Tampilkan postingan dengan label Aktivitas Matahari. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aktivitas Matahari. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 25 Juni 2011

2012, Aktivitas Matahari Mulai Turun

2012, Aktivitas Matahari Mulai Turun
Para pakar yakin bahwa matahari sedang menuju ke masa nonaktif pertama sejak abad ke-17.
KAMIS, 16 JUNI 2011, 09:38 WIB
Muhammad Firman
Dari tiga penelitian yang baru-baru ini dipublikasikan, para pakar yakin bahwa siklus bintik matahari akan berkurang dan menuju ke masa nonaktif pertama sejak abad ke-17 lalu. (Antara/ Wahyu Putro A)

VIVAnews - Selama bertahun-tahun terakhir, ilmuwan memperkirakan bahwa Matahari akan mencapai solar maximum atau periode di mana lidah api dan bintik matahari akan mencapai aktivitas puncaknya di tahun 2012 mendatang. Namun belakangan, sejumlah kalangan memprediksi sebaliknya.

Dari tiga penelitian yang baru-baru ini dipublikasikan, para pakar yakin bahwa siklus bintik matahari akan berkurang dan menuju ke masa nonaktif pertama sejak abad ke-17 lalu.

Menurut pakar dari National Solar Observatory (NSO) dan Air Force Research Laboratory, tanda-tanda yang sudah tampak adalah hilangnya aliran semburan api, bintik-bintik yang memudar, dan penurunan aktivitas di kawasan kutub Matahari.

“Ini merupakan temuan yang sangat tidak lazim dan tidak diduga-duga,” kata Frank Hill, Associate Director Solar Synoptic Network NSO, seperti dikutip dari News24, 16 Juni 2011.

Namun demikian, Hill menyebutkan, faktanya, ada 3 penelitian menggunakan pendekatan yang sangat berbeda terhadap Matahari, menyimpulkan satu hal yang sama. “Ini merupakan indikasi yang sangat kuat bahwa siklus bintik Matahari akan menuju ke hibernasi,” ucapnya.

Seperti diketahui, aktivitas Matahari cenderung naik turun setiap sekitar 11 tahun. Solar maximum dan solar minimum yang masing-masing menandai perbalikan kutub mangnet Matahari terjadi setiap 22 tahun.

Para pakar kini menganalisa apakah periode non aktif ini merupakan Maunder Minimum, yakni periode di mana Matahari jarang memunculkan bintiknya dan bisa berlangsung selama 70 tahun. Sebelum ini, Maunder Minimum pernah terjadi pada tahun 1645 sampai 1715 lalu.

“Jika perkiraan kami benar, ini mungkin akan menjadi solar maximum terakhir yang akan kita lihat dalam beberapa dekade ke depan,” kata Hill. “Itu akan mempengaruhi berbagai hal, mulai dari penjelajahan angkasa luar sampai ke perubahan iklim di Bumi,” ucapnya.

Hasil temuan ketiga penelitian yang berbeda itu sendiri diumumkan pada pertemuan tahunan Solar Physics Division dari American Astronomical Society di New Mexico, Amerika Serikat. (eh)

• VIVAnews

Jumat, 11 Desember 2009

Aktivitas Matahari Juga Pengaruhi Perubahan Iklim

Aktivitas Matahari Juga Pengaruhi Perubahan Iklim
Merebut harapan dari matahari di pagi hari
    JUMAT, 11 DESEMBER 2009 | 10:17 WIB

    JAKARTA, KOMPAS.com — Pada 2006 Indonesia dituduh menjadi negara ketiga terbesar pencemar CO di atmosfer sehingga dituding sebagai salah satu penyebab utama perubahan iklim global. Untuk mengetahui emisi GRK, terutama konsentrasi CO di atmosfer, pada 2006 Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional terlibat dalam penelitian.

    Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim Lapan merintis pembuatan instrumentasi sistem sampling untuk meneliti konsentrasi CO secara horizontal dan vertikal. Uji coba vertikal dilakukan di Bandung, Jawa Barat, dan Watukosek, Jawa Timur, pada 2006.

    Penelitian dari Panel Ahli Antarpemerintah untuk Perubahan Iklim (IPCC) menunjukkan, konsentrasi CO tahun 2004 sebesar 378 ppm dan akan meningkat menjadi 714 ppm.

    ”Hasil analisis data lapangan menunjukkan, CO tidak berpengaruh signifikan pada pemanasan global. Analisis data menunjukkan, konsentrasi sekitar 400 ppm,” ujar Chunaeni Latief, Msc (61), yang dikukuhkan sebagai profesor riset di bidang optoelektronika dan aplikasi laser.

    Untuk melakukan penelitian itu, Chunaeni merancang bangun instrumen pemantau CO. Instrumen terdiri atas sistem ruas atas atmosfer dan sistem ruas Bumi sebagai penerima. Sistem ruas atas atmosfer atau gondola berbasis sensor Vaisala sebagai sensor CO terdiri atas sensor pengukur parameter atmosfer sistem, kontrol, dan pengirim data digital. Sistem ruas Bumi memproses pengukuran di atmosfer.

    Uji coba menunjukkan, instrumentasi ini dapat digunakan untuk penelitian horizontal jarak jauh parameter atmosfer lainnya dengan menyempurnakan sensornya dan menggunakan balon udara. Penelitian CO membuka peluang penelitian fenomena konveksi dan fenomena pendinginan di atmosfer atas akibat munculnya lapisan CO.

    Matahari berperan

    Kecenderungan terjadinya perubahan iklim global dewasa ini tidak hanya diakibatkan oleh aktivitas manusia, tetapi juga dipengaruhi aktivitas siklus Matahari. Dua faktor ini kini berjalan simultan.

    Demikian disampaikan Kepala Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim Lapan Thomas Djamaluddin dalam acara Pers Tour di Kantor Lapan Bandung, kemarin.

    ”Data empiris banyak yang menunjukkan, aktivitas Matahari, faktor kosmogenik, punya pengaruh kepada iklim. Mekanismenya masih menjadi perdebatan,” tutur profesor riset di bidang astronomi-astrofisik LIPI ini.

    Beberapa data menunjukkan adanya korelasi iklim dengan siklus Matahari. ”Ada pergeseran tekanan angin di daerah Pasifik yang terkait langsung dengan akivitas maksimum dan minimum Matahari. Sinar kosmik saat aktivitas Matahari minimum berpengaruh pada kondensasi awan,” tuturnya. (YUN/JON)

    Editor: wsn

    Sumber : Kompas Cetak

    http://sains.kompas.com/read/xml/2009/12/11/10172461/aktivitas.matahari.juga.pengaruhi.perubahan.iklim