tahun depan.

    Atlantis akan membawa berbagai suku cadang. Suku cadang itu di antaranya untuk instalasi antena dan tangki oksigen. Komandan Pesawat Atlantis Charles Hobaugh mengatakan, "Stasiun ruang angkasa sekarang menjadi kendaraan yang luar biasa. Kami hanya perlu menyediakan berbagai keperluan suku cadang untuk menjaga keberlangsungannya."

    Atlantis akan membawa pulang kru terakhir stasiun ruang angkasa tersebut, Nicole Stott. Memperpanjang usia pemanfaatan sebuah stasiun ruang angkasa merupakan salah satu rekomendasi dari sebuah panel yang menelaah program luar angkasa AS. Pemerintahan Barack Obama sedang mempertimbangkan perubahan anggaran sebesar 18 miliar dollar AS, sekitar setengah biaya yang digunakan untuk eksplorasi ruang angkasa.

    Selain Hobaugh, para awak lain dalam penerbangan Atlantis adalah pilot Barry Wilmore, insinyur penerbangan Randy Bresnik, beserta para astronot lain, yaitu Michael Foreman, Leland Melvin, dan Robert Satcher. (Reuters/NAW)

    Editor: wah

    Sumber : Kompas Cetak

    http://sains.kompas.com/read/xml/2009/11/17/08064024/pesawat.ulang.alik.atlantis.kirim.suku.cadang.ke.stasiun.antariksa

    Atlantis Awali Misi ke Stasiun Antariksa

    Atlantis Awali Misi ke Stasiun Antariksa
    SELASA, 17 NOVEMBER 2009 | 02:58 WIB

    FLORIDA, KOMPAS. com - Pesawat ulang-alik AS Atlantis telah meluncur dari Kennedy Space Center Florida, Senin (16/11) pukul 14.28 aktu setempat atau Selasa pukul 02.28 WIB. Pada misi kali ini, pesawat membawa enam astronot dalam misi mengirim suku cadang ke Stasiun Antariksa Internasional.

    Pesawat itu lepas landas dari tempat peluncurannya di Pusat Antariksa Kennedy dan mengorbit bumi dengan aman sekitar delapan setengah menit kemudian. Kru Atlantis akan melakukan misi selama 11 hari yang mencakup tiga jalan ruang angkasa astronot untuk memperbaiki dan merawat stasiun antariksa tersebut.

    Misi kali ini juga sekaligus menjemput Nicole Stott, astronot AS yang telah menyelesaikan tugas di stasiun antariksa internasional (ISS) tersebut. Stott telah bertugas di ISS sejak Agustus 2009.


    TOF

    Editor: tof

    Sumber : AFP

    http://sains.kompas.com/read/xml/2009/11/17/02580562/atlantis.awali.misi.ke.stasiun.antariksa.

    NASA Persiapkan Atlantis untuk Misi ke ISS

    NASA Persiapkan Atlantis untuk Misi ke ISS
    Pesawat ulang alik Atlantis dipersiapkan di Kennedy Space Center
      SENIN, 16 NOVEMBER 2009 | 09:31 WIB

      WASHINGTON, KOMPAS.com — Badan antariksa AS, NASA, mempersiapkan pesawat ulang alik Atlantis dan tujuh astronotnya untuk peluncuran pada hari Senin (16/11) waktu setempat. Atlantis direncanakan terbang ke stasiun ruang angkasa internasional (ISS) untuk mengirimkan beberapa suku cadang dan melengkapi struktur ISS.

      Peluncuran dijadwalkan pukul 02.28 dini hari waktu setempat (atau Selasa pagi pukul 03.28 WIB) dari Kennedy Space Center dekat Cape Canaveral, Florida.

      "Atlantis siap diluncurkan dan berada dalam kondisi yang bagus," ujar manajer peluncuran, Mike Moses, dalam konferensi pers yang ditayangkan stasiun televisi NASA, hari Minggu kemarin.

      Sementara Kathy Winters, pimpinan meteorologi peluncuran menyatakan bahwa cuaca di Kennedy Space Center diperkirakan akan sangat baik untuk peluncuran hari Senin. Hanya ada 10 persen kemungkinan cuaca bakal memburuk sehingga peluncuran harus ditunda.

      Dipimpin Kolonel Marinir Charlie Hobaugh, tujuh awak yang semuanya pria tiba hari Kamis di Kennedy Space Center dari Houston, Texas, basis mereka.

      Misi yang akan berlangsung 11 hari dan akan menjadi misi kelima dan terakhir pada tahun 2009 ini mengagendakan tiga spacewalks untuk memasang peralatan di bagian luar stasiun.

      Adapun pengiriman suku cadang ke ISS dirancang agar pos di luar angkasa itu tetap bisa berfungsi meski armada pesawat ulang alik dipensiunkan. Hingga September 2010 hanya direncanakan lima peluncuran pesawat ulang alik lagi sebelum semua pesawat dipensiunkan.

      Secara keseluruhan, misi kali ini akan mengirimkan suku cadang seberat 12.360 kilogram, termasuk dua gyroscopepengendali yang digunakan untuk menggerakkan stasiun.

      Editor: wsn

      Sumber : AFP

      http://sains.kompas.com/read/xml/2009/11/16/0931563/nasa.persiapkan.atlantis.untuk.misi.ke.iss